Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret wisatawan liburan di pantai Bali
Potret wisatawan liburan di pantai Bali (IDN Times/Dewi Suci)

Di dunia yang selalu tekoneksi dan overstimulasi seperti saat ini, istirahat bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan. Bagi kaum milenial dan gen Z di Indonesia yang hidupnya dibentuk oleh digital fatigue (kelelahan fisik dan mental akibat penggunaan perangkat dan media digital secara berulang dalam waktu lama), tekanan kinerja yang konstan, dan rutinitas yang tidak teratur, istirahat tidak lagi bisa dilakukan kapan pun. Istirahat kini menjadi keputusan yang disadari, bentuk pertahanan diri, dan menjadi alasan untuk bepergian.

Pandangan ini menjadi salah satu sorotan dalam Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026 yang mengungkap perubahan signifikan sekelompok orang dalam memanfaatkan waktu mereka di luar aktivitas utamanya. Laporan tersebut juga menggali lebih dalam tentang kebutuhan akan istirahat, bagaimana mereka melakukannya, serta dampaknya dalam kehidupan kaum milenial dan generasi Z di Indonesia.

Penelitian tersebut dilakukan IDN Research Institute selama Februari-April 2025 dengan studi metode campuran yang melibatkan 1.500 responden, terdiri dari 750 milenial (usia 29-44 tahun per 2025) dan 750 gen Z (usia 13-28 tahun per 2025). Mereka berasal dari 12 wilayah dan kota besar di Indonesia, yaitu Jabodetabek, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, and Makassar.

Selengkapnya, simak pemaparan hasilnya berikut ini, yuk!

1. Sleep tourism dan istirahat sebagai prioritas perjalanan

Kebutuhan akan istirahat rupanya memicu kebangkitan sleep tourism atau wisata tidur, sebuah tren perjalanan yang menempatkan tidur dan pemulihan sebagai fokus utama. Banyak hotel dan resor merespons tren ini dengan menawarkan beragam layanan, seperti tirai gelap, kamar kedap suara, kasur berkualitas tinggi, dan interior yang menenangkan. Beberapa resor bahkan menawarkan meditasi dengan panduan, aromaterapi, dan ritual tidur yang dipersonalisasi.

Hal ini mencerminkan pergeseran budaya dan cara menghargai istirahat. Bagi milenial dan gen Z Indonesia, istirahat bukan lagi hal yang pasif dan jeda dari kebisingan, melainkan bersifat intensional (disengaja) dan restoratif (memulihkan), serta pemulihan aktif dari tuntutan kehidupan modern.

Selain itu, mereka juga mendefinsikan istirahat sebagai pengaturan ulang yang ampuh dan tindakan untuk mendapatkan kembali waktu, energi, serta kendali di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan dan tekanan untuk tetap produktif. Value atau nilai dari sebuah perjalanan (travel) juga berubah, tidak lagi dinilai dari seberapa jauh seseorang pergi, tetapi seberapa baik perasaan seseorang setelah perjalanan tersebut.

2. Hotel dan penginapan memiliki peran baru untuk kesehatan

Potret orang sedang tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Di beberapa wilayah Indonesia, seperti Ubud, Lembang, dan daerah pesisir terpencil, terlihat adanya peningkatan permintaan untuk wisata yang berfokus pada kesehatan. Hotel spa dan eco-lodge berbondong-bondong memadukan unsur budaya Indonesia dengan desain yang apik dan lingkungan yang menyehatkan. Para tamu tidak lagi sekadar memesan kamar, mereka mencari ruang untuk mengisi ulang tenaga, baik secara fisik, mental, maupun emosional.

Perhotelan mulai mengambil peran baru. Bukan lagi sekadar layanan dan kenyamanan, tetapi juga menciptakan pengalaman untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan emosional. Integrasi unsur-unsur kesehatan, seperti terapi aroma, pencahayaan sirkadian, dan zona tenang, menandakan pergeseran menuju model perhotelan yang dibangun di atas pemulihan dan perawatan.

3. Dari lokal ke regeneratif

Perjalanan atau travel yang dulunya dianggap sebagai pelarian, kini menjadi sesuatu yang lebih bermakna, terutama bagi generasi muda Indonesia yang mencari koneksi dengan budaya, dampak, dan makna. Sesuatu yang awalnya dianggap sebagai dorongan untuk pariwisata lokal, telah berkembang menjadi hal yang lebih berlapis, yakni komitmen terhadap regenerasi.

Tidak seperti sustainable travel (perjalanan berkelanjutan) yang fokusnya pada meminimalkan kerusakan, pariwisata regeneratif secara aktif berupaya memulihkan ekosistem, menghidupkan kembali ekonomi lokal, dan membangun kembali kepercayaan budaya. Bagi generasi milenial dan Gen Z, perjalanan menjadi tempat mereka menegaskan kepemilikan emosional. Tak hanya mendokumentasikannya, tetapi juga dengan mengkurasi dampak dan identitas.

Salah satu model yang paling menarik dari pergeseran ini adalah Potato Head di Bali. Selain memposisikan diri sebagai tempat yang ramah lingkungan, Potato Head telah mengadopsi pendekatan sistem regeneratif sejak 2017 dengan mengalihkan 99,5 persen sampahnya dari tempat pembuangan akhir, merancang ruang yang mendorong perubahan perilaku, dan bersama-sama menciptakan inisiatif pada komunitas yang jangkauannya melampaui properti tepi pantai mereka.

“Pendekatan regeneratif seharusnya terasa seperti bagian alami dari pengalaman. Dari gelas tumbler yang diterima tamu saat Tune-In, fasilitas yang terbuat dari bahan daur ulang di kamar mereka, hingga tur Follow the Waste, setiap titik sentuh dirancang untuk memicu percakapan. Ini bukan tentang memberi tahu orang-orang apa yang harus dilakukan, tetapi mengajak mereka untuk melihat sesuatu secara berbeda,” ujar Direktur Keberlanjutan di Potato Head, Amanda Marcella, melansir Indonesia Millenial and Gen Z Report 2026.

Dari dapur tanpa sampah, sistem pelacakan makanan bertenaga AI, hingga kolektif petani komunitas dan fasilitas pengelolaan sampah bersama dengan klub pantai lainnya, Potato Head memandang keramahtamahan sebagai sistem yang hidup, bersifat kultural, lingkungan, dan ekonomi.

Hospitality adalah tentang bagaimana anda membuat orang merasa seolah-olah mereka adalah bagian dari komunitas. Kami ingin dampaknya melampaui Potato Head, seperti mendirikan fasilitas pengolahan limbah lokal atau memikirkan kembali cara menanam dan menyajikan makanan, kami berfokus untuk membuat regenerasi berhasil dalam kehidupan nyata,” tutur Amanda.

4. Kesadaran berbasis design-led dan kebangkitan hospitality sebagai soft power

Potato Head Beach Club di Pantai Petitenget, Bali (unsplash.com/@ern)

Hal yang membedakan antara Potato Head dengan layanan hospitality lainnya adalah pendekatan soft power-nya. Alih-alih menerapkan aturan ekologi yang kaku, Potato Head mengajak tamu berpartisipasi melalui desain yang cermat dan pendalaman budaya.

Tamu menemukan isyarat sensorik yang halus melalui fasilitas yang terbuat dari bahan daur ulang, jamu, healing suara berbasis gamelan, dan bahkan sesi memungut sampah setelah meditasi. Titik sentuh ini tidak bersifat didaktik, karena dirancang untuk membangkitkan rasa ingin tahu, refleksi, serta hubungan baru antara waktu luang, dampak, dan identitas.

Bagi wisatawan muda, terutama yang fasih dalam penggunaan Instagram dan TikTok, model ini sangat cocok, karena bersifat imersif, penuh makna, dan melekat secara emosional, memadukan keberlanjutan dengan kisah lokal.

Keunikan lainnya adalah memasukkan unsur dagelan pada papan nama dari sebuah program. Dagelan sendiri merupakan bentuk komedi absurd khas Indonesia yang mengajak para tamu untuk terlibat dalam isu-isu lingkungan. Bukan melalui rasa bersalah, melainkan melalui kecerdasan dan pesona budaya.

5. TikTok menginspirasi, regenerasi membangun

Platform seperti TikTok memberikan informasi bagaimana sebuah destinasi ditemukan. Tagar seperti #ExploreIndonesia dan #HiddenGemIndonesia telah memicu lonjakan rasa ingin tahu berbagai tempat di Indonesia dan membuat wisatawan melakukan perjalanan secara spontan. Namun, seiring dengan viralnya sebuah tempat, muncul pula volatilitas (perubahan harga dari sebuah aset), dan hal yang sedang tren saat ini dapat menghancurkan ekosistem di masa mendatang.

Potato Head menawarkan penyeimbang terhadap dinamika ini. Studi tersebut juga menunjukkan setelah algoritma memudar, yang tersisa adalah desain yang bermakna, sistem yang transparan, dan pengalaman budaya yang mengakar. Dalam sebuah studi yang di dilakukan Booking.com pada 2024, sebanyak 73 persen wisatawan global menyatakan mereka ingin perjalanannya berdampak positif bagi komunitas lokal.

Di Indonesia, 62 persen Gen Z mengatakan mereka "sangat tertarik" dengan penginapan yang berfokus pada keberlanjutan, tetapi sebagian besar masih tidak tahu cara mengevaluasinya. Tempat seperti Potato Head menjembatani kesenjangan pengetahuan tersebut melalui pendidikan imersif, alih-alih instruksi eksplisit.

6. Bepergian sebagai kepulangan, bukan pelarian

Potret orang berlibur (pexels.com/Taryn Elliott)

Bagi milenial dan Gen Z Indonesia, makna dari sebuah perjalanan sedang bergeser. Regenerasi tidak hanya menawarkan pengalaman yang menyenangkan, tetapi juga menjanjikan hubungan yang lebih baik dengan tempat, orang, dan tujuan.

Dari kolektif agrowisata di Jawa Timur hingga slow travel lodge di Sumba, sebuah revolusi atau perubahan sedang berlangsung. Dalam paradigma baru ini, perjalanan bukan lagi bentuk pelarian, melainkan bentuk kepulangan. Ke tanah. Ke nilai-nilai. Ke tujuan.

Demikian hasil laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026 tentang pergeseran makna liburan di kalangan milenial dan Gen Z. Semoga informasi ini bermanfaat dan kamu bisa menemukan hal baik dari setiap perjalanan yang kamu lakukan, ya!

Editorial Team