Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kamu Harus Coba Wisata Seni di Yogyakarta?
ilustrasi pengunjung galeri seni (pexels.com/Beyzaa Yurtkuran)

Apakah Yogyakarta menjadi tujuan untuk menikmati liburanmu? Wilayah ini menawarkan tempat wisata hingga kuliner yang beragam dan menarik. Selain itu, nuansa kalem maupun keramahan masyarakatnya menjadi alasan lain yang membuat para pelancong betah.

Tempat wisata populer seperti Malioboro, Keraton Yogyakarta, Tebing Breksi, hingga deretan pantai di sisi selatan selalu ramai pengunjung setiap akhir pekan, terlebih saat liburan sekolah. Buat kamu yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda, gak ada salahnya mampir ke galeri seni, toko craft, atau menonton pertunjukan. Lantas, kenapa kamu harus coba wisata seni di Yogyakarta? Berikut ini alasannya.

1. Yogyakarta sebagai pusat budaya Jawa

Tari Bedoyo di Keraton Yogyakarta (commons.wikimedia.org/Victoria Lara Labaila)

Yogyakarta dikenal sebagai pusat budaya Jawa yang berakar dari Kerajaan Mataram Islam. Sedangkan seni merupakan bagian dari budaya yang mengekspresikan kreativitas dan imajinasi manusia dengan unsur keindahan. Wilayah ini juga menjadi Kawah Candradimuka bagi para seniman, kiasan untuk menggambarkan tempat menempa fisik dan mental agar menjadi pribadi yang kuat serta tahan banting.

Tradisi seni di Yogyakarta telah berlangsung berabad-abad dan terus diwariskan lintas generasi. Nilai budaya Jawa yang kaya pun turut berperan dalam perkembangannya, mulai dari estetika hingga filosofinya. Alhasil, seni di wilayah ini tetap lestari, tumbuh, dan eksis hingga kini.

2. Dapat menjumpai genre seni yang beragam

pameran seni rupa di Bentara Budaya Yogyakarta (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Kamu tidak akan bosan saat mencoba wisata seni di Yogyakarta, karena beragam genre dapat dijumpai di sini. Tak hanya itu, seni tradisional Jawa yang kental pun masih eksis. Tidak ketinggalan pula pertunjukan maupun pameran seni kontemporer yang lebih dinamis.

Seni rupa, pertunjukan, musik, kriya, hingga seni instalasi punya tempat masing-masing di Yogyakarta. Bagi pelancong yang baru pertama kali ke sini pun tidak perlu khawatir, karena banyak pilihan yang ramah untuk pemula. Keberagaman tersebut akan memberikan pengalaman yang berbeda bagi penikmatnya.

3. Banyak pilihan ruang dan waktu untuk menikmati kesenian

Ramayana Ballet Prambanan (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Bingung mau wisata seni di mana di Yogyakarta? Ada banyak tempat yang dapat dikunjungi dan menggelar pameran maupun pertunjukan rutin. Sebagian tempat berada dalam satu kompleks dengan wisata lainnya, sehingga kamu dapat melakukan lebih banyak aktivitas selain menikmati karya seni.

Bagi yang ingin menyaksikan seni pertunjukan wayang kulit, coba mengunjungi Museum Sobudoyo setiap Selasa malam dan Keraton Yogyakarta pada Rabu dan Kamis. Pertunjukan lain yang tidak kalah seru, ada Ramayana Ballet Prambanan dan Ramayana Ballet Purawisata. Jika ingin lebih merakyat, bisa menonton tari klasik, ketoprak tobong, dan jathilan yang biasanya berpindah-pindah tempat atau di desa wisata.

mural di kawasan Prawirotaman (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Kalau kamu lebih suka pameran seni rupa, dapat mengunjungi Museum Afandi, Jogja Gallery, Jogja National Museum, Cemeti Art House, dan masih banyak lagi. Kamu juga bisa mengunjungi tempat tertentu yang menjadi venue pameran temporer hingga mural yang menghiasi kota. Bahkan, mampir ke toko craft untuk membeli pernak-pernik maupun akesoris untuk oleh-oleh, juga menjadi bagian dari menikmati kesenian lho.

Seni musik pun bisa kamu jumpai di jalanan hingga festival internasional. Jangan heran kalau ada suara angklung diiringi alat musik lain di dekat lampu merah. Tidak hanya itu, masih ada acara Festival Kesenian Yogyakarta, Jazz Mben Senen, hingga Prambanan Jazz.

4. Kesenian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat

ilustrasi orang membatik (pexels.com/JENNI AGUSTINA)

Kesenian telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Yogyakarta. Kamu dapat menjumpainya dalam keseharian mereka, seperti pertunjukan dalam hajatan hingga perajin yang berkarya di rumahnya sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa seni bukan sengaja dibuat untuk wisatawan, melainkan tumbuh secara organik dari dalam masyarakatnya.

Batik menjadi salah satu bukti nyata bagaimana seni bertahan dan beradaptasi. Kamu bisa melihat adanya sejumlah kampung batik yang tersebar di berbagai penjuru kota. Sejak ratusan tahun lalu, batik bukan sekadar karya seni, tetapi motifnya pun mengandung filosofi, dan produknya bernilai ekonomi, bahkan diminati pasar lokal maupun internasional.

5. Pengalaman interaktif yang berkesan

ilustrasi jemparingan (commons.wikimedia.org/Ajeng Aisyah Fitria)

Wisata seni akan semakin seru dan berkesan, kalau kamu bisa mencoba atau berinteraksi secara langsung. Kalau sedang main ke kampung batik, gak ada salahnya mencoba membatik menggunakan canting atau mengamati prosesnya dari awal hingga akhir. Selain itu, ada pula sejumlah tempat yang menawarkan art activity hingga pottery class bagi yang ingin mengasah kreativitas dengan media tanah liat.

Ketika menyaksikan pertunjukan pun, para penari atau pemeran juga sering berinteraksi dengan para penonton untuk menghidupkan suasana. Demikian pula dengan seni musik, dari campursari, gamelan, hingga festival yang lebih meriah dan rutin digelar di sana. Hal ini akan memberikan pengalaman yang lebih personal dan berkesan untukmu.

Lebih dari itu, beberapa kesenian di Yogyakarta tidak mudah dijumpai di daerah lain, seperti jemparingan. Olahraga panahan tradisional Jawa ini juga menjadi bagian dari rekreasi masyarakat yang bernilai seni. Para pemanah mengenakan busana Jawa lengkap dan memanah dengan posisi duduk bersila atau bersimpuh bagi wanita.

Yogyakarta menawarkan wisata seni yang tidak hanya menarik untuk dilihat, tetapi juga memberikan pengalaman dan makna tersendiri. Dari pertunjukan di panggung megah hingga interaksi sederhana dengan perajin lokal, bisa kamu temukan di sana. Jadi, sudah siap untuk liburan ke Kota Budaya tersebut?


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article