Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan Pendaki yang Bikin Kebakaran Hutan, Wajib Tahu!

5 Kebiasaan Pendaki yang Bikin Kebakaran Hutan, Wajib Tahu!
ilustrasi kebakaran hutan (unsplash.com/Matt Howard)
  • Kelalaian manusia saat mendaki dapat memicu kebakaran hutan, terutama ketika musim kemarau membuat rumput, semak, dan daun kering sangat mudah terbakar.
  • Puntung rokok yang masih membara, api unggun yang tidak dipastikan padam, serta pembakaran sampah berisiko menyebarkan api melalui bara, abu, dan hembusan angin.
  • Penggunaan kompor di atas permukaan kering atau tidak stabil, serta flare dan kembang api untuk konten, dapat memicu api yang merusak kawasan hutan gunung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Keindahan alam gunung berhasil memikat siapa saja untuk menikmati kesegaran udaranya. Di balik pesonanya, ekosistem gunung memiliki kerentanan tinggi terhadap ancaman kebakaran hutan.

Kasus kebakaran hutan yang mengorbankan puluhan hingga ratusan hektar lahan dipicu oleh kelalaian manusia. Beberapa aktivitas kecil yang dianggap sepele malah menjadi awal dari bencana besar.

Supaya alam gunung tetap terjaga, inilah lima kebiasaan pendaki yang bikin kebakaran hutan yang wajib kamu hindari. Jangan sampai merusak alam hanya karena tindakan konyolmu, ya!

  1. 1. Membuang puntung rokok sembarangan

    ilustrasi puntung rokok di hutan
    ilustrasi puntung rokok di hutan (unsplash.com/Gabriel Almanzar)

    Kebiasaan merokok saat melewati jalur pendakian dianggap hal biasa oleh sebagian pendaki. Padahal, membuang puntung rokok sembarangan tanpa benar-benar memastikan bahwa apinya sudah mati dapat menyebabkan kebakaran.

    Di musim kemarau, rumput liar, semak-semak, dan daun berguguran di sepanjang jalur menjadi kering, sehingga mudah terbakar. Bara kecil yang masih menyala pada puntung rokok dapat memicu percikan api kecil begitu tertiup angin kencang. Percikan tersebut dapat menyebar dan membakar hutan dalam waktu singkat.

  2. 2. Mematikan api unggun asal-asalan

    ilustrasi api unggun di perkemahan
    ilustrasi api unggun di perkemahan (unsplash.com/Georgiana Pop)

    Membuat api unggun dapat menghangatkan tubuh dan suasana malam setelah seharian berjalan. Namun, masih banyak pendaki yang hanya menyiramkan sedikit air, lalu pergi meninggalkan area tersebut tanpa memastikan api sudah padam sepenuhnya.

    Di balik tumpukan abu dan arang, sering kali masih tersisa bara api. Ketika angin malam berembus, bara api bisa menyala kembali dan merembet ke vegetasi di area perkemahan.

  3. 3. Membakar sampah di area perkemahan

    ilustrasi membakar sampah
    ilustrasi membakar sampah (unsplash.com/Abhinay Tharu)

    Masih banyak orang yang menganggap bahwa membakar sampah di gunung adalah tindakan tepat untuk mengurangi sampah. Mereka mengira bahwa membakar sampah dapat mengurangi beban bawaan saat turun gunung.

    Sayangnya, niat seperti itu membahayakan lingkungan sekitar gunung karena abu beterbangan terbawa angin yang mudah terlempar ke area rumput kering. Bukannya meringankan beban bawaan, tindakan tersebut dapat menyebabkan kebakaran lahan.

  4. 4. Memasak di atas daun atau rumput kering

    ilustrasi memasak dengan kompor portabel
    ilustrasi memasak dengan kompor portabel (unsplash.com/Sage Friedman)

    Jangan meletakkan kompor di atas daun atau rumput kering, serta di permukaan tanah yang tidak rata. Kompor yang tidak stabil rawan tersenggol dan terguling saat digunakan.

    Jika kompor roboh, bahan bakar atau api yang menyala akan langsung bersentuhan dengan daun atau rumput kering di bawahnya. Oleh sebab itu, selalu utamakan landasan kompor yang stabil dan aman.

  5. 5. Menyalakan kembang api dan flare demi konten

    ilustrasi seorang pria bermain asap di area savana
    ilustrasi seorang pria bermain flare di area savana (pexels.com/Gregory-S)

    Demi membuat konten untuk media sosial, sebagian pendaki nekat membawa dan menyalakan flare, kembang api, serta bahan pemicu asap. Mereka tak memikirkan dampak negatif yang sangat tinggi dari penggunaan barang yang berinteraksi dengan api.

    Percikan api dari flare memiliki suhu tinggi dan sulit dipadamkan hanya dengan air biasa. Ketika percikan tersebut mengenai rumput, api akan langsung menyambar dan dapat merusak ratusan hektar kawasan hutan gunung.

    Mendaki gunung harus dilakukan dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Menghindari kebiasaan kecil yang menjadi pemicu kebakaran merupakan wujud kepedulian kita terhadap ribuan spesies flora dan fauna dari ancaman kehancuran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More