Mengenal Asuka-Fujiwara, Situs Warisan Dunia UNESCO Terbaru di Nara

Asuka-Fujiwara di selatan Cekungan Nara mencakup 19 situs arkeologi abad ke-6 hingga ke-8, bekas ibu kota kekaisaran Asuka dan Fujiwara.
UNESCO menetapkan Asuka-Fujiwara sebagai Warisan Dunia budaya pada Juli 2026, menjadikannya situs budaya dunia ke-22 Jepang setelah proses sejak masuk daftar sementara 2007.
Kawasan ini merekam pembentukan negara terpusat Jepang melalui istana, kuil, makam, taman, dan jam air, dengan pengaruh budaya China serta Semenanjung Korea.
Prefektur Nara di Jepang selama ini dikenal sebagai destinasi yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan rusa jinak. Daerah ini telah lama dikenal sebagai tempat kelahiran peradaban dan pusat sejarah dan spiritual tertua di Jepang. Lebih dari itu, Kota Nara sendiri pernah menjadi ibu kota permanen pertama di Negeri Sakura pada 710 Masehi.
Ternyata, masih ada sederet tempat bersejarah yang menarik di luar pusat Kota Nara, lho. Baru-baru ini Asuka-Fujiwara ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Penasaran ada apa saja di sana? Yuk, simak artikel ini sampai selesai!
1. Apa itu Asuka-Fujiwara?
Kawasan Asuka-Fujiwara dulunya merupakan ibu kota kekaisaran kuno Asuka dan Fujiwara. Di sini terdapat 19 situs arkeologi dari abad ke-6 hingga ke-8 yang tersebar di Desa Asuka, Kota Kashihara, dan Kota Sakurai. Lokasinya berada di bagian selatan Cekungan Nara, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Nara.
Sejumlah situs tersebut meliputi reruntuhan Istana Asuka dan Istana Fujiwara. Perlu kamu tahu bahwa keberadaan Istana Fujiwara untuk menggantikan Asuka sebagai pusat ibu kota kekaisaran. Selain itu, ada makam Takamatsuzuka yang terkenal dengan mural berwarna cerah yang ditetapkan sebagai Harta Nasional Jepang.
Sebenarnya, situs tersebut sudah masuk dalam Daftar Sementara UNESCO pada 2007. Setelah melalui proses panjang, Komite Warisan Dunia UNESCO menetapkannya dalam Daftar Warisan Dunia sebagai kekayaan budaya pada bulan Juli 2026. Hal ini menjadikannya Situs Warisan Budaya Dunia ke-22 di Jepang.
2. Tempat lahirnya negara terpusat Jepang

Maket Fujiwara-kyo berskala 1:1.000 yang disimpan di ruang referensi Fujiwara-kyo, Kota Kashihara. (commons.wikimedia.org/名古屋太郎) Asuka-Fujiwara berfungsi sebagai ibu kota kekaisaran sebelum istana pindah ke Heijokyo (Kota Nara modern), dan kemudian Kyoto. Pada era tersebut, geopolitik Asia Timur sangat bergejolak. Ekspansi pesat Dinasti Sui dan Tang di China mengancam sejumlah kerajaan tetangga di Semenanjung Korea dan kepulauan Jepang.
Sebagai salah satu cara untuk bertahan, Jepang berubah dari kumpulan klan yang longgar menjadi negara terpadu dan terpusat yang diatur oleh hukum kekaisaran. Saat proses tersebut berlangsung, terjadi interaksi budaya dengan daratan China dan Semenanjung Korea, termasuk masuknya agama Buddha. UNESCO menilai interaksi tersebut berdampak besar pada budaya generasi berikutnya.
Fujiwara-kyo, ibu kota pertama Jepang yang ditata dengan sistem grid, menunjukkan adanya pengaruh perencanaan tata ruang dari China. Berbeda dari ibu kota sebelumnya yang hanya berupa istana, kawasan ini dirancang sebagai kota yang mengelilingi istana. Tidak hanya itu, mural di makam Takamatsuzuka juga menampilkan pengaruh seni dari China dan Semenanjung Korea.
Seluruh perubahan itu meninggalkan jejak permanen yang beberapa bagiannya kini menjadi Situs Warisan Dunia. Peninggalan tersebut terpelihara dengan baik di bawah tanah, dikelilingi lanskap budaya yang masih alami. Berbeda dengan banyak situs bersejarah yang direkonstruksi dengan beton, keaslian Asuka-Fujiwara dilindungi oleh hukum nasional dan regional yang ketat.
3. Jejak istana dan pusat pemerintahan kuno
Kawasan Asuka menjadi rumah bagi Asuka Palace Site, yakni empat istana yang dibangun silih berganti pada abad ke-7. Situs ini menunjukkan bahwa pusat pemerintahan Jepang pernah berada di Asuka sebelum dipindah ke Fujiwara. Kamu bisa menjadikannya titik awal untuk memahami bagaimana sistem pemerintahan kekaisaran di Jepang mulai terbentuk.
Di sekitar istana tersebut terdapat Asuka Pond Garden Site, yang disebut sebagai sisa taman kuno tertua di Jepang. Ada pula Asuka Water Clock Site, bekas jam air pertama Jepang yang dipercaya dibangun atas perintah Pangeran Naka no Oe. Selain itu, Sakafuneishi Ritual Site juga masuk dalam kelompok situs istana dan pemerintahan.
Sementara itu, Fujiwara Palace Site merupakan pusat Fujiwara-kyo, ibu kota Jepang selama 16 tahun, dari 694 hingga 710. Luasnya sekitar 1 kilometer persegi dan dulunya terdiri dari balai utama (Daigokuden), balai negara (Chodoin), serta tempat tinggal kaisar. Kini tersisa tiang-tiang merah yang menandai fondasi aslinya dengan latar pemandangan Yamato Sanzan, tiga gunung ikonik di kawasan itu.
4. Temukan kuil dan makam peninggalan era Asuka

Kuil Asukadera (commons.wikimedia.org/Bakkai) Selain situs kompleks istana, kamu juga bisa menjumpai Asuka-dera, kuil Buddha pertama di Jepang yang dibangun secara penuh oleh Soga no Umako, tokoh berpengaruh pada masa Asuka. Pendiriannya berkaitan dengan masuknya agama Buddha ke Jepang. Di kuil ini terdapat Asuka Daibutsu, patung Buddha yang dibuat tahun 609 dan dianggap sebagai yang tertua di Jepang.
Ada pula Ishibutai Kofun, makam persegi besar yang diperkirakan milik Soga no Umako. Bilik batunya tersusun dari sekitar 30 batu raksasa dengan perkiraan bobot total mencapai 2.300 ton. Makam ini tercatat sebagai salah satu makam persegi terbesar di Jepang.
Satu lagi, Takamatsuzuka Kofun terkenal karena lukisan dinding berwarna di dalam bilik batunya yang berstatus Harta Nasional. Kamu tidak dapat melihat lukisannya secara langsung, tapi bisa menuju Takamatsuzuka Mural Hall di sebelahnya yang menampilkan replikanya dan tiruan bilik batu berukuran asli. Masih ada Kitora Kofun yang juga memiliki lukisan dinding, kini dilengkapi fasilitas pelestarian dan pameran khusus di Asuka Historical National Government Park.
5. Jelajahi Asuka-Fujiwara dengan bersepeda atau naik bus
Kamu bisa naik kereta dari Stasiun Kintetsu Nara menuju ke Asuka dengan beberapa kali transit. Dari pusat Kota Nara menuju ke Stasiun Yamato-Saidaiji, lalu pindah untuk menuju Stasiun Kashiharajingu-mae. Setelah itu, berganti kereta sekali lagi menuju ke Stasiun Asuka, total waktu tempuhnya sekitar 1 jam.
Sebagian besar objek utama di Asuka berada dalam radius sekitar 3 km dari Stasiun Asuka. Cara paling populer untuk menjelajahinya adalah dengan bersepeda. Kamu bisa menyewa sepeda kayuh atau sepeda listrik yang tersedia di dekat Stasiun Asuka, Kashiharajingu-mae, atau Okadera.
Agak berbeda kalau mau keliling Fujiwara Palace Site di Kota Kashihara, karena letaknya terpisah dari area Asuka. Kamu perlu menuju ke Stasiun Yamato-Yagi, lalu naik bus komunitas dan turun di Halte Kashihara Fujiwara-kyo Shiryoshitsu-mae, atau berjalan kaki sekitar 30 menit dari Stasiun Miminashi. Setelah itu, kamu bisa mengunjungi situs ini antara pukul 09.00–17.00.
Nah, sekarang kamu sudah tahu apa itu Asuka-Fujiwara dan peninggalan yang ada di sana. Kamu bisa menjadikannya itinerary saat liburan di Nara, terutama bagi pencinta sejarah. Gimana, kamu tertarik untuk mengunjunginya?




















