Maket Fujiwara-kyo berskala 1:1.000 yang disimpan di ruang referensi Fujiwara-kyo, Kota Kashihara. (commons.wikimedia.org/名古屋太郎)
Asuka-Fujiwara berfungsi sebagai ibu kota kekaisaran sebelum istana pindah ke Heijokyo (Kota Nara modern), dan kemudian Kyoto. Pada era tersebut, geopolitik Asia Timur sangat bergejolak. Ekspansi pesat Dinasti Sui dan Tang di China mengancam sejumlah kerajaan tetangga di Semenanjung Korea dan kepulauan Jepang.
Sebagai salah satu cara untuk bertahan, Jepang berubah dari kumpulan klan yang longgar menjadi negara terpadu dan terpusat yang diatur oleh hukum kekaisaran. Saat proses tersebut berlangsung, terjadi interaksi budaya dengan daratan China dan Semenanjung Korea, termasuk masuknya agama Buddha. UNESCO menilai interaksi tersebut berdampak besar pada budaya generasi berikutnya.
Fujiwara-kyo, ibu kota pertama Jepang yang ditata dengan sistem grid, menunjukkan adanya pengaruh perencanaan tata ruang dari China. Berbeda dari ibu kota sebelumnya yang hanya berupa istana, kawasan ini dirancang sebagai kota yang mengelilingi istana. Tidak hanya itu, mural di makam Takamatsuzuka juga menampilkan pengaruh seni dari China dan Semenanjung Korea.
Seluruh perubahan itu meninggalkan jejak permanen yang beberapa bagiannya kini menjadi Situs Warisan Dunia. Peninggalan tersebut terpelihara dengan baik di bawah tanah, dikelilingi lanskap budaya yang masih alami. Berbeda dengan banyak situs bersejarah yang direkonstruksi dengan beton, keaslian Asuka-Fujiwara dilindungi oleh hukum nasional dan regional yang ketat.