Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Perbedaan Sleep Tourism dan Staycation untuk Liburan
ilustrasi menginap di hotel (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Sleep tourism menjadikan kualitas tidur dan pemulihan sebagai tujuan utama, didukung fasilitas seperti peredam suara, pencahayaan ritme sirkadian, kasur suhu teratur, serta program relaksasi.
  • Aktivitas sleep tourism umumnya terstruktur, termasuk meditasi, yoga, spa, digital detox, pemantauan pola tidur, dan rekomendasi kebiasaan istirahat untuk membantu tubuh serta pikiran rileks.
  • Staycation adalah liburan di rumah atau lokasi dekat dengan aktivitas bebas, lebih praktis tanpa perjalanan jauh, dan memberi waktu rehat dari pekerjaan maupun rutinitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Liburan biasanya identik dengan mengunjungi tempat baru, mencoba berbagai makanan, atau membuat jadwal kegiatan dari pagi sampai malam. Namun, belakangan ini ada tren wisata yang justru menawarkan sesuatu yang lebih sederhana, yaitu beristirahat. Dua istilah yang cukup sering muncul adalah sleep tourism dan staycation.

Keduanya memang sama-sama bisa menjadi pilihan untuk melepas penat. Namun, sleep tourism dan staycation sebenarnya memiliki konsep yang berbeda. Lalu, apa bedanya sleep tourism dengan staycation?

1. Sleep tourism memang berfokus pada kualitas tidur

ilustrasi tidur (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Sleep tourism merupakan bentuk wisata yang menjadikan tidur dan kualitas istirahat sebagai tujuan utama. Jadi, wisatawan bukan sekadar menginap di hotel, melainkan memang datang untuk mendapatkan pengalaman tidur yang lebih baik. Hotel atau resor yang menawarkan konsep ini biasanya menyediakan berbagai fasilitas yang mendukung tidur. Misalnya, kamar dengan peredam suara, pencahayaan yang disesuaikan dengan ritme sirkadian, kasur dengan pengaturan suhu, hingga pilihan bantal.

Beberapa tempat juga menawarkan program tambahan, seperti meditasi, latihan pernapasan, yoga, hingga konsultasi tidur. Ada pula fasilitas untuk memantau pola tidur selama wisatawan menginap. Dengan begitu, tidur bukan sekadar bagian dari liburan, tetapi justru menjadi pengalaman utama yang ditawarkan.

2. Staycation lebih mengutamakan liburan tanpa bepergian jauh

ilustrasi menikmati staycation (pexels.com/Jonathan Borba)

Sementara itu, staycation adalah liburan yang dilakukan di rumah atau tempat yang tidak jauh dari tempat tinggal. Istilah ini berasal dari gabungan kata stay dan vacation. Sederhananya, seseorang mengambil waktu untuk berlibur tanpa harus melakukan perjalanan jauh.

Misalnya, kamu bisa memesan hotel di kota sendiri selama satu atau dua malam. Ada juga yang memilih tetap berada di rumah sambil menikmati waktu luang, menonton film, mencoba memasak, atau mengunjungi tempat wisata yang selama ini belum sempat didatangi. Karena tidak membutuhkan perjalanan jauh, staycation biasanya terasa lebih praktis. Kamu tidak perlu memikirkan tiket pesawat, perjalanan panjang, atau persiapan liburan yang terlalu rumit.

3. Aktivitas sleep tourism lebih terstruktur

ilustrasi spa (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Perbedaan sleep tourism dan staycation juga terlihat dari aktivitas yang dilakukan. Dalam sleep tourism, berbagai kegiatan biasanya dirancang untuk membantu tubuh dan pikiran memasuki kondisi yang lebih rileks sebelum tidur. Wisatawan mungkin mengikuti sesi meditasi, latihan pernapasan, spa, yoga, atau digital detox. Beberapa program bahkan menggunakan teknologi untuk memantau pola tidur dan memberikan rekomendasi terkait kebiasaan istirahat.

Sementara itu, aktivitas saat staycation jauh lebih bebas. Kamu bisa menghabiskan waktu dengan makan di restoran, berjalan-jalan di sekitar kota, berenang di hotel, membaca buku, atau bahkan tidur sepanjang hari. Tidak ada aturan khusus mengenai bagaimana waktu liburan harus dihabiskan. Intinya adalah menikmati waktu luang tanpa tekanan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.

4. Lokasinya juga bisa berbeda

ilustrasi menginap di hotel (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Sleep tourism biasanya dilakukan di hotel, resor, atau tempat peristirahatan yang memiliki fasilitas khusus untuk mendukung kualitas tidur. Lokasinya bisa berada cukup jauh dari rumah karena wisatawan ingin mendapatkan suasana yang berbeda dari lingkungan sehari-hari. Selain tempat yang nyaman, fasilitas khusus tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman sleep tourism.

Sebaliknya, lokasi bukan hal utama dalam staycation. Seseorang bahkan tidak perlu meninggalkan rumah untuk melakukan staycation. Jika ingin suasana berbeda, hotel di kota sendiri atau destinasi yang bisa ditempuh dalam waktu singkat juga sudah cukup. Hal ini membuat staycation menjadi pilihan yang relatif mudah dilakukan ketika seseorang hanya memiliki sedikit waktu luang.

5. Tujuan akhirnya sama-sama untuk beristirahat

ilustrasi tidur (unsplash.com/Kinga Cichewicz)

Meski memiliki konsep berbeda, sleep tourism dan staycation sebenarnya punya satu kesamaan, yaitu memberikan kesempatan untuk beristirahat dari rutinitas. Perbedaannya terletak pada cara mendapatkan pengalaman tersebut. Sleep tourism secara khusus merancang lingkungan dan aktivitas untuk membantu meningkatkan kualitas tidur. Sementara itu, staycation memberikan kebebasan kepada wisatawan untuk menentukan sendiri bagaimana mereka ingin menggunakan waktu libur.

Orang yang ingin meningkatkan kualitas tidur dan mencoba program khusus untuk mendukung istirahat bisa memilih sleep tourism. Sementara itu, staycation lebih cocok bagi mereka yang ingin rehat sejenak dari pekerjaan dan rutinitas. Apalagi, staycation tidak mengharuskan seseorang bepergian jauh atau membuat rencana liburan yang rumit.

Kesimpulannya, sleep tourism adalah tren wisata yang menjadikan tidur dan pemulihan sebagai tujuan utama. Pengalamannya dapat melibatkan fasilitas khusus, pemantauan tidur, meditasi, hingga program kesehatan yang berkaitan dengan istirahat. Sementara itu, staycation merupakan liburan di rumah atau lokasi yang dekat dengan tempat tinggal. Fokusnya lebih luas, yaitu menikmati waktu luang tanpa harus melakukan perjalanan jauh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article