Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Jepang Jadi Lokasi Terbaik untuk Sleep Tourism?

5 min read
Kenapa Jepang Jadi Lokasi Terbaik untuk Sleep Tourism?
ilustrasi menikmati sleep tourism (pexels.com/cottonbro studio)
  • Jepang menarik untuk sleep tourism lewat budaya inemuri dan tingkat keamanan relatif tinggi, yang membantu wisatawan merasa lebih nyaman beristirahat di ruang publik.
  • Shinrin-yoku atau mandi hutan menawarkan suasana alam menenangkan; penelitian di 24 hutan Jepang mencatat penurunan kortisol, denyut nadi, dan tekanan darah dibanding lingkungan perkotaan.
  • Ryokan minimalis, onsen, futon, serta teknologi tidur personal seperti sensor pemantauan dan bantal yang dapat disesuaikan, memperkuat pengalaman istirahat di Jepang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Liburan biasanya identik dengan jadwal yang padat, mulai dari jalan-jalan sejak pagi hingga mengeksplorasi berbagai tempat sampai malam. Alih-alih pulang dengan tubuh lebih segar, aktivitas yang terlalu padat justru bisa membuat badan semakin lelah.

Kondisi inilah yang membuat tren sleep tourism belakangan mulai banyak dilirik. Berbeda dari liburan pada umumnya, tren ini menjadikan istirahat serta peningkatan kualitas tidur sebagai bagian utama dari pengalaman wisata.

Buat kamu yang sedang merasa burnout dan ingin rehat total, Jepang bisa menjadi destinasi yang menarik untuk dicoba. Negeri Sakura ini tak hanya menyajikan kuliner enak dan destinasi ikonik, tetapi juga menawarkan perpaduan tradisi, keasrian alam, serta berbagai inovasi yang mendukung pengalaman istirahat.

Lantas, apa saja yang membuat Jepang menarik untuk sleep tourism? Yuk, simak lima alasannya di bawah ini!

  1. 1. Punya budaya inemuri dan tingkat keamanan yang tinggi

    ilustrasi tertidur
    ilustrasi tertidur (pexels.com/phuong nguyen)

    Jepang memiliki satu kebiasaan unik bernama inemuri yang berarti tertidur sejenak di tempat umum seperti kereta, kafe, atau ruang publik. Menariknya, kebiasaan ini punya makna sosial yang berbeda dari anggapan tidur saat beraktivitas di banyak tempat.

    Inemuri sendiri sering kali dikaitkan dengan seseorang yang tetap hadir dalam suatu aktivitas meski tertidur sejenak, bahkan bisa mencerminkan kelelahan setelah menjalani rutinitas yang padat. Kebiasaan tersebut juga menarik jika dikaitkan dengan pengalaman sleep tourism.

    Jepang dikenal memiliki tingkat keamanan yang relatif tinggi, sehingga wisatawan dapat merasa lebih nyaman saat beristirahat di berbagai ruang publik. Meski rasa aman bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas tidur, lingkungan yang tenang dan minim kekhawatiran tentu bisa membantu menciptakan suasana istirahat yang lebih nyaman.

    Pengalaman menikmati jeda tanpa harus terus-menerus merasa waswas inilah yang membuat budaya inemuri menarik untuk dilihat dari perspektif sleep tourism.

  2. 2. Efek menenangkan dari terapi alam shinrin-yoku

    ilustrasi menikmati alam
    ilustrasi menikmati alam (pexels.com/hyun jinoh)

    Jepang tak hanya menawarkan kamar hotel yang nyaman untuk beristirahat, tetapi juga punya cara yang unik untuk melepas penat di alam melalui shinrin-yoku atau mandi hutan. Praktik ini dilakukan dengan menghabiskan waktu di kawasan hutan sambil berjalan santai dan menikmati suasana sekitar.

    Dilansir dari penelitian yang diterbitkan dalam Environmental Health and Preventive Medicine pada 2010, aktivitas shinrin-yoku di 24 hutan Jepang bisa membantu menurunkan kadar kortisol, denyut nadi, dan tekanan darah dibandingkan saat berada di lingkungan perkotaan. Alhasil, dari penelitian tersebut, forest bathing atau shinrin-yoku memang bisa membantu menurunkan kadar kortisol sebagai salah satu penanda stres dalam jangka pendek, meski peneliti juga menyebutkan masih diperlukan penelitian lebih lanjut. Suasana hutan yang tenang semakin membuat shinrin-yoku menarik untuk menjadi bagian dari pengalaman sleep tourism.

    Setelah seharian memperlambat ritme dan menikmati alam, tubuh sekaligus pikiranmu bisa mendapatkan kesempatan untuk lebih rileks sebelum memasuki waktu istirahat.

  3. 3. Desain penginapan tradisional yang minimalis dan hening

    ilustrasi penginapan tradisional di Jepang
    ilustrasi penginapan tradisional di Jepang (pexels.com/Iban Lopez Luna)

    Saat menginap di ryokan atau penginapan tradisional Jepang, kamu bisa merasakan langsung filosofi wabi-sabi yang mengutamakan kesederhanaan. Kamar berlantai tatami, sekat kertas shoji, serta kasur futon menciptakan suasana khas Jepang yang sederhana sekaligus nyaman untuk beristirahat.

    Interior kamarnya pun biasanya jauh dari dekorasi berlebihan dan pencahayaan yang terlalu terang. Sentuhan material kayu, suasana yang tenang, serta pencahayaan lembut bisa membantumu menciptakan atmosfer yang lebih rileks sebelum tidur.

    Minimnya distraksi visual dan suara juga semakin membuat pengalaman menginap di ryokan terasa seperti memberi tubuhmu kesempatan untuk benar-benar memperlambat ritme setelah seharian beraktivitas.

  4. 4. Kombinasi onsen dan futon yang bikin tubuh rileks maksimal

    ilustrasi suasana onsen di Beppu, Jepang
    ilustrasi suasana onsen di Beppu, Jepang (pexels.com/Han Sen)

    Berendam di onsen atau sumber air panas alami menjadi salah satu pengalaman khas Jepang yang juga menarik dikaitkan dengan kualitas istirahat. Saat berendam dalam air hangat, suhu tubuh akan meningkat dan kemudian perlahan menurun setelah keluar dari air. Perubahan suhu tersebut berkaitan dengan proses alami tubuh dalam mengatur waktu tidur, sehingga berendam air hangat sebelum tidur bisa membantu menciptakan kondisi yang lebih rileks.

    Sensasi rileks setelah berendam onsen pun bisa dilanjutkan dengan beristirahat di atas futon tradisional. Kasur ini biasanya dibentangkan langsung di atas lantai tatami, menciptakan pengalaman tidur yang berbeda dari kasur modern pada umumnya.

    Perpaduan air hangat, suasana tenang, dan tempat tidur tradisional inilah yang membuat pengalaman menginap di Jepang terasa semakin mendukung momen istirahatmu setelah seharian beraktivitas.

  5. 5. Fasilitas sleep tech canggih yang dipersonalisasi

    ilustrasi tidur nyenyak
    ilustrasi tidur nyenyak (pexels.com/cottonbro studio)

    Bicara soal teknologi, Jepang juga mulai memanfaatkannya untuk menciptakan pengalaman tidur yang lebih personal. Salah satu contohnya adalah hotel Toyoko Inn yang menyediakan layanan pemantauan tidur menggunakan sensor yang dipasang pada tempat tidur. Sensor tersebut bisa mengukur data seperti detak jantung dan tekanan tubuh saat tamu tidur, lalu hasil analisisnya dapat dilihat melalui aplikasi hotel. Personalisasi lainnya juga bisa hadir melalui perlengkapan tidur.

    Salah satunya, Hotel 1899 Tokyo yang pernah menawarkan sleep journey dengan bantal khusus yang memiliki 14 tingkat penyesuaian ketinggian. Lebih dari itu, setiap tamu juga bisa memilih beberapa jenis bantal sesuai preferensi, mulai dari memory foam hingga perpaduan bulu dan bahan lainnya.

    Teknologi dan fasilitas tersebut membuat pengalaman sleep tourism di Jepang terasa lebih dari sekadar menginap. Waktu istirahat pun terasa lebih personal karena kamu bisa memahami pola tidur sekaligus menyesuaikan kenyamanan sesuai kebutuhan.

    Perpaduan tradisi, alam, dan teknologi membuat Jepang punya cara unik untuk menikmati liburan sekaligus memberi tubuh waktu untuk benar-benar beristirahat. So, tertarik menjadikan Jepang sebagai destinasi berikutnya untuk kamu bisa rehat total dan mengisi ulang energi?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More