Menggali Lembaran Waktu Masjid Utsman bin Affan di Al Balad

Masjid Utsman bin Affan di Al Balad tercatat sebagai masjid tertua di Jeddah, digunakan terus-menerus selama lebih dari 1.400 tahun sejak era Khalifah Utsman bin Affan.
Ekskavasi sejak November 2020 oleh Program Jeddah Bersejarah menemukan tiang kayu eboni dari tahun 33 Hijriah dan sistem tata air kuno yang menopang kawasan selama delapan abad.
Situs ini kini dilindungi sebagai Warisan Dunia UNESCO sejak 2014, menjadi simbol hidup sejarah panjang peradaban dan perkembangan kota Jeddah sebagai Gerbang Makkah.
Jeddah, IDN Times - Al Balad tidak pernah kehabisan cerita untuk dikupas, dan tidak pernah membosankan. Tiap kunjungan --entah itu untuk belanja atau wisata‐‐ selalu meninggalkan cerita tersendiri.
Kali ini saya menyambangi Al Balad dengan niat mencari oleh-oleh namun melalui jaur yang tidak pernah saya lalui sebelumnya, yakni Souq Al Dahab alih-alih Qabel street yang crowded itu.
Tiba-tiba saya teringat bahwa saya akan melintasi Masjid Utsman bin Affan. penasaran, tanpa diperintahkan kaki ini melangkah mulus ke sana.
Langkah saya terhenti tepat di depan sebuah pemandangan yang seketika mengubah orientasi dari sekadar mencari buah tangan menjadi sebuah observasi lapangan. Di balik temaram lampu sorot yang dramatis di tengah malam Jeddah, area ini lebih menyerupai laboratorium sejarah terbuka. Sebagai seseorang yang terbiasa menelaah masalah tata kelola dan pengawasan fasilitas publik, melihat langsung bagaimana otoritas setempat mengamankan situs galian ini dengan tumpukan karung pasir yang tertata rapi memberikan impresi tersendiri mengenai keseriusan preservasi warisan budaya Arab Saudi.
Tepat di hadapan saya, mencuat sebuah dinding batu kuno dengan ceruk mihrab berwarna putih. Lengkungan khas arsitektur klasik dan sisa-sisa inskripsi kaligrafi Arab yang menempel pada dindingnya seolah menolak untuk pudar dimakan usia.
Saksi lintas dinasti islam

Merujuk pada papan informasi resmi situs arkeologi yang terpasang di lokasi, masjid ini secara sah tercatat sebagai yang tertua di kota Jeddah. Menariknya, ini bukanlah sekadar reruntuhan mati yang ditinggalkan. Papan informasi tersebut menuliskan sebuah rekor yang mengagumkan: situs ini memegang rekor penggunaan secara berkelanjutan tanpa henti selama lebih dari 1.400 tahun hingga hari ini.
Sejarahnya ditarik mundur hingga awal abad ke-1 Hijriah (abad ke-7 Masehi), bertepatan dengan era Khalifah Utsman bin Affan. Kala itu, beliau menginstruksikan pemindahan pelabuhan utama ke Jeddah, menjadikannya titik persinggahan krusial bagi para jemaah haji dunia. Berdasarkan data dari plang ekskavasi tersebut, struktur bangunan yang memadukan batu karang pesisir (Hajar Al-Mangabi) dan kayu lokal ini terus berdiri melintasi pergantian banyak zaman—bertahan menyusuri periode Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyah, Ayyubiyah, hingga era Mamluk.
Apa saja hasil temuan Ekskavasi
Bila menggali informasi lebih dalam dari rilis resmi Program Jeddah Bersejarah (Historic Jeddah Program) yang bekerja sama dengan Komisi Warisan Budaya setempat, area di depan saya ini mulai diekskavasi secara komprehensif sejak November 2020. Proyek studi arkeologi ini tidak dilakukan untuk mencari bangunan yang hilang, melainkan secara hati-hati menyingkap lapisan-lapisan peradaban yang terpendam tepat di bawah struktur yang masih aktif digunakan ini.
Ada dua temuan monumental yang dikonfirmasi oleh studi arkeologi tersebut: pertama, analisis pada bagian mihrab menemukan material tiang penyangga dari kayu eboni yang, setelah diteliti, merujuk pada tahun 33 Hijriah (654 Masehi). Temuan inilah yang mengunci bukti keaslian usia masjid pada awal penyebaran Islam.
Lalu kediua, eskavasi di sekitar bangunan juga mengungkap keberadaan sistem tata air (water system) kuno yang tersembunyi di bawah permukaan, yang dalam catatan sejarahnya sempat menyokong kehidupan kawasan ini selama lebih dari 800 tahun.
Sebuah persinggahan di Gerbang Makkah
Meninggalkan area Souq Al Dahab malam itu, saya menatap kembali mihrab kuno tersebut sebelum melanjutkan langkah. Kawasan yang telah dilindungi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2014 ini memang membuktikan diri sebagai lebih dari sekadar deretan pasar tua tempat turis berburu parfum dan suvenir.
Al-Balad adalah sebuah museum hidup. Dan bagi siapa pun yang tanpa sengaja tersesat ke jalur yang benar seperti saya malam ini, Masjid Utsman bin Affan berdiri gagah sebagai pengingat tentang betapa panjangnya denyut nadi peradaban, persinggahan, dan tata kelola kota di "Gerbang Makkah" ini.

















