Jeddah, IDN Times - Al Balad tidak pernah kehabisan cerita untuk dikupas, dan tidak pernah membosankan. Tiap kunjungan --entah itu untuk belanja atau wisata‐‐ selalu meninggalkan cerita tersendiri.
Kali ini saya menyambangi Al Balad dengan niat mencari oleh-oleh namun melalui jaur yang tidak pernah saya lalui sebelumnya, yakni Souq Al Dahab alih-alih Qabel street yang crowded itu.
Tiba-tiba saya teringat bahwa saya akan melintasi Masjid Utsman bin Affan. penasaran, tanpa diperintahkan kaki ini melangkah mulus ke sana.
Langkah saya terhenti tepat di depan sebuah pemandangan yang seketika mengubah orientasi dari sekadar mencari buah tangan menjadi sebuah observasi lapangan. Di balik temaram lampu sorot yang dramatis di tengah malam Jeddah, area ini lebih menyerupai laboratorium sejarah terbuka. Sebagai seseorang yang terbiasa menelaah masalah tata kelola dan pengawasan fasilitas publik, melihat langsung bagaimana otoritas setempat mengamankan situs galian ini dengan tumpukan karung pasir yang tertata rapi memberikan impresi tersendiri mengenai keseriusan preservasi warisan budaya Arab Saudi.
Tepat di hadapan saya, mencuat sebuah dinding batu kuno dengan ceruk mihrab berwarna putih. Lengkungan khas arsitektur klasik dan sisa-sisa inskripsi kaligrafi Arab yang menempel pada dindingnya seolah menolak untuk pudar dimakan usia.
