Kalau kamu datang seminggu terlalu awal, daunnya bisa jadi masih hijau. Sementara kalau kamu telat seminggu saja, kemungkinan daunnya sudah rontok dan tinggal ranting. Oleh karena itu memilih waktu kunjungan yang tepat perlu dipikirkan lebih dulu. Berikut lima hal yang sebaiknya kamu ketahui kalau ini pertama kalinya ke Kyoto ketika musim gugur.
Panduan Wisata Menikmati Musim Gugur di Kyoto agar Tidak Salah Waktu

- Waktu daun merah di Kyoto berbeda antarwilayah; Kurama dan Ohara biasanya memerah lebih awal, sementara kawasan pusat ramai menjelang akhir November. Cek koyo atau momiji forecast sebelum berangkat.
- Susun itinerary per kawasan agar tidak habis waktu di perjalanan saat bus penuh dan jalan macet. Datang 15ā30 menit sebelum kuil buka untuk menghindari keramaian.
- Periksa jadwal dan tiket light-up malam di situs resmi kuil. Pesan hotel atau ryokan tiga hingga empat bulan sebelumnya karena November ramai dan harga meningkat.
Kalau kamu pernah melihat foto kuil Jepang dengan daun merah menyala di sekelilingnya hampir bisa dipastikan foto tersebut diambil di Kyoto saat musim gugur. Tapi keindahan itu cuma berlangsung beberapa minggu, lho.
1. Daun merah di Kyoto tidak berubah warna secara bersamaan

musim gugur di Kyoto (commons.wikimedia.org/663highland) Banyak orang mengira akhir November adalah waktu yang pas untuk melihat daun merah di seantero Kyoto. Kenyataannya, waktu di mana daun berubah warna bisa berbeda tiap kawasan karena kondisi suhu dan ketinggian tempatnya tidak sama. Kurama dan Ohara yang berada di bagian utara biasanya lebih dingin sehingga daun di sana bisa mulai merah satu sampai dua minggu lebih awal dibandingkan kawasan pusat kota.
Waktu berkunjung sebaiknya disesuaikan dengan tempat yang ingin didatangi. Pertengahan November bisa dipakai untuk menyambangi kawasan utara, sementara kuil-kuil di bagian tengah Kyoto biasanya mulai ramai didatangi menjelang akhir November. Perkiraan tahunannya juga bisa kamu cari terlebih dulu dengan menggunakan kata kunci koyo forecast atau momiji forecast di Google karena tanggal puncak daun merah dapat berubah beberapa hari setiap tahun.
2. Jangan menyusun itinerary yang menyebar ke mana-mana

Arashiyama (commons.wikimedia.org/lumoplank) Arashiyama di barat Kyoto dan Fushimi Inari di selatan memang sama-sama terkenal, tetapi sebaiknya jangan disambangi secara bersamaan. Jaraknya cukup jauh, sementara perjalanan bisa makin lama ketika bus penuh dan jalanan mulai macet karena ramainya wisatawan. Waktu yang tadinya mau kamu pakai untuk melihat momiji malah habis di perjalanan.
Lebih enak kalau satu hari dipakai untuk keliling satu kawasan saja. Misalnya, kamu bisa habiskan seharian di Arashiyama, sedangkan Kiyomizu-dera, Kodai-ji, dan beberapa kuil di Higashiyama bisa disambangi pada hari lain karena lokasinya berdekatan. Fushimi Inari juga bisa sekalian didatangi bersama tempat wisata lain yang masih berada di kawasan selatan Kyoto. Dengan begitu, kamu tidak perlu bolak-balik naik bus hanya untuk mengejar banyak tempat dalam sehari.
3. Datang pagi sebelum kuil mulai ramai

Tofuku-ji (commons.wikimedia.org/KimonBerlin) Tofuku-ji dan Kiyomizu-dera biasanya sudah ramai sejak pagi selama musim momiji, terutama ketika warna daun sedang bagus-bagusnya. Menjelang siang, jumlah pengunjung bisa jauh lebih banyak dan beberapa area terasa penuh. Waktu yang akan kamu gunakan untuk mengambil foto atau mengabadikan momen pun bisa ikut tersita karena harus menunggu orang lain lewat atau bergantian di tempat yang sama.
Kalau ingin suasananya lebih nyaman, datanglah sekitar 15ā30 menit sebelum kuil dibuka. Tofuku-ji, misalnya, biasanya mulai buka sekitar pukul 08.30 pada periode musim gugur tertentu. Jam buka tetap perlu kamu cek lagi di situs resmi kuil karena jadwalnya bisa berubah, terutama saat musim koyo.
4. Cek jadwal light-up kalau mau jalan-jalan ketika malam

Toji Temple light-up (commons.wikimedia.org/Raita Futo) Waktu musim koyo, beberapa kuil di Kyoto memang sengaja dibuka lagi pada malam hari. Eikando, misalnya, biasanya punya jadwal light-up sendiri, begitu juga Kodai-ji dan Kiyomizu-dera. Acara seperti ini cukup menarik dimasukkan ke jadwal perjalanan karena kamu bisa melihat tempat yang sama dengan suasana yang berbeda, tanpa harus mengorbankan waktu kunjungan ketika siang hari.
Jangan mengira light-up berlangsung setiap malam selama November. Masing-masing kuil punya tanggal dan jam sendiri, bahkan ada yang hanya berlangsung selama beberapa minggu. Tiket saat malam hari juga biasanya berbeda dari tiket masuk ketika siang. Kalau sudah tahu mau datang ke mana, cek jadwal light-up di situs resminya lalu sesuaikan dengan itinerary hari itu. Dengan begitu, kamu tidak perlu kembali ke kawasan yang sama hanya karena baru tahu ada light-up setelah itinerary selesai dibuat.
5. Pesan hotel jauh-jauh hari sebelum bulan November

Ryokan (commons.wikimedia.org/Asturio Cantabrio) November termasuk bulan yang ramai di Kyoto, terutama ketika daun mulai berubah warna. Kamar hotel di sekitar stasiun Kyoto, Gion, Higashiyama, dan kawasan populer lainnya bisa lebih cepat habis dibandingkan bulan biasa. Harga kamar juga bisa lebih tinggi ketika sudah mendekati akhir November. Kalau ingin punya lebih banyak pilihan, pemesanan sekitar tiga sampai empat bulan sebelumnya bisa dilakukan.
Ryokan juga sebaiknya dipesan lebih awal kalau kamu ingin merasakan menginap di penginapan tradisional Jepang. Pilihannya memang tidak sebanyak hotel biasa dan beberapa ryokan hanya punya kamar yang sedikit. Tiket Shinkansen juga bisa kamu urus setelah jadwal perjalanan sudah pasti, terutama kalau datang dari Tokyo atau Osaka dan bepergian pada akhir pekan. Kalau sekarang sudah awal Oktober dan rencananya pergi November tahun ini, jangan terlalu lama menunda untuk mengecek kamar dan transportasi.
Kalau sudah punya rencana ke Kyoto November nanti, mulai cek kondisi tempat yang ingin kamu datangi dari sekarang. Jadwalnya memang tidak bisa ditebak, tetapi sedikit persiapan bisa membuat kamu tidak salah memilih jadwal kedatangan. Semoga nanti kamu bisa melihat Kyoto saat musim gugur dengan warna merah yang memang sudah kamu tunggu-tunggu itu, ya.






















