Seiring waktu, kawasan tersebut mengalami berbagai perubahan hingga memiliki fungsi seperti sekarang. Selain menyimpan nilai sejarah, Kyoto Gyoen juga menjadi ruang hijau yang mendukung kehidupan berbagai tumbuhan dan satwa di tengah kota. Penasaran dengan fakta menarik di baliknya? Yuk, simak lima fakta Kyoto Gyoen National Garden berikut ini!
5 Fakta Kyoto Gyoen National Garden, Taman Bersejarah di Kota Kyoto
- Kyoto Gyoen awalnya merupakan permukiman bangsawan istana di sekitar Istana Kekaisaran Kyoto, terutama berkembang dari masa Azuchi-Momoyama hingga awal Zaman Edo.
- Setelah Kaisar Meiji dan bangsawan pindah ke Tokyo pada 1869, kawasan terbengkalai lalu ditata kembali sejak 1877 melalui pelestarian istana, pembongkaran kediaman, serta pembangunan fasilitas.
- Kini taman publik ini menampung sekitar 100.000 pohon, lebih dari 500 jenis tumbuhan, dan lebih dari 100 jenis burung, sambil mempertahankan peninggalan sejarah istana.
Kyoto dikenal sebagai kota yang menyimpan banyak peninggalan sejarah dan budaya Jepang. Di tengah suasana kota yang kental dengan nuansa masa lalu, terdapat Kyoto Gyoen National Garden, kawasan hijau luas yang memiliki cerita panjang. Tempat ini bukan sekadar taman, tetapi juga bagian dari kawasan yang dahulu berkaitan erat dengan kehidupan bangsawan istana.
1. Dulunya kawasan tempat tinggal bangsawan istana

Kyoto Gyoen National Garden (commons.wikimedia.org/Brakeet) Jauh sebelum menjadi taman terbuka seperti sekarang, kawasan Kyoto Gyoen merupakan area tempat tinggal para bangsawan istana di sekitar Istana Kekaisaran Kyoto. Seiring berkembangnya kawasan istana, berbagai kediaman bangsawan dibangun di sekitarnya. Pada masa Azuchi-Momoyama hingga awal Zaman Edo, kawasan ini semakin berkembang menjadi permukiman bagi para bangsawan istana.
Kawasan tersebut terdiri atas berbagai rumah dan kediaman milik keluarga bangsawan. Letaknya yang dekat dengan istana membuat area ini menjadi bagian penting dari kehidupan kalangan istana di Kyoto. Para bangsawan tidak hanya tinggal di sana, tetapi juga menjalankan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan istana.
2. Berubah drastis setelah ibu kota pindah ke Tokyo

Kyoto Gyoen National Garden (commons.wikimedia.org/Hyppolyte de Saint-Rambert) Perubahan besar terjadi pada tahun 1869 ketika Kaisar Meiji pindah dari Kyoto ke Tokyo. Kepindahan ini juga diikuti para bangsawan Kyoto, sehingga kawasan tempat tinggal mereka di sekitar istana perlahan terbengkalai. Area yang sebelumnya dipenuhi kediaman bangsawan pun mulai kehilangan fungsinya dan kondisinya semakin tidak terawat.
Melihat kondisi kawasan di sekitar istana yang semakin memprihatinkan, Kaisar Meiji pada 1877 memerintahkan upaya untuk melestarikan Istana Kekaisaran Kyoto dan menata kembali area di sekitarnya. Bekas kediaman bangsawan kemudian dibongkar, sementara jalan dan berbagai fasilitas baru dibangun untuk menata kawasan tersebut. Upaya ini menjadi awal perubahan yang kemudian membentuk Kyoto Gyoen seperti yang dikenal sekarang.
3. Punya ekosistem beragam di tengah kota

Kyoto Gyoen National Garden (commons.wikimedia.org/Another Believer) Di tengah kawasan perkotaan Kyoto, Kyoto Gyoen memiliki ruang hijau yang cukup luas dan beragam. Ekosistem yang ada saat ini terbentuk melalui penanaman dan pemeliharaan yang berlangsung sekitar 150 tahun, sejak proyek pelestarian kawasan pada era Meiji. Kini, terdapat sekitar 100.000 pohon dan lebih dari 500 jenis tumbuhan yang tumbuh di dalamnya.
Keberagaman tersebut juga terlihat dari lebih dari 200 pohon berukuran besar, seperti ginkgo, pinus hitam Jepang, dan muku. Beberapa di antaranya merupakan jenis vegetasi yang dahulu menjadi bagian dari lingkungan alami Kyoto dan kini semakin jarang ditemukan di wilayah kota. Berbagai tumbuhan tersebut juga membuat suasana Kyoto Gyoen berubah mengikuti setiap musim.
4. Habitat bagi beragam jenis burung

brown hawk-owl, salah satu burung yang ada di Kyoto Gyoen (commons.wikimedia.org/Tisha Mukherjee) Rimbunnya pepohonan di Kyoto Gyoen membuat kawasan ini menjadi habitat bagi beragam jenis burung di tengah Kota Kyoto. Lebih dari 100 jenis burung telah ditemukan di kawasan ini, termasuk burung yang menetap dan burung migran yang datang pada waktu tertentu. Pada musim semi dan musim gugur, Kyoto Gyoen menjadi tempat singgah bagi burung migran, sementara beberapa jenis lainnya memanfaatkan kawasan ini untuk berkembang biak.
Berbagai jenis burung dapat ditemukan di kawasan ini, mulai dari burung kecil hingga burung pemangsa seperti northern goshawk. Burung hantu seperti brown hawk-owl juga diketahui berkembang biak di Kyoto Gyoen. Dari lebih dari 100 jenis burung yang ditemukan, sekitar 21 jenis di antaranya diketahui berkembang biak di kawasan tersebut.
5. Kini menjadi ruang hijau publik bernilai sejarah

Kyoto Gyoen National Garden (flickr.com/Gilbert Sopakuwa) Saat ini, Kyoto Gyoen merupakan taman yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang dan terbuka untuk umum. Masyarakat dapat menggunakannya untuk berjalan-jalan, berolahraga, bermain, atau bersantai. Karena dapat dikunjungi secara gratis, kawasan ini menjadi ruang terbuka yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Meski digunakan untuk berbagai kegiatan sehari-hari, peninggalan sejarah di dalamnya tetap dijaga. Bangunan dan kawasan yang berkaitan dengan kehidupan istana masih dapat ditemukan hingga sekarang. Perpaduan antara peninggalan masa lalu dan aktivitas masyarakat membuat Kyoto Gyoen menjadi ruang hijau yang tetap memiliki nilai sejarah.
Dari sejarah panjang hingga keberagaman alamnya, Kyoto Gyoen menunjukkan bahwa sebuah kawasan bersejarah tetap bisa menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Perpaduan tersebut membuatnya menarik bukan hanya karena masa lalunya, tetapi juga karena perannya hingga saat ini.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















