Berbeda jauh dengan Ngawi di Indonesia, Ngawi di Selandia Baru merupakan sebuah desa nelayan kecil yang terletak di kawasan Cape Palliser. Nama “Ngawi” berasal dari Bahasa Māori yang berarti “rumput rumpun asli,” yang merujuk pada vegetasi alami yang tumbuh di kawasan tersebut.
Desa ini berada di pesisir laut yang berhadapan langsung dengan Cook Strait. Meskipun dikenal sebagai desa nelayan, Ngawi tidak memiliki pelabuhan. Kondisi ombak yang cukup kuat membuat para nelayan harus menggunakan cara unik untuk mengoperasikan perahu mereka.
Salah satu hal yang paling menarik dari desa ini adalah jumlah traktornya yang sangat banyak. Bahkan, Ngawi sering disebut memiliki jumlah traktor per kapita terbanyak di dunia. Traktor-traktor tersebut digunakan untuk menarik perahu nelayan keluar masuk laut dan memindahkannya ke daratan setelah selesai melaut.
Selain aktivitas perikanan, desa ini juga pernah menjadi pusat pengolahan lobster yang cukup terkenal di Selandia Baru. Hingga kini, hidangan laut seperti lobster dan abalone masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang datang.
Panorama alam di sekitar desa juga tidak kalah menarik. Kawasan pesisirnya dipenuhi bebatuan karang yang dramatis dengan latar pemandangan laut yang luas. Di dekatnya pun terdapat Cape Palliser Lighthouse yang menjadi salah satu ikon wisata di kawasan tersebut. Wilayah ini juga dikenal sebagai habitat koloni anjing laut berbulu yang sering terlihat beristirahat di tepi pantai.
Itu dia beberapa perbedaan Ngawi di Indonesia dan Selandia Baru yang menarik untuk diketahui. Meski namanya sama, keduanya memiliki latar belakang sejarah, bahasa, dan budaya yang berbeda. Yang satu dikenal sebagai daerah agraris dengan sawah luas dan sejarah panjang sejak masa Majapahit, sedangkan yang lainnya merupakan desa nelayan kecil dengan panorama laut yang khas.