- Puppet Can’t Control You
- The Beginning
- Save Yourself
- NASTY
- Renegades
- Party’s Over
- Tiny Pieces
- Wherever You Are
- Make It Out Alive
- C.U.R.I.O.S.I.T.Y
- Dystopia
- Dellusion:All
- Stand Out Fit In
- Kimishidai Ressha
- Pilot </3
- +Matter
- We Are
Trip Konser ONE OK ROCK yang Sarat Makna di Balik Euforia

Bisa menonton langsung penampilan musisi favorit menjadi keinginan para penggemar. Langkahnya tidak mudah, mulai dari war tiket, merencanakan perjalanan, penginapan, dan tentu kebutuhan logistik saat konser. Demikian pula dengan penulis yang kali ini mendapatkan kesempatan menonton konser ONE OK ROCK di Indonesia Arena pada Sabtu (16/05/2026) lalu.
Band rock asal Jepang tersebut menjadikan Jakarta sebagai pemberhentian terakhir untuk konser world tour bertajuk “DETOX” sebelum akhirnya mereka melakukan encore di Negeri Sakura. Mau tahu seperti apa keseruannya? Berikut ini rangkaian perjalanan penulis untuk menonton konser ONE OK ROCK.
1. Syahdunya Stasiun Semarang Tawang setelah hujan

Penulis mengawali perjalanan dari Stasiun Solo Balapan menuju Stasiun Semarang Tawang pada Jumat (15/05/2026) sore. Kereta Api (KA) Banyubiru Ekspres keberangkatan pukul 17.50 dan dijadwalkan tiba pada 20.02. Sengaja tidak memilih rute direct Solo–Jakarta untuk menghemat bujet.
Perjalanan awalnya terasa lancar, tetapi sebuah kejadian tidak terduga terjadi di Gerbong Ekonomi 3. Pintu bagian untuk mengontrol kelistrikan dan AC terlepas. Beruntung, tidak sampai mengenai penumpang dan seorang petugas Facility Care berada di gerbong yang sama.
Di sisi lain, setengah perjalanan cuaca berawan, kemudian berubah menjadi hujan deras. Ketika tiba di Stasiun Semarang Tawang, tampaknya hujan sudah lama reda, menyisakan hawa sejuk dan jalanan yang masih basah tanpa genangan. Penulis masih punya waktu sekitar 3 jam untuk mengeksplorasi sekitar stasiun, sebelum melanjutkan perjalanan.
2. Singgah sejenak untuk wisata malam di Kota Lama Semarang

Suasana lebih nyaman untuk berjalan kaki dari Stasiun Semarang Tawang ke Kota Lama. Jaraknya hanya beberapa ratus meter untuk sampai di kawasan tersebut. Keramaian akan tampak saat berada di sekitar K3Mart, Marba, Gereja Blenduk, Taman Srigunting, dan sekitarnya.
Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan di sini seperti kulineran, sekadar nongkrong bareng teman, hunting foto, hingga melihat musisi jalanan unjuk kebolehan. Tersedia berbagai pilihan untuk kuliner, mulai dari restoran berkelas, tempat makan dessert, area untuk produk UMKM, maupun street food lokal yang terjangkau. Kamu bisa menyesuaikan dengan selera dan bujet.
Ingin suasana yang lebih tenang? Masih banyak spot di Kota Lama Semarang yang bisa dijelajahi. Kamu akan menemukan sudut cukup sepi, meski sebagian memang minim penerangan dan tetap aman untuk pejalan kaki.
3. Pagi menyambut di Jatinegara dengan kesibukan akhir pekan

Perjalanan larut malam dari Stasiun Semarang Tawang ke Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur dimulai pukul 23.45 naik KA Menoreh. Semua terasa normal tanpa gangguan, sampai pemberitahuan bahwa kereta mengalami keterlambatan. Jadwal kedatangan di Stasiun Jatinegara pada Sabtu (16/05/2026) pukul 05.37, tetapi baru tiba sekitar pukul 05.57.
Perubahan suasana mulai terasa, pergerakan masyarakat di kota besar memang tampak lebih cepat. Namun, tidak berarti buru-buru karena penulis pun masih punya cukup waktu sebelum menukarkan e-ticket dengan wristband. Duduk sebentar sambil menyantap sarapan ringan dan melihat orang berlalu-lalang, jeda yang penting untuk slow traveling.
Setelah cukup mengisi energi, perjalanan dilanjutkan dengan naik KRL Line Cikarang menuju Stasiun Sudirman. Keuntungannya, terdapat banyak pilihan rute yang melewatinya. Bisa naik Jatinegara–Angke, Jatinegara–Angke via MRI, Jatinegara–Kampung Bandan via MRI, atau Jatinegara–Kampung Bandan.
Hanya selang beberapa menit, KRL pun tiba di Stasiun Sudirman. Kemudian, penulis berjalan kaki menuju Stasiun MRT Dukuh Atas BNI ke Stasiun MRT Istora Mandiri. Sudah cukup ramai beberapa pedagang dan warga yang beraktivitas di Terowongan Kendal.
Akhir pekan di luar rush hour menunjukkan sisi lain Jakarta yang lebih santai dan tertib. Belum tampak kerumunan maupun penumpang yang berdesak-desakan saat menggunakan transportasi umum. Suasananya masih sama sampai tiba di Stasiun MRT Istora Mandiri.
4. Ramainya Kompleks Gelora Bung Karno, salah satu pusat aktivitas warga

Sambil menunggu waktu penukaran tiket tiba, penulis menikmati suasana kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Hutan Kota GBK masih lengang, hanya ada satu dua orang yang sedang bersantai di amfiteater. Cuaca berawan, perpaduan antara rumput, pepohonan hijau yang kontras dengan deretan gedung tinggi menjadi latarnya.
Menjelang siang, pengunjung pun semakin ramai, ada yang mulai menggelar tikar untuk piknik hingga mengajak buah hati untuk grounding. Berbeda jauh dengan suasana riuh menuju GBK Main Stadium. Acara komunitas mobil, warga yang sedang berolahraga, penjaja kuliner, dan persiapan Digiland Run 2026 ada di sana.
Area lebih sepi dan teduh dapat dijumpai di dekat Gate H. Penulis memilih beristirahat sampai di sana sampai waktu penukaran tiket dibuka. Dekat dengan GBK Basket Hall dan Indonesia Arena.
Belum pukul 10.00, tetapi sudah ada antrean calon penonton yang akan menukarkan tiket. Kurang dari 30 menit, penulis sudah mendapatkan wristband dengan mudah dan kondusif. Setelah itu, melanjutkan perjalanan ke penginapan di kawasan Kebon Kacang, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
5. Jakarta diguyur hujan sebelum waktu konser tiba

Penulis melanjutkan perjalanan dengan naik Trans Jakarta (TJ) Koridor 1F dari Halte Taman Ria ke Senayan Bank Jakarta. Kemudian transit menggunakan Koridor 1 ke Halte Bundaran HI Astra. Sambil menunggu waktu check-in penginapan, penulis sempat melihat cityscape dari anjungan halte tersebut.
Masih cukup waktu untuk ngadem di Plaza Indonesia (PI) dan Grand Indonesia (GI). Dua mal berdekatan dengan nuansa berbeda, PI mengedepankan kemewahan fashion dan lifestyle. Sedangkan GI termasuk mal premium untuk fashion, kuliner, dan hiburan.
Setelah lewat tengah hari, ternyata Jakarta diguyur hujan lebat cukup lama. Sedikit nekat, akhirnya naik TJ Koridor 1 bergeser ke Halte MH Thamrin dan berteduh hingga reda di Sarinah. Ketika jam sudah menunjukkan hampir pukul 14.00, penulis menuju penginapan dengan naik TJ Koridor 1H dari bus stop MH Thamrin 3 ke Jln. Kbn. Kacang X, ditambah berjalan kaki hanya 250 meter.
Penulis bisa istirahat sebentar setelah perjalanan panjang. Area Kebon Kacang punya banyak pilihan penginapan murah dengan harga mulai Rp200 ribuan. Lokasinya strategis dan banyak pilihan kuliner terjangkau di sana.
Sore hari sekitar pukul 16,30, penulis kembali memulai perjalanan menuju Indonesia Arena untuk acara utama ditemani gerimis. Dari Halte MH Thamrin ke Senayan Bank Jakarta naik TJ Koridor 1, supaya lebih dekat transit Koridor T31, 3F, 1F, atau 1W untuk turun di Gerbang Pemuda Arah Barat. Jalanan macet, ditambah lagi ada acara di Jakarta Convention Center, serta perlu berjalan kaki hampir 1 km untuk bisa sampai di venue.
6. Dapat bonus city light Jakarta dari Lantai 3 Indonesia Arena

Hari sudah gelap, gate dibuka pukul 18.00, Indonesia Arena sudah dipenuhi para penonton. Venue terbilang nyaman, dilengkapi fasilitas eskalator, toilet, dan musala. Selasarnya pun bersih dan bisa dapat bonus city light Jakarta dari Lantai 3.
Penulis mendapatkan tempat duduk di CAT 3B, Door 4M, 36-637. Aksesnya lewat Lantai 3, ternyata lebih dekat dari Door 4N. Hanya naik beberapa anak tangga, kemudian bisa duduk manis sambil menunggu konser dimulai.
Kamu takut kehausan saat nonton konser? Gak harus membeli air minum di venue sebab pihak promotor kali ini menyediakan air mineral kemasan gelas. Para penonton boleh mengambil seperlunya secara gratis.
7. Konser ONE OK ROCK yang begitu hidup, euphoria in dystopia

Atmosfer Konser ONE OK ROCK, "DETOX" di Jakarta
Beberapa menit sebelum pukul 20.00, lagu Indonesia Raya pun diputar sebagai pertanda konser akan dimulai. Video pembuka pun diputar, sesuai dengan tema album DETOX yang mengusung isu politik dan serta kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Selang beberapa menit kemudian, Toru, Ryota, dan Tomoya muncul lebih dulu, lalu disusul Taka.
Para penonton turut bernyanyi, hampir semua lagu yang dibawakan merupakan versi bahasa Jepang. Awal penampilan mereka, Taka, Toru, dan Ryota menyambut serta memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris, Sedangkan Tomoya belajar menggunakan bahasa Indonesia yang disambut meriah sambil tepuk tangan para penonton.
Tidak semua lagu energik, beberapa bertempo lambat. Ada Tiny Pieces dan Wherever You Are (2010), yang menjadi lagu hit bagi sejuta penggemar mereka. Biasanya menjadi gateway song, tetapi penulis justru mulai mengenal ONE OK ROCK dari lagu Liar (2010) dan Keep It Real (2006).
Ketika lagu slow dinyanyikan, penonton menyalakan flashlight HP dengan warna putih dan biru. Hal ini menjadi bagian dari fans project yang sesuai tone warna album DETOX. Ada pun setlist yang mereka lantunkan, sebagai berikut:
Lagu C.U.R.I.O.S.I.T.Y original berkolaborasi dengan Paledusk dan Chico Carlito, diambil alih oleh Toru yang nge-rap. Bukan pertama kalinya, lho. Kemampuan rap-nya juga mewarnai beberapa lagu lawas mereka.
“Find euphoria in dystopia”, lirik lagu Dystopia seolah mewakili para penggemar yang melepas penat melalui konser DETOX ini. Sebagian lagi, merasa kondisi yang mereka alami relate dan dapat diungkapkan melalui lagu. Cara menikmati konser tidak hanya ikut bernyanyi, tetapi juga headbang, serta penonton di area festival membuat circle pit untuk menghidupkan suasana.
8. Concert speech dari Taka yang penuh makna

Lagu Dystopia selesai dilantunkan, sesi speech diisi dengan pesan Taka yang cukup panjang dalam bahasa Inggris. Ia tampak cukup emosional dan khas Si Aries yang berapi-api, terlebih sebagai vokalis band rock. Begini rangkumannya.
“Banyak orang tidak suka kalau musisi membicarakan hal politik atau sosial, apalagi di Jepang. Banyak artis takut diserang atau dikritik kalau terlalu frontal, tapi aku tidak peduli. Kalau ada yang mau menyerang kami karena musik atau pendapat kami, ya silakan.
Aku memasukkan banyak energi dan emosi ke album ini (DETOX), karena ingin menunjukkan bahwa musik itu lebih dari sekadar hiburan. Band rock itu biasanya dipandang berbeda oleh orang lain. Kadang diterima, kadang tidak. Namun, generasi sekarang, kita harus melakukan atau menyuarakan sesuatu.
Aku harap pesan ini sampai pada kalian. Aku menghormati semua orang, tidak peduli gender atau perbedaan pendapat. Orang memang selalu punya pandangan berbeda.
Tapi kalau setiap pagi kalian bangun dengan perasaan buruk, merasa kesulitan hidup, atau energi negatif terus, itu tidak baik. Mungkin musik bisa membantu kalian. Namun, album ini bukan musik yang menenangkan, penuh kekacauan dan emosi. Itulah kenapa kami membuat album ini.
Malam ini adalah konser terakhir tur ini, aku ingin memberi energi lebih besar dari sebelumnya. Untuk lagu berikutnya, bernyanyilah sekeras mungkin kalau kalian benar-benar merasakannya. Ini suara kami!”
Sesuai arahannya, Dellusion:All menggambarkan generasi yang merasa lelah, marah, dan kecewa terhadap sistem politik maupun sosial. Perpecahan antar masyarakat membuat pihak yang berkuasa lebih mudah mengontrol. Sementara itu, suara rakyat sering kali tidak didengar dengan sungguh-sungguh.
9. Sing-along terus menggema hingga encore

Atmosfer tetap energik, saat lagu Stand Out Fit In, para penonton melompat dan merasakan keseruannya bersama. Setelah deretan tempo cepat yang sempat membuat tenggorokan kering, Taka kembali menyampaikan pesan. Namun, kali ini dalam bahasa Jepang tanpa ada penerjemah, penonton pun hanya bisa menebak-nebak apa maknanya.
We Are menjadi lagu penutup pada konser DETOX yang berakhir pukul 22.00. Para penggemar sempat menyuarakan untuk menambahkan lagu Mighty Long Fall, tetapi belum terpenuhi. Suasana menjadi lebih tenang saat sesi foto bersama dan ONE OK ROCK melakukan final bow sebelum meninggalkan panggung.
Penonton pun keluar venue dengan tertib dan kondusif, termasuk mengantre saat menggunakan eskalator. Kompleks GBK tidak terlalu sepi, penulis berjalan kaki menuju Halte Senayan Bank Jakarta untuk naik TJ Koridor 1 ke Halte MH Thamrin untuk kembali ke penginapan. Jakarta masih sibuk: transportasi umum yang hilir mudik, pedagang makanan, starling, hingga tunawisma yang istirahat di tepi pedestrian menjadi sisi lain di antara kemegahan kota.
Selalu ada kejutan di setiap perjalanan, termasuk saat konser ONE OK ROCK yang bertajuk DETOX tersebut. Seperti namanya, konser ini dapat menjadi cara penulis untuk membersihkan diri dari rasa penat dan kebutuhan akan hiburan maupun traveling. Sampai jumpa di cerita perjalanan berikutnya!



![[QUIZ] Kota di Indonesia yang Menarik untuk Liburanmu sesuai Kopi Pilihanmu](https://image.idntimes.com/post/20250120/pexels-helder-quiala-434379851-15294461-1-7c42fa378e37d884cc4db7014d2dcd1f-158c670356a961e97f62b814cce8fbea.jpg)



![[QUIZ] Dari Makanan Khas Jawa Tengah Favoritmu, Kamu Bakal Liburan ke Sini!](https://image.idntimes.com/post/20250413/cover-1e2370065eeaa3712c070f957d427a87.jpg)

![[QUIZ] Gunung VS Pantai, Mana yang Paling Cocok untukmu?](https://image.idntimes.com/post/20250718/upload_665e171d42dba507dbd58250b15aa0d5_a051aed7-9f73-439c-9989-47328201761b.jpg)
![[QUIZ] Dari Lagu Rizky Febian Favoritmu, Pergilah ke Wisata Bandung Ini!](https://image.idntimes.com/post/20240718/whatsapp-image-2024-07-18-at-135639-8ec7e3ea0788dd51ce19d6ce73e0d3f5.jpeg)
![[QUIZ] Rupiah Melemah, Kamu Bisa Liburan ke Wisata Domestik Ini!](https://image.idntimes.com/post/20240907/pexels-minhle17vn-977237-be4da7b524c4e14dcd3407bc62ad4f38-52ab794a4464d265a36c3bd364bf6c3c.jpg)







