Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
pemandangan indah sekaligus mencekam di atas Gunung Api Tolbachik
pemandangan indah sekaligus mencekam di atas Gunung Api Tolbachik (commons.wikimedia.org/kuhnmi)

Intinya sih...

  • Gunung berapi lebih berbahaya dari gunung biasa karena medannya ekstrem dan bisa erupsi kapan saja.

  • Pendakian harus direncanakan matang, fisik disiapkan, dan perlengkapan dibawa lengkap sesuai standar.

  • Gunakan pemandu profesional dan patuhi semua aturan demi keselamatan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Aktivitas mendaki gunung bisa dibilang jadi salah satu wisata yang digandrungi banyak kalangan. Keseruan dalam melintasi bentang alam yang cantik sekaligus memori menarik dari perjalanan menuju puncak gunung jelas tak mungkin bisa dilupakan. Tak heran kalau saat ini mendaki gunung sudah menyentuh banyak kalangan, baik pemula maupun profesional.

Di seluruh dunia, ada berbagai jenis gunung dengan tantangannya masing-masing. Secara umum, persiapan yang diperlukan tiap orang yang ingin menaiki gunung cukup identik, yakni peralatan yang cukup dan fisik yang mumpuni. Namun, ada pengecualian pada beberapa gunung tertentu karena medan yang jauh lebih berat, salah satunya gunung berapi.

Berbeda dengan gunung yang sudah tak aktif atau tidak tergolong sebagai gunung berapi, jenis gunung yang satu ini menyajikan tantangan tersendiri bagi orang-orang yang berusaha menggapai puncak. Mulai dari jalur yang lebih sulit dilewati, kondisi alam sekitar yang lebih ekstrem, sampai ancaman erupsi atau aktivitas vulkanik dari gunung berapi, itu semua nyatanya bisa membahayakan nyawa pendaki kapan pun dan di mana pun.

Karena itu, perlu beberapa persiapan tambahan kalau kamu jadi salah satu orang yang tertarik untuk mendaki gunung berapi. Tenang saja, seluruh persiapan tersebut sudah dirangkum pada pembahasan di bawah ini, kok. Jadi, langsung gulirkan layarmu ke bawah, ya!

1. Buat perencanaan yang matang dan perbaharui informasi

Kondisi alam di gunung berapi dapat berubah dengan cepat. (commons.wikimedia.org/Bobjgalindo)

Perjalanan yang terencana jelas jadi salah satu syarat mutlak agar mendapatkan kepastian sekaligus keamanan yang lebih memadai. Hal ini juga berlaku pada hobi mendaki gunung, terutama gunung berapi. Kalau begitu, seperti apa perencanaan yang baik sebelum mulai mendaki sebuah gunung berapi?

Dilansir National Park Service, perencanaan yang baik itu meliputi kondisi gunung berapi terkini; kapan waktu untuk mendaki gunung; jalur pendakian mana yang sesuai dengan diri sendiri atau anggota lain; kapan harus mendirikan tenda, pos, atau titik perkemahan tempat tenda itu akan didirikan; sampai mengetahui kondisi cuaca yang ada di gunung berapi. Malahan, perencanaan sebelum mendaki gunung berapi juga harus lebih detail lagi karena perlu sampai meliputi jalan pulang sampai ke rumah. Supaya perencanaan itu berjalan dengan lancar, informasi jadi salah satu hal yang paling krusial.

Biasanya, lembaga resmi yang menjaga kawasan sekitar gunung berapi ataupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) rutin membagikan informasi soal keadaan cuaca di wilayah sekitar gunung berapi. Informasi soal kapan saja jalur pendakian dibuka atau ditutup juga tersedia di sana. Kalaupun belum mendapat pembaharuan, kita bisa menanyakan pada penduduk setempat maupun organisasi terpercaya terkait kondisi dari gunung berapi yang hendak dinaiki.

Semakin banyak informasi yang dihimpun, perencanaan bisa dilakukan sampai detail-detail yang mungkin terlewatkan sebelumnya. Ditambah lagi, selalu sediakan rencana cadangan atau keputusan untuk membatalkan perjalanan mendaki kalau terlihat ada kondisi yang genting. Dengan demikian, kita jelas sudah meminimalkan masalah sekecil apa pun yang mungkin saja terjadi pada saat mendaki gunung berapi nantinya.

2. Persiapkan fisik sebaik mungkin

Medan di Gunung Api Pacaya yang tak kenal ampun. (commons.wikimedia.org/Greg Willis)

Mendaki gunung secara umum memang bukan aktivitas yang boleh dianggap remeh. Sebab, kita selalu dituntut untuk memiliki kondisi fisik yang prima agar mampu mengatasi segala jenis medan yang dilewati. Selain itu, fisik yang prima juga berkorelasi pada kesehatan dan keselamatan diri sendiri seandainya mengalami masalah genting saat mendaki gunung. Nah, syarat tersebut harus ditingkatkan lagi kalau gunung yang mau dinaiki adalah gunung berapi.

Global Adventure Challenges melansir kalau sebisa mungkin kita sudah mempersiapkan fisik jauh-jauh hari sebelum pendakian, setidaknya sekitar 12 minggu. Adapun, latihan harian yang disarankan terdiri atas pemanasan ringan selama 10—15 menit, berjalan dengan jarak tertentu yang terus ditingkatkan tiap beberapa waktu sekali, melakukan olahraga kardiovaskular (renang, lari, senam aerobik, dan sebagainya), serta olahraga untuk membentuk kekuatan otot.

Agar lebih maksimal lagi, kamu boleh banget buat berkonsultasi pada dokter atau ahli soal olahraga apa yang paling sesuai dengan tubuh. Dengan konsultasi tersebut, diharapkan program latihan yang dilakukan jauh lebih sesuai dengan kemampuan tubuh. Oh, ya, menjelang hari pendakian, kamu boleh juga, lho, untuk jalan atau joging sambil menggunakan peralatan mendaki gunung biar tubuh lebih terbiasa nantinya.

Poin ini semakin penting kalau kita lihat puncak gunung berapi yang berbeda dengan gunung biasa. Sebab, di atas sana, sedimennya lebih banyak pasir hitam yang jauh lebih sulit untuk ditapaki, apalagi sambil menanjak. Tak jarang, pendaki gunung berapi merasa merosot 1 langkah setelah mengambil 2 langkah naik di sana. Karena itu, perjalanan menuju puncak gunung berapi akan jauh lebih melelahkan dari biasanya.

3. Bawa peralatan naik gunung yang sesuai standar

potret sekitar Gunung Api Pacaya, Guatemala (commons.wikimedia.org/Greg Willis)

Jangan pernah sekali pun berpikir untuk membawa peralatan ala kadarnya saat merencanakan pendakian ke gunung berapi. Kondisi jalur maupun cuaca di gunung berapi itu dapat berubah dalam hitungan menit. Bahkan, menggunakan peralatan yang lengkap saja belum tentu memudahkan kita saat mengalami masa-masa sulit di gunung berapi, apalagi kalau tidak siap sama sekali.

Dilansir Dagboek van een Avonturier, peralatan yang dimaksud itu terdiri atas tenda sesuai standar dengan kapasitas yang cukup, kantung tidur, sepatu khusus mendaki gunung, pakaian tebal, pakaian ganti, penutup kepala, sarung tangan tebal, senter atau headlamp, jas hujan, peluit, alat komunikasi darurat, peta, tongkat untuk mendaki gunung, dan peralatan memasak serta makan. Selain itu, pastikan perbekalan yang dibawa cukup untuk durasi pendakian sampai turun nanti. Malahan, disarankan untuk membawa perbekalan lebih sebagai bentuk antisipasi.

Selain peralatan standar, pastikan juga untuk selalu membawa obat-obatan dan alat pertolongan pertama pada kondisi darurat. Sebagai contoh, obat pribadi, antiseptik, perban luka, krim pelindung kulit, tali panjang, emergency blanket dari aluminium foil, dan sebagainya. Walau belum tentu semua peralatan itu akan dipakai saat dan mendaki gunung, tak ada salahnya untuk bersiap pada kondisi apa pun, terlebih di gunung berapi yang kondisinya selalu berubah-ubah.

4. Manfaatkan jasa pemandu yang sudah ahli

Kelompok pendaki gunung bersama pemandu profesional. (commons.wikimedia.org/NPS Photo)

Seperti yang sudah berulang kali disinggung sebelumnya, medan di gunung berapi itu jauh lebih sulit ketimbang gunung biasa dan cuacanya bisa berubah kapan saja. Karena itu, agar keamanan diri sendiri beserta kelompok dapat lebih terjamin, tidak ada salahnya untuk menggunakan jasa dari seorang pemandu profesional. Biasanya, petugas resmi dari pemerintah (Balai Taman Nasional, Perum Perhutani, Kementerian Lingkungan Hidup, dan sebagainya), penduduk sekitar pegunungan, maupun pendaki gunung profesional menawarkan jenis jasa ini.

Pilihan terbaik tentunya ada pada petugas resmi dari pemerintah yang memang menjaga kawasan gunung berapi tertentu. Selain karena pengalaman terhadap medan yang ada, informasi yang diperoleh juga jauh lebih cepat dan akurat. Namun, tidak selamanya pemandu resmi itu tersedia sehingga bantuan jasa dari masyarakat sekitar dan profesional bisa jadi pilihan. Yang perlu diingat, pastikan kalau jasa pemandu yang dipilih sudah punya reputasi yang baik, terpercaya, dan tersertifikasi dengan baik.

Bahkan, dilansir Il Vulcano a Piedi, menggunakan jasa seorang pemandu itu merupakan sebuah kewajiban. Kalau tidak, sebaiknya sekalian tidak ke puncak atau mendaki ke puncak gunung berapi sama sekali. Alasannya sederhana, ini terkait pengalaman dari seorang pemandu yang bisa memberikan rute terbaik, rasa aman, dan ketenangan jika ada kondisi darurat.

5. Patuhi aturan yang berlaku

potret kelompok pendaki gunung (commons.wikimedia.org/NPS Photo)

Hal terakhir yang wajib dilakukan bagi siapa saja yang mau mendaki gunung berapi ialah mematuhi aturan yang ada. Mau itu gunung biasa maupun gunung berapi, pasti ada aturan yang harus dipatuhi, semisal batas pendakian, barang yang tidak boleh dibawa ke atas gunung, sampai pantangan atau larangan yang tidak boleh dilakukan selama berada di area gunung. Khusus untuk gunung berapi yang masih aktif, ada satu lagi aturan yang tak boleh kita abaikan, apa pun alasannya.

Aturan tersebut terkait kondisi gunung berapi ketika hendak kita naiki. Maksudnya, jika gunung berapi baru mengalami erupsi atau selesai erupsi, biasanya lembaga pemerintah setempat langsung menutup akses menuju gunung berapi secara total. Karena itu, jangan nekat untuk menuju ke sana meski ada oknum yang mengatakan ada jalur yang aman.

Hal yang sama juga berlaku seandainya kondisi gunung berapi dinyatakan mengalami peningkatan aktivitas, tapi belum sampai erupsi. Lebih baik langsung batalkan perjalanan dan pergi menuju tempat yang aman, ya! Mau bagaimanapun, nyawa kita jauh lebih penting ketimbang menantang alam demi mendapatkan pengalaman dan pemandangan yang indah dari puncak gunung berapi.

Beberapa tips di atas boleh kamu catat kalau ada rencana mendaki gunung berapi. Memang, pengalaman mendaki gunung berapi sangat berbeda karena bentang alam yang unik sampai medan yang menantang siapa saja. Karena itu, persiapkan diri dan peralatan sebaik mungkin serta jangan abai pada tanda atau aturan yang ada di sana, ya! Selalu patuhi arahan petugas agar perjalanan lebih aman dan kamu mendapat pengalaman yang seru selama mendaki sebuah gunung berapi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎