Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Wisata Telaga Sarangan di Magetan
Wisata Telaga Sarangan di Magetan (IDN Times/Riyanto)

Intinya sih...

  • Tradisi Labuhan Sarangan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan RI dalam domain Adat Istiadat, Ritus, dan Perayaan Tradisional. Penetapan dilakukan 15/12/2025, lalu diumumkan resmi Pemkab Magetan bertepatan pelaksanaan ritual pada Jumat (16/1/2026).

  • Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti menyebut Labuhan Sarangan sebagai tradisi bersih desa menjelang Ramadan yang bermakna spiritual dan budaya, sekaligus wujud syukur atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan serta penghormatan kepada alam, khususnya Telaga Sarangan.

  • Kepala Disparbud Magetan Joko Trihono menilai status WBTb menjadi pencapaian besar bagi warga Sarangan, dan berharap Labuhan Sarangan dapat masuk kalender event nasional untuk memperkuat daya tarik wisata Telaga Sarangan.

  • Tradisi ini digelar setahun sekali berdasarkan kalender Jawa, yakni Jumat Pon bulan Ruwah (Syakban), dengan rangkaian prosesi mulai Kamis Pahing (penyembelihan kambing, kegiatan kebersihan, syukuran di pulau telaga dan punden) hingga Jumat Pon (kirab tumpeng dan hasil bumi, doa, lalu pelarungan sesaji ke telaga sebagai simbol sinergi manusia dan alam).

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tradisi Labuhan Sarangan baru saja ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Kementerian Kebudayaan RI dengan domain Adat Istiadat, Ritus, dan Perayaan Tradisional.

Penetapan ini sebenarnya sudah dilakukan pada 15 Desember 2025 lalu, tetapi baru diumumkan Pemerintah Magetan secara resmi kepada masyarakat bertepatan dengan pelaksanaan ritual Tradisi Labuhan Sarangan, Jumat (16/1/2026).

Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti, mengatakan Labuhan Sarangan merupakan tradisi bersih desa warga Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Magetan, menjelang Ramadan yang memiliki makna spiritual dan budaya mendalam.

"Labuhan Sarangan bukan hanya ritual, melainkan warisan budaya adiluhung yang sarat makna. Tradisi ini merupakan wujud syukur atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan, sekaligus bentuk penghormatan kepada alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat," ujar Nanik dalam pembukaan kegiatan Labuhan Sarangan 2026 di Telaga Sarangan Magetan, Jumat (16/1/2026), seperti dilansir dari ANTARA News.

Menurut Nanik, tradisi itu menjadi pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa menjaga harmoni dengan alam, khususnya Telaga Sarangan yang selama ini menjadi ikon pariwisata dan sumber kehidupan warga sekitar.

"Nilai-nilai seperti spiritualitas, gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus ditanamkan kepada generasi muda, agar tradisi tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Magetan, Joko Trihono, mengatakan bahwa penetapan Labuhan Sarangan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) adalah pencapaian besar bagi masyarakat Sarangan yang selama ini menjaga kelestarian tradisi tersebut.

"Labuhan Sarangan adalah tradisi leluhur yang sarat nilai adat. Kini telah resmi terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda," ujar Joko, dilansir dari ANTARA News, Jumat (16/1/2026).

Joko juga menambahkan bahwa tradisi ini merupakan ungkapan syukur masyarakat atas anugerah alam yang indah, telaga yang cantik, serta tanah yang subur. Nantinya, Labuhan Sarangan diharapkan dapat masuk dalam kalender event nasional sebagai salah satu atraksi budaya yang membanggakan dan menjadi daya tarik tersendiri, sehingga meningkatkan kunjungan wisatawan ke Telaga Sarangan.

Rangkaian kegiatan dalam Labuhan Sarangan

Wisata Telaga Sarangan di Magetan. IDN Times/Riyanto.

Melansir situs resmi Pemerintah Magetan, Labuhan Sarangan merupakan tradisi turun-temurun yang diwariskan dari nenek moyang dan berkaitan dengan mitos asal mula Telaga Sarangan. Pelaksanaannya setiap tahun sekali dengan perhitungan kalender Jawa, yakni hari Jumat Pon di bulan Ruwah (bulan kedelapan atau juga disebut Syakban dalam penanggalan Islam).

Rangkaian prosesinya dimulai pada hari Kamis Pahing pagi, yakni penyembelihan kambing, dilanjutkan melakukan kegiatan kebersihan, syukuran di pulau yang berada di tengah Telaga Sarangan, dan diakhiri dengan syukuran di punden yang terletak di depan Hotel Kintamani, Sarangan.

Keesokan harinya, tepatnya di hari Jumat Pon, kegiatan diawali dengan kirab tumpeng sesaji, sayuran, buah-buahan dan hasil bumi di wilayah Sarangan. Para perangkat desa, sesepuh, tokoh masyarakat, dan masyarakat berkumpul untuk mengikuti prosesi. Setelah semua sesaji dikirab dan diterima sesepuh desa, mereka akan membacakan doa dan sesaji dibawa ke tengah telaga untuk dilarung.

"Seluruh hasil bumi dilarungkan ke telaga sebagai simbol sinergi manusia dengan alam," ujar Joko. Pelarungan ini menandai selesainya tradisi Labunan Sarangan. Joko menegaskan, penjagaan nilai-nilai adat serta kelestarian lingkungan adalah inti dari pelaksanaan Labuhan Sarangan setiap tahunnya.

Semoga minat wisatawan semakin meningkat dalam menjaga tradisi adat, termasuk dalam hal meningkatkan potensi wisata saat tradisi Labunan Sarangan dilaksanakan. Kamu yang belum pernah mengikuti tradisi Labunan Sarangan ini, semoga tahun depan berkesempatan menyaksikan langsung, ya!

Editorial Team