Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

10 Wisata Sejarah di Semarang yang Punya Cerita Menarik

7 min read
10 Wisata Sejarah di Semarang yang Punya Cerita Menarik
Lawang Sewu (commons.wikimedia.org/ Galuhranitiara)
  • Semarang menyimpan jejak sejarah berlapis, dari jalur perdagangan pesisir, komunitas Jawa-Tionghoa, masa kolonial, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
  • Kota Lama, Lawang Sewu, Pasar Johar, dan Museum Mandala Bhakti merekam perkembangan perdagangan, transportasi, pemerintahan kolonial, serta perubahan fungsi bangunan sepanjang waktu.
  • Sam Poo Kong, Kelenteng Tay Kak Sie, Masjid Kauman, Gereja Blenduk, dan Gereja Gedangan menunjukkan keberagaman komunitas serta tempat ibadah bersejarah yang masih hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau jalan-jalan di Semarang, ada satu hal yang bikin kota ini terasa berbeda. Di tengah jalan yang ramai, pusat kuliner, dan bangunan modern, kamu masih akan mudah menemukan sudut kota yang menyimpan cerita dari masa lalu. Jejaknya datang dari berbagai periode dan kebudayaan, mulai dari masa kolonial, perkembangan perdagangan, hingga perjalanan komunitas Jawa dan Tionghoa di kota pesisir ini.

Menariknya, tempat bersejarah di Semarang tidak selalu berbentuk museum yang menyimpan benda-benda lama. Ada bangunan yang masih digunakan untuk beribadah, kawasan yang kini menjadi ruang publik, hingga monumen yang berkaitan dengan perjuangan masyarakat. Kalau ingin mengenal kota ini lebih dekat, beberapa tempat wisata sejarah di Semarang ini punya cerita menarik, lho!

  1. 1. Kota Lama Semarang

    Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang
    Gereja Blenduk di Kota Lama Semarang (IDN Times/Fina Wahibatun Nisa)

    Cerita sejarah Semarang cukup lekat dengan kawasan Kota Lama. Pada masa kolonial, kawasan ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan permukiman orang Eropa setelah Semarang semakin penting sebagai kota pelabuhan. Karena aktivitas perdagangan yang ramai, berbagai bangunan kantor, gudang, toko, dan tempat tinggal kemudian tumbuh di kawasan tersebut.

    Sampai sekarang, jejak itu masih terasa ketika berjalan menyusuri jalan-jalan di Kota Lama. Bangunan tua berdiri berdekatan dengan kafe, restoran, galeri, dan ruang publik yang lebih modern. Perubahan fungsi tersebut justru memperlihatkan bagaimana kawasan yang dulu menjadi pusat aktivitas perdagangan bisa tetap hidup mengikuti perkembangan kota.

  2. 2. Lawang Sewu

    Lawang Sewu
    Lawang Sewu (commons.wikimedia.org/ P. Hughes)

    Dari Kota Lama, cerita perkembangan Semarang juga bisa dilihat dari sejarah perkeretaapian. Lawang Sewu dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, sebagai kantor pusatnya. Pembangunan kompleks ini dimulai pada awal abad ke-20, ketika jaringan kereta api sedang berkembang dan Semarang menjadi salah satu kota penting dalam jalur transportasi tersebut.

    Nama Lawang Sewu kemudian melekat karena banyaknya pintu dan bukaan pada bangunan, meskipun jumlah pintunya tidak benar-benar seribu. Gedung ini juga mengalami perubahan fungsi dan melewati masa pendudukan Jepang serta periode perjuangan kemerdekaan. Karena sejarahnya cukup panjang, Lawang Sewu bukan sekadar bangunan kolonial dengan arsitektur khas, melainkan bagian dari perjalanan Semarang dari kota perdagangan menuju kota yang semakin terhubung dengan wilayah lain.

  3. 3. Sam Poo Kong

    Sam Poo Kong
    Sam Poo Kong (commons.wikimedia.org/ Kaliper1)

    Jauh sebelum Semarang berkembang menjadi kota modern sekarang, kawasan pesisirnya sudah menjadi tempat pertemuan berbagai kelompok masyarakat. Salah satu cerita yang kemudian melekat kuat adalah kedatangan Laksamana Zheng He atau Cheng Ho dari Tiongkok pada abad ke-15. Kisah perjalanan tersebut berkaitan dengan Sam Poo Kong, kompleks yang kemudian berkembang menjadi tempat ibadah dan kawasan penting bagi komunitas Tionghoa di Semarang.

    Bangunan yang terlihat sekarang memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Tionghoa melalui warna, bentuk atap, ornamen, dan patung-patungnya. Sam Poo Kong juga menjadi pengingat bahwa hubungan Semarang dengan komunitas Tionghoa sudah berlangsung sangat lama. Karena itu, mengunjungi tempat ini terasa seperti melihat salah satu lapisan awal dari masyarakat Semarang yang beragam.

  4. 4. Gereja Blenduk

    Gereja Blenduk
    Gereja Blenduk (commons.wikimedia.org/ Crisco 1492)

    Ketika berjalan di Kota Lama, salah satu bangunan yang biasanya langsung menarik perhatian adalah Gereja Blenduk. Bangunan yang kini dikenal sebagai GPIB Immanuel tersebut pertama kali berdiri pada abad ke-18 dan kemudian mengalami perubahan serta pembangunan kembali. Kubah besarnya menjadi ciri yang membuat gereja ini mudah dikenali di antara bangunan lain di sekitarnya.

    Keberadaan Gereja Blenduk juga berkaitan dengan perkembangan komunitas Eropa di Semarang pada masa kolonial. Saat kawasan perdagangan semakin ramai, tempat ibadah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Sampai sekarang gereja tersebut masih digunakan, sehingga bangunan bersejarah ini tidak hanya berdiri sebagai peninggalan masa lalu.

  5. 5. Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman

    Masjid Agung Semarang (unsplash.com/ Febrian Zakaria)
    Masjid Agung Semarang (unsplash.com/ Febrian Zakaria)

    Kalau ingin melihat sisi lain dari sejarah Semarang sebelum dominasi kolonial semakin kuat, kawasan Kauman bisa menjadi tujuan menarik. Masjid Kauman merupakan salah satu masjid tua di Semarang dan memiliki hubungan erat dengan perkembangan kehidupan Islam di pusat kota. Letaknya juga gak jauh dari kawasan perdagangan yang kemudian berkembang di sekitar Pasar Johar.

    Bangunan masjid memperlihatkan ciri arsitektur Jawa, terutama pada bentuk atap bertingkatnya. Keberadaannya menjadi bagian dari sejarah Semarang sebagai kota pesisir yang sejak lama menjadi tempat bertemunya para pedagang, ulama, dan masyarakat dari berbagai wilayah. Jadi, cerita Semarang gak bisa dilepaskan hanya dari bangunan peninggalan Belanda karena jauh sebelumnya sudah ada kehidupan masyarakat yang membentuk karakter kota ini.

  6. 6. Pasar Johar

    Pasar Johar
    Pasar Johar (commons.wikimedia.org/ Bahnfrend)

    Kalau ingin melihat sejarah Semarang dari aktivitas masyarakat sehari-hari, Pasar Johar punya cerita yang menarik. Pasar ini berkembang sebagai pusat perdagangan di kawasan pusat kota dan bangunannya dirancang oleh arsitek Belanda Thomas Karsten. Rancangannya dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar yang ramai, termasuk sirkulasi udara dan pencahayaan.

    Pasar Johar kemudian menjadi salah satu pusat perdagangan penting Semarang. Kebakaran dan berbagai perubahan yang terjadi selama perjalanan waktu sempat membuat wajah kawasan ini berubah, tetapi aktivitas perdagangan tetap menjadi bagian dari kehidupannya. Berkunjung ke Pasar Johar memberi gambaran bahwa sejarah kota juga tumbuh dari aktivitas sederhana seperti jual beli, bukan hanya dari bangunan pemerintahan atau monumen.

  7. 7. Tugu Muda

    Monumen Tugu Muda
    Monumen Tugu Muda (commons.wikimedia.org/ Candramawa99)

    Semarang juga punya bagian sejarah yang jauh lebih dekat dengan masa kemerdekaan. Tugu Muda didirikan untuk mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945, ketika pemuda dan masyarakat Semarang terlibat dalam pertempuran melawan tentara Jepang. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

    Posisi Tugu Muda membuat kisah tersebut terasa semakin kuat karena monumen ini berada di tengah kawasan yang dikelilingi bangunan bersejarah. Lawang Sewu dan Museum Mandala Bhakti berada tidak jauh dari sana. Ketika melihat kawasan ini sebagai satu kesatuan, pengunjung bisa membayangkan bagaimana pusat Semarang menjadi saksi perubahan besar dari masa kolonial menuju awal kemerdekaan.

  8. 8. Museum Mandala Bhakti

    Museum Mandala Bhakti
    Museum Mandala Bhakti (commons.wikimedia.org/ Thersetya2021)

    Bangunan Museum Mandala Bhakti juga menyimpan cerita dari masa yang berbeda. Gedung ini awalnya merupakan Raad van Justitie atau pengadilan pada masa Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut mengalami perubahan fungsi dan kemudian digunakan sebagai museum yang menyimpan berbagai cerita mengenai perjuangan dan sejarah militer.

    Letaknya yang berdekatan dengan Tugu Muda membuat museum ini berkaitan dengan kawasan bersejarah di pusat Semarang. Dari satu tempat, pengunjung bisa melihat jejak pemerintahan kolonial sekaligus cerita perjuangan setelah kemerdekaan. Perubahan fungsi gedungnya sendiri menjadi bagian dari perjalanan sejarah Semarang yang terus bergeser mengikuti zaman.

  9. 9. Kelenteng Tay Kak Sie

    Kelenteng Tay Kak Sie
    Kelenteng Tay Kak Sie (commons.wikimedia.org/ Midori)

    Sejarah Semarang juga tidak bisa dipisahkan dari perkembangan komunitas Tionghoa yang telah lama menetap di kota ini. Salah satu jejaknya dapat ditemukan di Kelenteng Tay Kak Sie yang berada di kawasan Gang Lombok. Kelenteng ini berdiri sejak abad ke-18 dan menjadi salah satu tempat ibadah penting bagi masyarakat Tionghoa di Semarang.

    Kawasan di sekitarnya juga memperlihatkan bagaimana komunitas Tionghoa berkembang sebagai bagian dari kehidupan kota. Dari bangunan kelenteng, tradisi yang masih dijalankan, hingga lingkungan Pecinan, semuanya menjadi bagian dari sejarah Semarang sebagai kota yang dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat. Oleh karena itu, kawasan ini menarik untuk dikunjungi bukan hanya karena bentuk bangunannya, tetapi juga karena cerita komunitas yang tumbuh di baliknya.

  10. 10. Gereja Gedangan

    Gereja Gedangan
    Gereja Gedangan (commons.wikimedia.org/ Crisco 1492)

    Gereja Gedangan atau Gereja Santo Yusuf menjadi salah satu saksi perkembangan komunitas Katolik di Semarang. Bangunan gereja ini berada di kawasan yang sejak masa kolonial sudah menjadi bagian dari perkembangan kota dan komunitas Eropa. Arsitekturnya memperlihatkan gaya Eropa yang cukup kuat dan menjadikannya salah satu bangunan ibadah bersejarah di Semarang.

    Menariknya, gereja ini masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini. Keberadaannya menjadi bukti bahwa bangunan yang dibangun lebih dari satu abad lalu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di kota yang terus berubah seperti Semarang, keberlanjutan fungsi bangunan semacam ini membuat sejarah terasa lebih dekat karena bukan sekadar sesuatu yang disimpan di balik kaca museum.

    Semarang sebenarnya bisa dibaca seperti sebuah kota yang dibangun lapis demi lapis. Ada masa ketika kawasan pesisir menjadi jalur perdagangan, ada pengaruh berbagai komunitas yang datang dan menetap, ada periode panjang pemerintahan kolonial, lalu ada masa ketika masyarakatnya ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Semua periode itu meninggalkan jejak yang masih bisa ditemukan hingga sekarang.

    Oleh karena itu, mengunjungi tempat bersejarah di Semarang akan terasa berbeda kalau kita gak cuma datang untuk berfoto. Coba perhatikan kenapa bangunan itu berdiri di lokasi tersebut, siapa yang dulu menggunakannya, dan perubahan apa yang sudah dilewatinya. Dari pertanyaan-pertanyaan kecil itu, Semarang yang kita lihat hari ini jadi punya cerita yang jauh lebih panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More