Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
potret mendaki Gunung Fuji
potret mendaki Gunung Fuji (commons.wikimedia.org/OptimusPrime)

Gunung Fuji jadi tujuan banyak pelancong yang ingin merasakan sensasi berada di puncak ikonik Jepang dan rasa penasaran soal mendaki tanpa pemandu terus muncul setiap musim pendakian dibuka. Walau terlihat ramah pemula, gunung ini tetap menuntut kesiapan karena cuaca cepat berubah dan jalur panjang bisa menguji ketahanan.

Banyak traveler akhirnya bingung apakah lebih aman menyewa guide atau berangkat mandiri, apalagi aturan di Jepang terkenal disiplin. Apalagi kini semakin banyak wisatawan Indonesia yang mencoba mendaki untuk pertama kali. Berikut panduan ringkas yang bisa membantu kamu menentukan keputusan terbaik untuk mendaki Gunung Fuji.

1. Jalur resmi Gunung Fuji mengizinkan pendakian mandiri

potret Jalur Yoshida (commons.wikimedia.org/Katorisi)

Semua jalur resmi dibuka pada awal Juli sampai awal September sehingga pendaki bebas naik tanpa pemandu asalkan mengikuti rambu dan arahan pos pengawas. Jalur Yoshida jadi favorit karena paling ramai, memiliki papan petunjuk jelas, akses bus mudah, serta banyak pos perhentian sehingga cocok untuk traveler yang ingin mencoba pendakian santai. Setiap jalur punya karakter berbeda, contohnya Gotemba lebih panjang dan sepi sehingga cocok bagi pendaki yang ingin tantangan lebih.

Karena tidak ditemani pemandu, kamu harus memperkirakan waktu berangkat dan kembali agar turun sebelum kabut tebal menutup pandangan. Kondisi jalur juga bisa berubah sepanjang perjalanan karena semakin tinggi, permukaan tanah berpasir mulai licin dan langkah terasa makin berat. Kamu mungkin bertemu antrean panjang di bagian jalur sempit, terutama saat akhir pekan musim panas dan ini sering memakan tenaga tidak terduga. Pos pertama hingga pos ketujuh biasanya situasinya cukup bersahabat, namun mendekati puncak angin makin kencang serta oksigen terasa tipis.

2. Persiapan perlengkapan wajib saat mendaki tanpa pendamping

potret persiapan mendaki Gunung Fuji (commons.wikimedia.org/KE-TA)

Perjalanan mandiri membuat kamu bertanggung jawab membawa perlengkapan lengkap dari awal, mulai dari headlamp, jaket tebal, sarung tangan, makanan ringan, hingga botol air. Gunung Fuji bukan tempat untuk mencoba peralatan baru karena sandal, sepatu berkualitas buruk, atau jaket tipis akan cepat terasa menyiksa. Meski tersedia penjualan makanan dan minuman di beberapa pos, harga meningkat drastis seiring ketinggian, jadi membawa bekal akan menghemat uang dan tenaga. Ransel berisi barang esensial membuat kamu tidak bergantung pada pendaki lain.

Untuk pendakian malam, headlamp wajib dipakai agar kamu tidak tersandung bebatuan di bagian gelap jalur. Trekking pole juga sangat membantu saat menuruni jalur berpasir karena tanah mudah longsor di bawah pijakan. Ketika cuaca berubah mendadak, lapisan baju yang tepat membantu tubuh tetap hangat sehingga kamu bisa bergerak dengan nyaman. Peralatan sederhana seperti peta offline atau foto panduan jalur bisa menjadi penyelamat bila sinyal hilang.

3. Titik istirahat dan mountain hut harus dipesan tepat waktu

potret mountain hut (commons.wikimedia.org/Alpsdake)

Di jalur populer seperti Yoshida, mountain hut hampir selalu penuh saat akhir pekan sehingga reservasi jauh hari bisa menolong kamu menghemat tenaga dan tidur beberapa jam sebelum melanjutkan pendakian ke puncak. Hut menyediakan makanan hangat, toilet, dan tempat melepas lelah sehingga pendaki tidak harus memaksa diri menyelesaikan pendakian dalam satu tempo panjang. Kalau kamu memilih mendaki nonstop, tetap penting memetakan titik berhenti agar tubuh mampu beradaptasi dengan udara.

Pendaki yang memaksakan diri tanpa tidur biasanya lebih cepat kehabisan tenaga menjelang puncak dan ini bisa berakhir dengan mundur sebelum garis akhir. Tanpa pemandu, kamu perlu memutuskan kapan berhenti dan kapan lanjut. Jadi cadangkan waktu ekstra untuk berjaga bila antrean panjang melambatkan langkah. Dengan perencanaan jelas, kamu bisa menikmati perjalanan lebih santai tanpa cemas mencari tempat beristirahat di menit terakhir.

4. Keamanan dan kondisi tubuh harus dipantau sendiri

potret mendaki Gunung Fuji (commons.wikimedia.org/OptimusPrime)

Meski jalur terlihat aman, Gunung Fuji tetap menghasilkan kejutan seperti hujan singkat, angin kencang, atau kabut mendadak yang bisa mengganggu pandangan. Karena tidak ada pemandu yang mengingatkan, kamu harus mengenali tanda tubuh seperti napas terengah, kepala ringan, atau perut mulai tidak nyaman. Banyak pendaki meremehkan kelelahan dan terus memaksa, padahal mundur lebih awal jauh lebih aman.

Pos ranger memang ada, tetapi mereka tidak selalu berada dekat saat kamu membutuhkan bantuan. Membawa cadangan air, makanan, dan pakaian kering merupakan strategi dasar saat mendaki tanpa pendamping. Bila kondisi tubuh turun, turun ke pos terdekat jauh lebih bijak dibanding melanjutkan hanya demi mencapai puncak. Rasa puas melihat matahari terbit memang memikat, tetapi keselamatan pulang ke rumah adalah tujuan utama.

5. Biaya lebih fleksibel, tetapi perlu perhitungan cermat

potret Gunung Fuji (commons.wikimedia.org/Alpsdake)

Dengan mendaki mandiri, kamu bisa menekan biaya dengan memesan transportasi sendiri dari Tokyo, membawa bekal minimarket, atau memilih hut dengan tarif sesuai anggaran. Banyak traveller merasa pilihan ini memberi ruang lebih luas untuk mengatur waktu dan uang secara pribadi. Kamu bisa memulai pendakian sore atau malam tanpa mengikuti waktu kumpul grup.

Meski lebih murah, pembelian alat wajib seperti headlamp, jaket gunung, dan sepatu yang layak bisa membuat biaya awal terasa meningkat bila kamu belum punya perlengkapannya. Tidak adanya pemandu berarti kamu harus menyiapkan rencana cadangan seperti jadwal bus pulang, kemungkinan hujan deras, atau jalur ditutup sementara. Uang yang kamu hemat sebaiknya dialokasikan pada perlengkapan tepat agar perjalanan berjalan aman.

Gunung Fuji memang mengizinkan pendakian mandiri selama jalur resmi dibuka dan perlengkapan kamu memadai. Petunjuk di jalur membantu. Tetapi keputusan, keselamatan, serta strategi pendakian sepenuhnya berada di tangan kamu. Jadi, siapkah kamu menapaki puncak Fuji dengan langkah kamu sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team