Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
9 Tips Mendaki Gunung selama Puasa, Tetap Kuat dan Anti Mokel!
Potret pendaki (unsplash.com/MChe Lee)

Mendaki gunung saat berpuasa memang terdengar menantang. Aktivitas fisik yang cukup berat, perubahan suhu, serta medan yang tidak selalu mudah bisa menguras energi lebih cepat dibandingkan hari biasa. Meski demikian, bukan berarti kegiatan ini mustahil dilakukan selama Ramadan.

Dengan persiapan yang matang dan strategi yang tepat, mendaki gunung saat puasa tetap bisa dilakukan secara aman dan nyaman. Berikut beberapa tips yang perlu kamu perhatikan sebelum memutuskan naik gunung dalam kondisi berpuasa.

1. Pilih gunung dan jalur yang realistis

Saat berpuasa, sebaiknya hindari gunung dengan elevasi tinggi, jalur teknis, atau waktu tempuh lebih dari dua hari jika kamu belum berpengalaman.

Prioritaskan gunung yang memiliki jalur jelas dan sudah umum dilalui pendaki, sumber air yang relatif mudah diakses, pos atau area istirahat yang memadai, estimasi waktu pendakian singkat. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko kelelahan ekstrem dan dehidrasi.

2. Latihan fisik sebelum keberangkatan

Potret pendaki (pexels.com/Stephan Seeber)

Puasa bukan waktu yang tepat untuk mendadak melakukan aktivitas berat tanpa persiapan. Idealnya, lakukan latihan fisik ringan hingga sedang 2–4 pekan sebelumnya, seperti jalan kaki cepat atau jogging ringan, latihan naik turun tangga, latihan beban ringan untuk kaki dan punggung.

Latihan ini membantu tubuh beradaptasi sehingga tidak terlalu kaget saat harus membawa carrier dan berjalan menanjak dalam kondisi berpuasa.

3. Atur strategi waktu pendakian

Waktu adalah faktor krusial. Itulah mengapa, kamu harus mengatur strategi waktu pendakian. Ada beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain sebagai berikut:

  • mulai setelah sahur, karena energi masih relatif penuh dan tubuh belum kehilangan banyak cairan,

  • hindari trekking panjang di tengah hari, karena suhu terik mempercepat dehidrasi,

  • target tiba di camp menjelang berbuka karena ini memudahkanmu langsung beristirahat dan mengisi energi, dan

Jika memungkinkan, susun itinerary dengan durasi trekking lebih pendek dibandingkan pendakian biasa.

4. Maksimalkan asupan saat sahur

Potret pendaki (pexels.com/Darina Belonogova)

Sahur adalah "bekal utama” sebelum mendaki gunung. Pastikan menu sahur mengandung karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cairan yang cukup, agar energi bertahan lebih lama. Hindari makanan terlalu asin, pedas, atau berminyak, karena bisa memicu rasa haus dan gangguan lambung.

5. Perencanaan logistik berbuka dan sahur di gunung

Berbuka di gunung memerlukan perencanaan matang. Maka dari itu, bawalah makanan yang mudah disiapkan, tidak mudah basi, dan bernutrisi.

Contohnya seperti kurma, roti gandum, sup instan rendah garam, nasi instan, atau lauk siap santap. Setelah berbuka dengan air dan makanan manis secukupnya, beri jeda sebelum makan berat, agar perut tidak kaget.

Untuk sahur di gunung, pilih menu praktis namun bergizi. Pastikan air matang tersedia dan cukup untuk kebutuhan sahur serta memasak.

6. Kurangi beban bawaan

Potret pendaki (pexels.com/Kampus Production)

Saat puasa, membawa beban 15–20 kilogram tentu jauh lebih berat dibandingkan hari biasa. Oleh karena itu, bawalah perlengkapan esensial saja, lalu gunakan perlengkapan ringan atau lightweight gear jika memungkinkan. Selain itu, bagi beban kelompok secara merata. Semakin ringan carrier, makan semakin hemat juga energi yang dikeluarkan.

7. Jaga ritme dan dengarkan tubuh

Gunakan tempo lebih lambat dari biasanya. Terapkan pola jalan santai tapi konsisten. Jangan ragu mengambil jeda istirahat lebih sering.

Segera hentikan pendakian jika muncul gejala seperti pusing berat, lemas berlebihan, pandangan berkunang-kunang, dan kram otot hebat. Ingat, keselamatan selalu lebih penting daripada ambisi mencapai puncak!

8. Perhatikan faktor cuaca dan risiko dehidrasi

Potret pendaki (pexels.com/India Uttarakhand)

Cuaca panas dan angin kering mempercepat kehilangan cairan tubuh. Pilih waktu pendakian dengan prakiraan cuaca relatif stabil. Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan melindungi dari paparan matahari langsung. Meskipun tidak bisa minum saat puasa, kamu tetap bisa menghemat cairan tubuh dengan mengurangi aktivitas berlebihan dan tidak memaksakan kecepatan.

9. Pahami aspek keselamatan dan hukum

Pastikan gunung yang didaki memang dibuka untuk umum dan mematuhi peraturan setempat. Laporkan rencana pendakian kepada keluarga atau pihak basecamp.

Jika sewaktu-waktu kondisi darurat mengancam keselamatan, kesehatan harus menjadi prioritas utama. Dalam situasi tertentu, menjaga keselamatan diri tentu lebih diutamakan.

Mendaki gunung selama puasa bukan cuma butuh kekuatan fisik, tetapi juga kedewasaan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Jika semua sudah dipersiapkan dengan baik, pengalaman ini bisa menjadi perjalanan yang tidak hanya menantang secara fisik, tetapi juga memperkaya secara spiritual. Bila kondisi dirasa kurang memungkinkan, menunda pendakian tetap menjadi pilihan paling bijak.

Editorial Team