Tips Pendakian Mengikuti Open Trip agar Aman, Nyaman, dan Tetap Solid

- Leader atau guide adalah penunjuk jalan yang berpengalaman, dengarkan arahannya dan hindari ambil keputusan sendiri.
- Jangan terlalu bersemangat di awal pendakian, ikuti ritme yang ditentukan leader agar tenaga tetap terjaga sampai summit attack atau turun gunung.
- Sikap dan tindakan kamu berdampak ke seluruh tim, jaga komunikasi dengan leader atau teman satu tim agar tidak tiba-tiba hilang tanpa kabar.
Pendakian gunung dengan sistem open trip makin populer, terutama buat kamu yang ingin naik gunung tanpa ribet ngurus logistik dan perizinan. Tinggal daftar, bayar, berangkat. Tapi jangan salah, ikut open trip bukan berarti kamu bebas bertindak sesuka hati. Ada aturan tak tertulis yang wajib dipatuhi demi keselamatan dan kenyamanan bersama.
Buat kamu yang baru pertama kali atau sudah sering ikut open trip, berikut tips pendakian mengikuti open trip yang wajib kamu pahami agar perjalanan tetap aman, solid, dan menyenangkan.
1. Dengerinnya leader, bukan ego sendiri

Leader atau guide bukan cuma sekadar penunjuk jalan. Mereka biasanya sudah berpengalaman, paham medan, cuaca, dan kondisi jalur pendakian. Jadi, saat ikut open trip, dengerin arahan leader dan jangan sok ambil keputusan sendiri.
Misalnya soal kecepatan jalan, waktu istirahat, atau batas aman pendakian. Kalau leader bilang berhenti, ya berhenti. Kalau disuruh pelan, jangan malah ngebut karena merasa fisik kuat. Ego pribadi sering jadi penyebab utama masalah di gunung, mulai dari kelelahan ekstrem sampai kecelakaan. Ingat, di alam bebas gak ada ruang buat pembuktian diri.
2. Jangan sok kuat di awal pendakian

Kesalahan klasik peserta open trip adalah terlalu bersemangat di awal. Baru jalan satu jam, sudah ngebut dan ninggalin rombongan. Padahal pendakian itu soal manajemen energi, bukan adu cepat.
Sok kuat di awal justru bikin tubuh cepat drop di tengah atau akhir jalur. Akibatnya, kamu malah jadi beban tim karena kelelahan, kram, atau bahkan hipotermia.
Lebih baik jalan santai tapi konsisten. Ikuti ritme yang ditentukan leader agar tenaga kamu tetap terjaga sampai summit attack atau turun gunung.
3. Jaga sikap, kamu bersama tim

Ikut open trip berarti kamu bukan pendaki solo. Sikap dan tindakan kamu berdampak ke seluruh tim. Mulai dari cara bicara, bercanda, sampai cara bersikap di jalur.
Hindari bercanda berlebihan yang bisa menyinggung anggota lain. Jangan meremehkan peserta yang fisiknya lebih lemah. Justru di open trip, solidaritas adalah kunci utama. Selain itu, patuhi etika pendakian: jangan buang sampah sembarangan, jangan rusak alam, dan hormati kearifan lokal. Sikap kamu mencerminkan tim, bukan cuma diri sendiri.
4. Jaga komunikasi, jangan tiba-tiba hilang

Satu hal yang paling ditakuti dalam open trip adalah peserta yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Entah karena ingin foto-foto sendiri, buang air, atau merasa bisa menyusul nanti.
Sekecil apa pun keperluan kamu, selalu komunikasi ke leader atau minimal ke teman satu tim. Gunung bukan tempat buat main hilang-hilangan. Kesalahan kecil bisa berujung pencarian darurat yang membahayakan banyak orang.
Biasakan juga memberi kabar soal kondisi fisik. Kalau mulai capek, pusing, atau mual, bilang dari awal. Jangan dipendam sampai parah.
5. Ingat, ini perjalanannya tim bukan perlombaan

Tips pendakian mengikuti open trip yang paling penting adalah mindset. Pendakian open trip bukan lomba siapa paling cepat sampai puncak. Tujuannya adalah naik dan turun gunung dengan selamat bersama-sama.
Puncak bukan segalanya. Kebersamaan, keselamatan, dan pengalaman justru jadi nilai utama dari open trip. Kadang kamu harus mengalah, memperlambat langkah, atau membantu teman lain.
Kalau kamu masih berpikir soal gengsi dan ego, sebaiknya pertimbangkan ulang ikut open trip. Karena di gunung, yang terpenting bukan siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling peduli.


















