Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Penyebab Jarak Tempuh EV Bisa Berbeda dari Angka Klaim Pabrik
ilustrasi mobil listrik di jalan (pexels.com/Borys Zaitsev)
  • Jarak tempuh EV di penggunaan nyata dapat lebih rendah dari klaim pabrik karena pengujian dilakukan dalam kondisi tertentu, sementara perjalanan harian lebih dinamis.
  • Akselerasi agresif, kecepatan tinggi, kemacetan, tanjakan, serta penggunaan pendingin atau pemanas kabin dapat meningkatkan konsumsi daya baterai.
  • Suhu lingkungan, beban penumpang dan barang, serta tekanan ban memengaruhi kinerja dan efisiensi baterai, sehingga jarak tempuh aktual bisa berubah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mobil listrik kadang tidak bisa jalan sejauh angka dari pabrik. Ini bukan selalu karena baterainya rusak. Kalau sopir ngebut, pakai AC lama, lewat jalan menanjak atau macet, baterai lebih cepat habis. Cuaca panas atau dingin, banyak orang dan barang, serta ban kurang angin juga membuat mobil lebih cepat lelah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Angka jarak tempuh yang tercantum pada mobil listrik atau electric vehicle (EV) sering menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum membeli kendaraan. Misalnya, sebuah EV diklaim mampu menempuh jarak hingga ratusan kilometer dalam sekali pengisian daya, tetapi hasil yang dirasakan saat digunakan sehari-hari bisa saja lebih rendah. Perbedaan tersebut gak selalu berarti ada masalah pada baterai, karena kondisi pengujian dan penggunaan nyata memiliki banyak perbedaan.

Kondisi jalan, gaya berkendara, suhu udara, sampai penggunaan pendingin kabin dapat memengaruhi konsumsi energi baterai secara signifikan. Angka dari pabrik pada dasarnya diperoleh melalui metode pengujian dengan kondisi tertentu, sedangkan perjalanan sehari-hari jauh lebih dinamis dan sulit diprediksi. Supaya gak salah memahami kemampuan EV, yuk kenali berbagai faktor yang dapat membuat jarak tempuh nyata berbeda dari angka klaim pabrik.

1. Gaya berkendara memengaruhi konsumsi energi

ilustrasi mengemudi mobil listrik (unsplash.com/Michael Kahn)

Gaya berkendara menjadi salah satu faktor paling mudah dirasakan ketika membandingkan jarak tempuh EV dengan angka yang tercantum pada spesifikasi. Kebiasaan melakukan akselerasi secara agresif, mempertahankan kecepatan tinggi, atau melakukan pengereman mendadak dapat membuat energi baterai terkuras lebih cepat. Sebaliknya, berkendara dengan kecepatan stabil dan akselerasi yang lebih halus cenderung membantu penggunaan energi menjadi lebih efisien.

Pengemudi juga perlu memahami bahwa bobot kendaraan dan kondisi lalu lintas ikut berpengaruh terhadap konsumsi energi. Perjalanan dengan banyak berhenti dan kembali bergerak membutuhkan energi yang berbeda dibanding perjalanan panjang dengan kecepatan konstan. Karena itu, jarak tempuh EV dalam penggunaan harian dapat berubah meskipun kapasitas baterainya tetap sama.

2. Penggunaan pendingin kabin menguras daya baterai

ilustrasi AC mobil (pexels.com/Vladimir Srajber)

Berbeda dari mobil bermesin pembakaran internal yang memiliki sumber panas dari mesin, sistem pendingin dan pemanas pada EV mengambil energi dari baterai. Ketika pendingin kabin digunakan secara intensif, sebagian energi yang tersimpan gak hanya digunakan untuk menggerakkan roda. Kondisi tersebut dapat membuat jarak tempuh yang tersisa berkurang lebih cepat, terutama ketika perjalanan berlangsung cukup lama.

Pengaruhnya bisa semakin terasa ketika kendaraan digunakan dalam cuaca yang sangat panas atau sangat dingin. Sistem pengatur suhu perlu bekerja lebih keras untuk mempertahankan kondisi kabin sesuai keinginan penumpang. Jadi, kebiasaan mengatur suhu kabin secara ekstrem atau menggunakan fitur tersebut dalam waktu lama dapat membuat hasil jarak tempuh berbeda dari angka pengujian pabrik.

3. Kondisi jalan dan lalu lintas gak selalu ideal

ilustrasi macet (pexels.com/Darya Sannikova)

Angka jarak tempuh dari pabrik diperoleh melalui pengujian dengan pola berkendara yang sudah ditentukan. Sementara itu, perjalanan sehari-hari bisa menghadirkan tanjakan, turunan, kemacetan, jalan rusak, sampai permukaan jalan yang berbeda-beda. Setiap kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah energi yang diperlukan kendaraan untuk bergerak.

Perjalanan di wilayah berbukit, misalnya, membutuhkan energi lebih besar ketika kendaraan harus terus menanjak. Kemacetan juga membuat kendaraan mengalami siklus berhenti dan bergerak secara berulang, meskipun sistem pengereman regeneratif pada EV dapat membantu mengembalikan sebagian energi. Kondisi jalan yang semakin berat akhirnya dapat membuat jarak tempuh aktual berada di bawah angka klaim.

4. Suhu lingkungan dapat memengaruhi kinerja baterai

ilustrasi mobil listrik saat hujan (pexels.com/Holyson h)

Baterai EV sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu di sekitarnya karena proses penyimpanan dan pelepasan energi memiliki karakteristik tertentu. Suhu yang terlalu rendah dapat membuat performa baterai menurun dan sebagian energi digunakan untuk menjaga baterai tetap berada pada kondisi kerja yang sesuai. Pada cuaca yang sangat panas, sistem pengelolaan suhu baterai juga dapat membutuhkan energi tambahan.

Pengaruh suhu tersebut membuat jarak tempuh EV pada suatu wilayah belum tentu sama dengan hasil pengujian di tempat lain. Perjalanan pada pagi yang dingin, siang yang sangat panas, atau kondisi cuaca ekstrem dapat menghasilkan konsumsi energi yang berbeda. Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa angka pada brosur sebaiknya dipandang sebagai acuan, bukan jaminan jarak yang selalu tercapai.

5. Beban kendaraan dan kondisi ban ikut berpengaruh

ilustrasi beban mobil (pexels.com/Karola G)

Jumlah penumpang dan barang yang dibawa juga dapat memengaruhi energi yang diperlukan EV selama perjalanan. Semakin berat beban kendaraan, semakin besar pula tenaga yang dibutuhkan untuk mempertahankan pergerakan, terutama saat berakselerasi atau melewati tanjakan. Perbedaan beban yang cukup besar akhirnya dapat membuat konsumsi energi meningkat dibanding kondisi pengujian yang lebih terkontrol.

Kondisi ban juga gak boleh dianggap sepele karena tekanan ban yang kurang sesuai dapat meningkatkan hambatan gulir. Ban yang memiliki hambatan gulir lebih besar membuat motor listrik membutuhkan energi tambahan untuk menggerakkan kendaraan. Karena itu, menjaga tekanan ban sesuai rekomendasi pabrikan dan membawa beban secara wajar dapat membantu EV mencapai efisiensi yang lebih baik.

Perbedaan antara jarak tempuh EV di dunia nyata dan angka klaim pabrik merupakan hal yang wajar karena kondisi perjalanan gak pernah benar-benar identik dengan pengujian. Gaya berkendara, suhu, kondisi jalan, penggunaan pendingin kabin, serta beban kendaraan dapat membuat konsumsi energi berubah. Dengan memahami faktor tersebut, pemilik EV dapat memperkirakan jarak tempuh secara lebih realistis dan menggunakan energi baterai secara lebih bijak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article