Amankah Menyetir Menggunakan Satu Tangan? Ini Faktanya

- Menyetir dengan satu tangan dapat mengurangi kendali dan membatasi manuver cepat saat pengereman mendadak, perpindahan jalur, atau rintangan tiba-tiba.
- Risiko meningkat di jalan berlubang, licin, bertikungan, dan padat; memegang ponsel atau mengatur perangkat saat mobil bergerak juga membagi perhatian.
- Pengemudi dianjurkan memegang setir dengan dua tangan sekitar posisi pukul sembilan dan tiga, menyesuaikan posisi duduk, kecepatan, serta jarak aman.
Sebagian pengemudi terbiasa memegang setir mobil hanya dengan satu tangan, terutama ketika berkendara di jalan yang terasa lengang. Posisi ini sering dianggap lebih santai, bahkan ada yang melakukannya karena tangan lainnya digunakan untuk mengoperasikan tuas transmisi atau mengatur perangkat di kabin.
Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu aman. Kemampuan mengendalikan mobil bisa berkurang ketika pengemudi hanya menggunakan satu tangan, terutama saat harus bereaksi terhadap situasi mendadak. Tingkat risikonya bergantung pada kondisi jalan, kecepatan kendaraan, posisi tangan, dan perhatian pengemudi selama perjalanan.
1. Kendali setir bisa berkurang saat situasi darurat

ilustrasi setir (pexels.com/Luke Miller) Mengemudi dengan kedua tangan pada setir memberikan kendali yang lebih baik ketika mobil harus berbelok atau menghindari rintangan. Jika kendaraan di depan mengerem mendadak atau ada pengendara lain yang tiba-tiba berpindah jalur, pengemudi mungkin perlu melakukan koreksi arah dengan cepat. Dalam situasi seperti ini, dua tangan membantu memberikan kendali yang lebih stabil.
Menggunakan satu tangan bukan berarti mobil langsung sulit dikendalikan. Pada jalan lurus dan kondisi lalu lintas yang tenang, pengemudi mungkin masih mampu menjaga arah kendaraan. Namun, kemampuan melakukan manuver cepat dapat menjadi lebih terbatas, terutama jika tangan yang tersisa tidak berada pada posisi yang siap mengendalikan setir. Karena itu, membiasakan kedua tangan tetap siap pada setir merupakan pilihan yang lebih aman.
2. Posisi tangan dan kondisi jalan menentukan risiko

ilustrasi setir mobil (pexels.com/Erik Mclean) Risiko mengemudi dengan satu tangan meningkat ketika mobil melewati jalan berlubang, tikungan tajam, permukaan licin, atau jalur dengan lalu lintas padat. Benturan roda dengan lubang dapat mengubah arah setir secara tiba-tiba, sementara kondisi licin membutuhkan koreksi kemudi yang halus dan tepat. Dalam situasi tersebut, kendali yang baik sangat diperlukan agar mobil tetap berada di jalurnya.
Posisi tangan juga berpengaruh. Mengemudi sambil menyandarkan satu tangan terlalu jauh dari setir atau memegang kemudi pada bagian yang menyulitkan gerakan cepat bisa mengurangi kesiapan melakukan manuver. Selain itu, tangan yang digunakan untuk memegang ponsel, mengambil barang, atau mengatur perangkat hiburan membuat perhatian dan kemampuan mengendalikan kendaraan terbagi. Aktivitas tersebut sebaiknya dilakukan setelah mobil berhenti di tempat aman.
3. Biasakan teknik memegang setir yang aman

ilustrasi setir mobil (pexels.com/Emre Kalyoncu) Untuk berkendara sehari-hari, pengemudi sebaiknya memegang setir dengan kedua tangan pada posisi yang nyaman dan memungkinkan kontrol optimal. Posisi sekitar pukul sembilan dan tiga sering direkomendasikan karena membantu pengemudi mengarahkan kendaraan dengan baik. Sesuaikan posisi duduk agar lengan tidak terlalu lurus atau terlalu menekuk, sehingga setir dapat diputar dengan leluasa.
Jika mobil menggunakan transmisi manual, lepaskan tangan dari setir hanya seperlunya untuk memindahkan gigi, lalu kembalikan ke posisi kemudi. Pada mobil otomatis, hindari menggunakan tangan untuk aktivitas lain selama kendaraan bergerak. Pengemudi juga perlu menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan dan menjaga jarak aman dari kendaraan di depan agar memiliki waktu lebih banyak untuk bereaksi.
Pada akhirnya, menyetir dengan satu tangan tidak selalu langsung menyebabkan kecelakaan, tetapi dapat mengurangi kesiapan menghadapi keadaan mendadak. Menjaga kedua tangan tetap siap mengendalikan setir, memusatkan perhatian pada jalan, dan menghindari aktivitas yang mengalihkan fokus merupakan kebiasaan penting untuk keselamatan berkendara.




















