Apa Beda PHEV, BEV, HEV, dan FCEV? Berikut Penjelasannya

PHEV menggabungkan bensin dan baterai yang dapat dicas eksternal, dengan tenaga listrik sebagai prioritas.
BEV sepenuhnya memakai baterai tanpa bensin dan perlu pengisian daya, sedangkan HEV mengutamakan bensin dengan baterai kecil.
FCEV menghasilkan listrik dari reaksi hidrogen dan oksigen dalam sel bahan bakar.
Pada 2026, kehadiran mobil elektrik seakan-akan menjadi pemandangan yang lumrah. Dewasa ini mobil elektrik mulai memenuhi jalan dan produsen juga terus memproduksi model terbaru tiap tahunnya. Namun, tahukah kamu bahwa ada banyak jenis mobil elektrik seperti PHEV, BEV, HEV, dan FCEV?
Tiap jenis mobil elektrik memiliki kelebihan, kekurangan, dan mekanisme kelistrikan yang berbeda. Kamu juga harus cermat dan jangan sampai salah ketika hendak beli mobil elektrik. Karena itu, mari kita ulik apa beda PHEV, BEV, HEV, dan FCEV di artikel berikut agar kamu tak salah beli!
Table of Content
1. Penjelasan mobil PHEV
Laman resmi Jaecoo menerangkan bahwa Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) atau Plug-in Hybrid adalah mobil elektrik berbasis hybrid yang menggabungkan mesin bensin dan baterai. Mobil ini sangat unik karena baterainya bisa dicas secara eksternal menggunakan charger, serupa dengan mobil listrik murni.
PHEV lebih mengutamakan tenaga dari baterai listrik dan hanya menggunakan bensin ketika daya baterainya berkurang. Jadi, pada awal perjalanan mobil akan bergerak dengan tenaga dari baterai. Ketika daya baterai berkurang mobil akan beralih secara otomatis ke mode gabungan antara elektrik dan bensin.
Selain mengisi daya lewat charger, baterai PHEV juga bisa terisi melalui pembakaran internal mesin dan pengereman regeneratif. Baterai PHEV juga cenderung besar, tapi tidak sebesar mobil listrik murni yang tak memakai bensin sama sekali. Berfokus pada tenaga dari baterai, PHEV lebih rendah emisi. Lebih lanjut, Land Rover Range Rover Velar adalah salah satu contoh PHEV.
2. Penjelasan mobil BEV

AION V, salah satu mobil BEV (aionindonesia.com) Battery Electric Vehicle (BEV) mungkin adalah jenis mobil elektrik paling populer di kalangan pencinta otomotif. Seperti namanya, BEV secara penuh menggunakan baterai listrik untuk menggerakan mobil. Jadi, mobil ini sama sekali tidak membutuhkan bensin atau BBM.
Karena itu, BEV biasanya memiliki kapasitas baterai terbesar dari mobil elektrik lain. BEV bekerja dengan cara mengubah baterai DC (direct current) menjadi AC (alternating current) lewat inverter. Perubahan tersebut akan menghasilkan daya listrik, mampu memberikan tenaga, dan akhirnya akan menggerakan mobil.
Ketika dayanya habis baterai mobil listrik harus dicas. Waktu pengecasannya bervariasi, yaitu hanya beberapa menit (menggunakan fast charging) hingga seharian penuh. BEV juga tidak menghasilkan gas buang sehingga sangat ramah lingkungan. Wuling Air EV, Hyundai Ioniq 5, dan BYD Atto 1 adalah beberapa contoh BEV di Tanah Air.
3. Penjelasan mobil HEV
Hybrid Electric Vehicles (HEV) memiliki kemiripan dengan PHEV, yaitu sama-sama menggunakan baterai dan bensin. Bedanya, HEV lebih mengutamakan bensin daripada baterai. Dilansir Horse Powertrain, baterai atau tenaga elektrik di HEV hanya digunakan dalam jangka waktu yang pendek.
Baterainya hanya memberikan tenaga tambahan saat mobil menanjak, membutuhkan power lebih, saat terjadi kemacetan, atau ketika kendaraan berada di kecepatan rendah. Selain itu, daya listriknya juga akan bekerja otomatis sehingga kamu tak perlu mengaturnya. Jadi, baterai di HEV bukan pemberi daya utama, tapi berfungsi sebagai pendamping agar konsumsi bahan bakar mobil jadi makin efisien.
Baterai HEV juga tak bisa dicas, berbeda dengan PHEV dan BEV. Pengisian daya baterai HEV dilakukan melaluisistem regeneratif, salah satunya pengereman regeneratif. Kapasitas baterainya juga tergolong kecil. Contoh mobil hybrid di Indonesia adalah Toyota Veloz Hybrid, Suzuki Ertiga Hybrid, dan Wuling Almaz Hybrid.
4. Penjelasan mobil FCEV

Toyota Mirai, salah satu mobil FCEV (commons.wikimedia.org/Turbo-myu-z) Jenis mobil elektrik yang terakhir adalah Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV). Mobil ini punya mekanisme kelistrikan yang paling berbeda karena tidak menggunakan baterai.
Sebaliknya, FCEV menghasilkan listrik melalui proses kimia dalam fuell cell atau sel bahan bakar. Nantinya, proses tersebut bisa mengubah hidrogen di dalam tangki dan oksigen menjadi listrik yang akan menggerakan mobil.
Pengisian dayanya bukan dengan dicas, melainkan langsung memasukan gas hidrogen ke dalam tangki melalui nosel khusus. Nah, pengisian tersebut hanya bisa dilakukan di stasiun pengisian hidrogen.
Proses pengisiannya juga cepat, yaitu hanya 3-5 menit. Sekali mengisi mobil langsung bisa menempuh jarak hingga 600 kilometer, menjadikannya lebih efisien dari PHEV, BEV, atau HEV. Sayangnya, mobil FCEV masih terbatas, beberapa di antaranya adalah Toyota Mirai, Honda Clarity, dan Hyundai Nexo 2021.
5. Perbedaan PHEV, BEV, HEV, dan FCEV
Bisa disimpulkan bahwa PHEV adalah mobil elektrik yang menggunakan baterai dan bensin. Namun, tenaga utamanya berada di baterai itu sendiri.
BEV adalah mobil elektrik yang secara penuh menggunakan tenaga baterai tanpa bantuan bensin sama sekali. Di sisi lain, HEV adalah mobil hybrid yang menggunakan baterai dan bensin secara bersamaan.
HEV mirip dengan PHEV, tapi tenaganya diutamakan ke bensin, banterai hanya sebagai pendukung, dan baterainya tak bisa dicas. Sementara itu, FCEV adalah mobil yang mengkonversi hidrogen menjadi listrik.
Demikian pembahasan terkait apa beda PHEV, BEV, HEV, dan FCEV. Tak hanya menambah pengetahuan, pembahasan tersebut juga bisa menjadi referensimu sebelum beli mobil elektrik.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















