Beralih ke Pertalite Biar Hemat, Ini yang Harus Kamu Korbankan

- Kenaikan harga Pertamax membuat banyak pengendara beralih ke Pertalite demi menghemat biaya, meski tidak sesuai dengan kebutuhan mesin berkompresi tinggi.
- Penggunaan Pertalite pada mesin modern dapat memicu knocking yang merusak piston dan silinder, berujung pada biaya servis besar akibat kerusakan mekanis serius.
- Pertalite tanpa aditif pembersih menyebabkan penumpukan karbon dan efisiensi termal menurun, membuat konsumsi bahan bakar justru lebih boros dari perkiraan awal.
Kenaikan harga bahan bakar minyak jenis Pertamax yang cukup signifikan dari semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memicu dilema besar bagi para pemilik kendaraan. Demi menekan pengeluaran harian yang kian membengkak, tidak sedikit pemilik mobil maupun sepeda motor modern yang akhirnya mengambil jalan pintas dengan turun kelas menggunakan Pertalite. Langkah ini secara sekilas memang terlihat sangat menguntungkan bagi dompet karena adanya selisih harga yang lumayan besar setiap kali melakukan pengisian di stasiun pengisian bahan bakar.
Namun, keputusan untuk beralih ke bahan bakar dengan nilai oktan atau Research Octane Number (RON) 90 ini sering kali diambil tanpa mempertimbangkan efek jangka panjang pada sektor dapur pacu. Kendaraan generasi terbaru umumnya telah dirancang dengan spesifikasi mesin kompresi tinggi yang membutuhkan asupan bahan bakar minimal RON 92. Ketika dipaksa menenggak bahan bakar di bawah standar pabrikan, kalkulasi hemat harian tersebut justru berpotensi berubah menjadi bumerang finansial yang menuntut biaya servis jauh lebih mahal di kemudian hari.
1. Kerusakan piston akibat fenomena ketukan dini di ruang bakar

Dampak instan yang paling merusak akibat penggunaan Pertalite pada mesin kompresi tinggi adalah munculnya gejala knocking atau mesin menggelitik. Bahan bakar RON 90 memiliki daya tahan yang rendah terhadap tekanan, sehingga bensin akan meledak secara prematur akibat panas dan kompresi tinggi sebelum busi sempat memercikkan api. Ledakan dini yang tidak terkendali ini menciptakan gelombang kejut ekstrem yang menghantam permukaan piston saat komponen tersebut masih bergerak naik ke atas menuju titik mati atas.
Benturan hidrolik yang terjadi secara terus-menerus selama berbulan-bulan akan menyiksa struktur mekanis di dalam silinder mesin secara brutal. Akibat jangka panjang dari fenomena ini adalah terjadinya keretakan pada kepala piston, kerusakan pada dinding silinder yang menjadi baret, hingga risiko stang seher menjadi bengkok. Ketika kerusakan fisik ini sudah terjadi, pemilik kendaraan tidak memiliki pilihan lain selain melakukan proses turun mesin total yang memakan biaya perbaikan hingga jutaan rupiah.
2. Penyumbatan sistem injeksi akibat hilangnya zat aditif pembersih

Selain masalah ketukan dini, penurunan kelas bahan bakar juga berdampak langsung pada tingkat kebersihan bagian dalam mesin. Pertamax memiliki keunggulan berupa kandungan formula aditif detergency yang berfungsi aktif meluruhkan sisa-sisa pembakaran serta menjaga kebersihan saluran bahan bakar. Sebaliknya, Pertalite tidak dibekali dengan zat pembersih seefektif itu, sehingga pembakaran yang tidak sempurna pada mesin kompresi tinggi akan menyisakan residu berupa jelaga karbon yang pekat.
Kerak karbon yang dihasilkan oleh pembakaran RON 90 ini lama-kelamaan akan menumpuk dan menyumbat lubang mikroskopis pada nosel injektor kendaraan. Sumbatan tersebut membuat semprotan bensin tidak lagi berbentuk kabut halus, melainkan berupa tetesan kasar yang membuat pasokan bahan bakar menjadi tidak stabil dan pincang. Untuk mengembalikan performa seperti semula, diperlukan biaya perawatan ekstra seperti servis pembersihan injektor secara berkala atau bahkan penggantian komponen injektor baru yang harganya cukup menguras kantong.
3. Penurunan efisiensi termal yang membuat konsumsi bensin lebih boros

Salah kaprah terbesar dari perpindahan ke Pertalite adalah keyakinan bahwa pengeluaran untuk membeli bahan bakar pasti akan menjadi lebih hemat. Padahal, penurunan nilai oktan secara langsung mengacaukan efisiensi termal dan daya dorong yang dihasilkan oleh piston kendaraan. Karena waktu pembakaran bergeser dari titik ideal, tenaga yang diproduksi oleh mesin menjadi gembos, loyo, dan kurang responsif saat tuas atau pedal gas diinjak.
Untuk mendapatkan kecepatan yang sama seperti saat menggunakan Pertamax, pengemudi secara tidak sadar akan menginjak pedal gas lebih dalam atau menahan putaran mesin lebih tinggi. Tindakan ini membuat komputer kendaraan memerintahkan injektor untuk menyemprotkan bensin dalam jumlah yang jauh lebih banyak ke ruang bakar. Alhasil, volume penggunaan Pertalite menjadi jauh lebih boros, sehingga selisih keuntungan dari harga murah per liter tadi menguap begitu saja karena frekuensi pengisian bensin menjadi lebih sering.


















