Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Berapa persen BBM yang Terbuang Percuma karena Ban Kurang Angin

Berapa persen BBM yang Terbuang Percuma karena Ban Kurang Angin
ilustrasi memompa ban mobil (vecteezy.com/Panuwat Dangsungnoen)
Intinya Sih
  • Ban kurang angin 5 psi bisa tingkatkan hambatan gulir dan bikin konsumsi BBM boros hingga 2–3 persen karena mesin harus kerja lebih keras.
  • Kerugian finansial akibat ban kempis bisa capai ratusan ribu rupiah per tahun, ditambah risiko ban cepat aus dan perlu diganti lebih sering.
  • Pengecekan tekanan angin tiap dua minggu serta penggunaan nitrogen bantu jaga efisiensi bahan bakar, performa kendaraan, dan umur ban tetap optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kesehatan ban sering kali luput dari perhatian pemilik kendaraan dibandingkan dengan perawatan mesin atau penggantian oli rutin. Padahal, ban adalah satu-satunya komponen yang bersentuhan langsung dengan permukaan jalan, sehingga kondisinya sangat menentukan seberapa besar energi yang dibutuhkan mesin untuk menggerakkan beban kendaraan secara keseluruhan.

Penurunan tekanan udara yang tampak sepele, seperti berkurangnya 5 psi dari standar pabrikan, ternyata memiliki efek domino yang merugikan secara finansial. Fenomena ini bukan sekadar masalah kenyamanan berkendara, melainkan kebocoran anggaran biaya operasional harian akibat pemborosan bahan bakar yang terjadi secara terus-menerus tanpa disadari oleh pengemudi di balik kemudi.

1. Mekanisme hambatan gulir dan pemborosan energi mesin

ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)
ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)

Secara teknis, ban yang kekurangan tekanan udara sebesar 5 psi akan mengalami perubahan bentuk atau deformasi pada bagian dinding samping dan tapaknya. Ban yang mengempis memiliki area kontak (patch) yang lebih lebar dan lebih "lembek" saat bergesekan dengan aspal. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai hambatan gulir atau rolling resistance yang jauh lebih tinggi dibandingkan ban dengan tekanan udara ideal.

Berdasarkan berbagai pengujian otomotif, setiap kekurangan tekanan sebesar 5 psi dapat menyebabkan pemborosan bahan bakar sekitar 2 persen hingga 3 persen. Jika tekanan udara terus dibiarkan rendah dalam jangka waktu lama, mesin harus bekerja ekstra keras untuk melawan gaya gesek tambahan tersebut. Energi yang seharusnya digunakan untuk mendorong mobil melaju justru terbuang percuma hanya untuk mengatasi hambatan mekanis pada karet ban yang tidak membulat sempurna.

2. Akumulasi kerugian finansial dalam jangka panjang

ilustrasi ban mobil (pexels.com/artem)
ilustrasi ban mobil (pexels.com/artem)

Meskipun angka 2 persen terdengar kecil, akumulasi kerugiannya dalam penggunaan tahunan cukup signifikan bagi dompet pemilik kendaraan. Jika sebuah mobil menghabiskan biaya bensin rata-rata Rp1,5 juta per bulan, maka uang yang terbuang sia-sia hanya karena ban kurang angin mencapai Rp30.000 hingga Rp45.000 setiap bulannya. Dalam satu tahun, pemilik kendaraan secara tidak sadar telah "menyumbangkan" lebih dari Rp500.000 ke aspal tanpa mendapatkan manfaat jarak tempuh tambahan.

Kerugian ini akan berlipat ganda jika mempertimbangkan usia pakai ban itu sendiri. Ban yang sering kekurangan angin 5 psi akan mengalami kenaikan suhu yang ekstrem akibat gesekan berlebih, yang mengakibatkan tapak ban aus tidak merata dan dinding ban lebih cepat retak. Biaya penggantian ban yang lebih cepat dari jadwal seharusnya, ditambah dengan pemborosan bensin bulanan, menjadikan kelalaian mengecek tekanan angin sebagai salah satu kesalahan manajemen keuangan otomotif yang paling mahal namun sering diabaikan.

3. Langkah preventif untuk menjaga efisiensi maksimal

ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)
ilustrasi memasang ban mobil (unsplash.com/Benjamin Brunner)

Menjaga tekanan angin sesuai rekomendasi pabrikan yang tertera pada pilar pintu pengemudi adalah cara termurah untuk memastikan kendaraan tetap irit. Pengecekan rutin minimal dua minggu sekali sangat disarankan, karena ban secara alami akan kehilangan tekanan udara sekitar 1 psi setiap bulannya akibat proses osmosi mikroskopis melalui pori-pori karet. Mengandalkan penglihatan mata saja sering kali menipu, karena ban modern bertipe radial sering kali tidak terlihat kempis meski tekanannya sudah turun cukup jauh.

Penggunaan nitrogen juga bisa menjadi pilihan cerdas untuk menjaga stabilitas tekanan udara di dalam ban. Nitrogen memiliki molekul yang lebih besar dibandingkan oksigen biasa, sehingga lebih sulit merembes keluar dan suhu di dalam ban tetap terjaga lebih dingin saat digunakan di jalan tol yang panas. Dengan disiplin menjaga tekanan angin tetap presisi, efisiensi bahan bakar dapat dipertahankan pada titik puncaknya, performa pengereman menjadi lebih pakem, dan usia pakai ban dapat diperpanjang secara maksimal demi keamanan serta kenyamanan seluruh penumpang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More