Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BYD Kembangkan Robot Humanoid, Siap Dijual Lewat Jaringan Diler

BYD Kembangkan Robot Humanoid, Siap Dijual Lewat Jaringan Diler
BYD siapkan robot humanoid (Dok. Carnewschina)
Intinya Sih
  • BYD mengembangkan robot humanoid sebagai langkah ekspansi di luar industri otomotif, memanfaatkan kesamaan teknologi antara kendaraan pintar dan robot seperti sensor, baterai, serta kecerdasan buatan.
  • Perusahaan berencana memasarkan robot humanoid melalui jaringan diler mobilnya yang luas, memungkinkan distribusi cepat ke pasar rumah tangga dan potensi penggunaan di showroom BYD sendiri.
  • BYD juga menyiapkan platform terbuka untuk kolaborasi dengan perusahaan robotika lain, guna memperluas ekosistem dan menghadirkan berbagai produk hasil pengembangan bersama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - BYD mengonfirmasi tengah mengembangkan robot humanoid sebagai bagian dari ekspansi bisnis di luar industri otomotif. Produsen kendaraan listrik asal China itu bahkan membuka peluang menjual robot tersebut melalui jaringan diler yang selama ini digunakan untuk memasarkan mobil.

Melansir Carnewschina, pernyataan tersebut disampaikan langsung Executive Vice President BYD, Li Ke, yang menilai industri robot humanoid memiliki keterkaitan teknologi yang sangat erat dengan kendaraan pintar modern.

Menurutnya, kemampuan manufaktur, perangkat lunak, dan perangkat keras menjadi faktor utama yang menentukan daya saing di sektor robotika.

1. BYD sebut teknologi mobil dan robot berasal dari fondasi yang sama

Mobil listrik BYD Atto 1 STD berwarna hitam diparkir di depan gedung kaca dengan desain modern dan lampu depan menyala.
Tampilan BYD Atto 1 STD (Dok. Istimewa)

Li Ke menjelaskan, pengembangan robot humanoid bukanlah lompatan yang terlalu jauh bagi perusahaan otomotif.

Sebab, banyak teknologi inti yang digunakan pada kendaraan pintar saat ini juga dibutuhkan oleh robot humanoid, mulai dari sensor, aktuator elektrik, baterai, platform komputasi, hingga kecerdasan buatan (AI).

Dalam wawancara tersebut, Li Ke mengatakan, “Automotive software is complex, and porting it into robots is very easy for us.” Ia menegaskan, pengalaman BYD dalam mengembangkan kendaraan pintar memberikan keuntungan tersendiri saat memasuki industri robotika.

Kesamaan teknologi itu membuat sejumlah pabrikan otomotif China mulai melihat robot humanoid sebagai perluasan alami dari ekosistem bisnis mereka.

Selain kemampuan teknologi, produsen mobil juga memiliki pengalaman dalam produksi massal, manajemen rantai pasok, dan pengembangan sistem yang mengutamakan keselamatan.

2. Robot humanoid berpotensi dipasarkan lewat jaringan diler

Mobil listrik BYD Atto 3 terbaru berwarna biru toska diparkir di area terbuka dengan latar gedung pencakar langit modern.
BYD Atto 3 terbaru meluncur (Dok. Carnewschina)

Salah satu hal menarik dari rencana BYD adalah pemanfaatan jaringan distribusi kendaraan yang sudah dimiliki saat ini.

Li Ke mengungkapkan, apabila robot humanoid nantinya siap digunakan di lingkungan rumah tangga, produk tersebut bisa dipasarkan melalui jaringan diler BYD yang telah tersebar luas.

Strategi tersebut dinilai dapat menjadi keunggulan kompetitif karena sebagian besar perusahaan robotika belum memiliki jaringan penjualan dan layanan purnajual sebesar produsen otomotif. Dengan infrastruktur yang sudah tersedia, BYD berpotensi mempercepat proses komersialisasi robot humanoid ke pasar konsumen.

Selain untuk penggunaan rumah tangga, BYD juga disebut mempertimbangkan pemanfaatan robot humanoid di jaringan ritelnya sendiri.

Robot tersebut berpotensi digunakan sebagai pemandu pelanggan atau staf pendukung di showroom, terutama di pasar luar negeri yang menghadapi tantangan perekrutan tenaga kerja dan kebutuhan layanan multibahasa.

3. Siapkan platform terbuka untuk mitra robotika

IMG_0263.jpeg
Interior BYD Great Tang (Carnewschina)

BYD tidak hanya berencana memproduksi robot dengan mereknya sendiri. Perusahaan juga mempertimbangkan membangun platform terbuka yang memungkinkan kolaborasi dengan perusahaan robotika lain.

Skema ini mirip dengan strategi BYD di industri otomotif yang mengembangkan teknologi inti secara internal sambil tetap bekerja sama dengan berbagai mitra dan pemasok.

Menurut Li Ke, pendekatan tersebut memungkinkan BYD memproduksi robot hasil pengembangan sendiri sekaligus mengakomodasi produk yang dibuat bersama perusahaan lain.

Dengan demikian, perusahaan dapat memperluas ekosistem robotika tanpa harus mengandalkan satu model bisnis saja.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib

Related Articles

See More