Tesla Raih Rekor Pengiriman Tetapi Sahamnya Anjlok Parah

Pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla, baru saja mencatatkan rekor pengiriman kendaraan tertinggi sepanjang sejarah kuartal keduanya tahun ini. Pencapaian luar biasa tersebut sempat memberikan sinyal positif bagi kebangkitan penjualan perusahaan di pasar global.
Namun, kejayaan tersebut mendadak sirna setelah laporan keuangan resmi dirilis ke publik. Sebagaimana dilaporkan oleh carscoops.com, nilai saham Tesla langsung merosot tajam dan mengikis nilai pasar perusahaan hingga miliaran dolar AS dalam satu hari perdagangan saja.
1. Rekor pengiriman kendaraan yang ditopang oleh Model 3 dan Model Y

Sepanjang bulan April hingga Juni, Tesla berhasil memproduksi sebanyak 451.758 unit kendaraan dan mendistribusikan hingga 480.126 unit ke tangan konsumen. Angka pengiriman ini melonjak 25 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sekaligus mengakhiri tren penurunan yang sempat terjadi.
Porsi terbesar dari kesuksesan pengiriman tersebut masih didominasi oleh Model 3 dan Model Y yang menyumbang sebanyak 467.762 unit. Sisanya terbagi untuk model lain seperti Cybertruck, Semi, serta Model S dan X. Lonjakan permintaan ini juga didorong oleh peningkatan pasar di wilayah Eropa dan Asia Pasifik.
2. Penurunan saham terburuk dan hilangnya nilai kapitalisasi pasar

Keberhasilan penjualan tersebut ternyata tidak sejalan dengan respons yang terjadi di bursa saham Wall Street. Pada penutupan perdagangan hari Kamis, saham Tesla tercatat merosot hingga 14,5 persen ke angka 319,69 dolar AS per lembar.
Kondisi tersebut menghapus nilai kapitalisasi pasar perusahaan dalam jumlah yang sangat fantastis hanya dalam satu sesi. Menurut laporan dari WSJ, "itu adalah hari tunggal terburuk dalam sejarah Tesla, dan jumlah yang hilang melebihi seluruh kapitalisasi pasar saat ini dari setiap produsen mobil lainnya." Nilai yang lenyap dari penurunan tersebut diperkirakan mencapai 214,5 miliar dolar AS.
3. Peningkatan investasi kecerdasan buatan yang menggerus margin laba

Secara keseluruhan, total pendapatan Tesla sebenarnya tumbuh 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 28,24 miliar dolar AS. Sebagian besar pendapatan tersebut disumbang oleh sektor otomotif, dilanjutkan oleh bisnis energi solar serta layanan servis pendukung lainnya.
Meski pendapatan meningkat, margin kotor perusahaan justru merosot menjadi 16,8 persen dan laba bersih mengalami penurunan sebesar 5 persen. Penurunan keuntungan ini dipicu oleh biaya operasional yang membengkak akibat investasi besar-besaran pada teknologi kecerdasan buatan (AI) serta proyek penelitian dan pengembangan. Selain itu, penurunan harga jual rata-rata kendaraan listrik juga turut menekan marjin laba perusahaan.


















