Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ciri Percakapan Mencurigakan dalam Penipuan Segitiga

ilustrasi menjual mobil (pexels.com/craig)
ilustrasi menjual mobil (pexels.com/craig)
Intinya sih...
  • Instruksi untuk merahasiakan detail transaksi saat pertemuan
    • Permintaan untuk tidak membahas harga saat pengecekan unit adalah tanda bahaya
    • Komunikasi yang sehat haruslah transparan dan segala bentuk permintaan untuk menyembunyikan informasi harus diwaspadai
    • Pengalihan komunikasi keluar dari platform resmi aplikasi
      • Penipu menggiring korban berkomunikasi di luar fitur pesan resmi aplikasi jual beli
      • Menciptakan rasa urgensi palsu agar korban segera melakukan transaksi diluar aplikasi
      • Ketidaksesuaian data identitas dan perminta
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Modus penipuan segitiga sering kali dimulai dengan percakapan yang tampak sangat meyakinkan namun memiliki pola manipulasi yang sistematis. Penipu berperan sebagai perantara bayangan yang berusaha mengontrol arus informasi antara pemilik barang dan calon pembeli agar keduanya tidak saling berkomunikasi secara jujur mengenai harga dan tujuan pembayaran.

Kejelian dalam mengenali gaya bicara dan instruksi yang tidak wajar di aplikasi jual beli menjadi kunci utama untuk menghindari kerugian finansial yang besar. Melalui deteksi dini terhadap tanda-tanda komunikasi yang mencurigakan, keamanan transaksi dapat tetap terjaga tanpa harus terjebak dalam skema rumit yang dirancang oleh pelaku kejahatan siber.

1. Instruksi untuk merahasiakan detail transaksi saat pertemuan

ilustrasi menjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi menjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Ciri paling klasik dalam penipuan segitiga adalah adanya permintaan dari pelaku kepada penjual maupun pembeli untuk tidak membahas harga saat pengecekan unit. Penipu biasanya memberikan alasan yang terdengar masuk akal, seperti mengatakan bahwa kendaraan tersebut adalah untuk melunasi utang, hadiah untuk saudara, atau titipan atasan yang tidak ingin diketahui harga aslinya. Instruksi untuk tetap "diam" atau mengikuti skenario tertentu adalah tanda bahaya merah yang menunjukkan bahwa pelaku sedang berusaha memutus komunikasi langsung.

Jika calon pembeli atau penjual diminta untuk mengaku sebagai saudara atau rekan kerja saat bertemu dengan pihak lain, maka hampir bisa dipastikan itu adalah upaya penipuan. Penipu membutuhkan kerahasiaan ini agar perbedaan harga yang ia tawarkan kepada pembeli (biasanya jauh lebih murah) dan harga yang ia sepakati dengan penjual asli tidak terbongkar. Komunikasi yang sehat dalam jual beli haruslah transparan, sehingga segala bentuk permintaan untuk menyembunyikan informasi kepada orang yang ditemui di lokasi harus segera diwaspadai.

2. Pengalihan komunikasi keluar dari platform resmi aplikasi

ilustrasi menjual mobil (freepik.com/freepik
ilustrasi menjual mobil (freepik.com/freepik

Penipu hampir selalu berusaha menggiring calon korbannya untuk berkomunikasi di luar fitur pesan resmi yang disediakan oleh aplikasi jual beli, seperti melalui WhatsApp. Alasan yang sering digunakan adalah agar lebih mudah mengirimkan foto, video, atau lokasi secara real-time. Namun, tujuan sebenarnya adalah untuk menghindari sistem pengawasan keamanan aplikasi dan penghapusan jejak percakapan jika nantinya akun mereka dilaporkan atau diblokir.

Dalam percakapan di luar aplikasi, penipu cenderung sangat agresif dalam menekan korban agar segera melakukan transaksi. Mereka sering kali menciptakan rasa urgensi yang palsu, misalnya dengan mengeklaim bahwa sudah banyak orang lain yang mengantre untuk membeli kendaraan tersebut atau mereka sedang butuh uang mendesak untuk biaya rumah sakit. Kewaspadaan harus ditingkatkan jika profil pelaku tidak memiliki riwayat transaksi yang jelas namun sangat mendesak agar pembayaran atau uang tanda jadi segera dikirimkan ke nomor rekening yang tidak sesuai dengan nama pemilik dokumen.

3. Ketidaksesuaian data identitas dan permintaan pembayaran ke pihak ketiga

ilustrasi pembeli dan penjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)
ilustrasi pembeli dan penjual mobil (pexels.com/Gustavo Fring)

Percakapan yang mencurigakan sering kali melibatkan inkonsistensi data antara identitas pengirim pesan dengan identitas pemilik sah kendaraan. Penipu akan memberikan berbagai dalih mengapa nomor rekening tujuan transfer berbeda dengan nama di BPKB atau STNK. Mereka mungkin mengatakan bahwa rekening miliknya sedang bermasalah atau menggunakan rekening bendahara perusahaan agar dana lebih aman, padahal itu adalah rekening pribadi sang penipu.

Pelaku juga sering kali menolak untuk melakukan panggilan video (video call) yang memperlihatkan wajah mereka beserta unit kendaraannya secara bersamaan. Jika saat percakapan berlangsung ditemukan banyak keganjilan, seperti foto unit yang terlihat diambil dari internet atau ketidaktahuan mereka terhadap detail teknis kendaraan secara mendalam, maka sebaiknya komunikasi segera dihentikan. Memastikan bahwa setiap instruksi pembayaran dilakukan melalui konfirmasi lisan secara langsung di depan pemilik sah dokumen adalah cara paling ampuh untuk meruntuhkan skenario yang telah disusun rapi oleh penipu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

Ciri Percakapan Mencurigakan dalam Penipuan Segitiga

27 Jan 2026, 21:05 WIBAutomotive