Kenapa Bahan Bakar Diesel Disebut Solar di Indonesia?

Pengguna mobil diesel tentu sudah akrab dengan istilah solar. Bahan bakar ini digunakan oleh berbagai kendaraan, mulai dari mobil penumpang, truk, bus, hingga alat berat. Namun, pernahkah terpikir mengapa masyarakat Indonesia menyebut bahan bakar diesel dengan nama solar, bukan diesel seperti di sejumlah negara lain?
Menariknya, kata solar juga digunakan untuk menyebut sesuatu yang berkaitan dengan matahari, misalnya panel surya atau energi solar. Meski terdengar sama, kedua penggunaan kata tersebut memiliki konteks berbeda. Lantas, bagaimana istilah solar untuk bahan bakar bisa begitu populer di Indonesia?
1. Solar menjadi istilah umum untuk bahan bakar diesel

ilustrasi mobil isi bensin (pexels.com/Fahad Puthawala) Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), solar diartikan sebagai bahan bakar minyak untuk mesin diesel yang lebih kental daripada minyak tanah. Istilah ini kemudian menjadi bagian dari percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia ketika membicarakan bahan bakar kendaraan bermesin diesel.
Ada dugaan kuat bahwa penggunaan istilah tersebut berkaitan dengan sebutan solar oil atau minyak solar yang dikenal dalam perdagangan produk minyak bumi. Istilah ini juga dikaitkan dengan penggunaan minyak hasil pengolahan petroleum sebagai bahan bakar lampu pada masa lalu.
Namun, asal-usul historisnya tidak dapat dipastikan hanya dari definisi kamus. Karena itu, penjelasan tersebut perlu dipahami sebagai salah satu penelusuran asal istilah, bukan fakta sejarah yang sepenuhnya terverifikasi.
2. Nama solar berbeda dengan nama mesin diesel

Ilustrasi mesin diesel (group1mitsubishi.co.za) Istilah diesel sendiri berasal dari nama Rudolf Diesel, insinyur asal Jerman yang mengembangkan mesin diesel pada akhir abad ke-19. Mesin tersebut memiliki sistem pembakaran berbeda dari mesin bensin. Bahan bakar menyala akibat panas yang dihasilkan ketika udara di dalam silinder dikompresi hingga bertekanan tinggi, bukan karena percikan busi seperti pada mesin bensin.
Di Indonesia, nama solar kemudian lebih sering digunakan untuk menyebut bahan bakarnya, sedangkan diesel merujuk pada jenis mesin atau teknologinya. Pola penyebutan ini membuat istilah solar terasa lebih akrab dalam percakapan di SPBU maupun kehidupan sehari-hari. Di negara lain, bahan bakar serupa umumnya disebut diesel fuel atau cukup diesel, sehingga penyebutannya tidak selalu sama dengan di Indonesia.3. Solar bukan berarti bahan bakar dari matahari

Ilustrasi Solar Panel (Unsplash.com/chelseadeeyo) Kesamaan kata solar dengan istilah energi matahari kerap menimbulkan kebingungan. Padahal, solar yang digunakan pada kendaraan konvensional merupakan bahan bakar yang umumnya berasal dari pengolahan minyak bumi. Dalam proses penyulingan, minyak mentah dipisahkan menjadi beberapa fraksi berdasarkan karakteristiknya, termasuk fraksi yang digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel.
Saat ini, bahan bakar diesel juga berkembang dengan campuran biodiesel yang berasal dari bahan nabati. Di Indonesia, campuran tersebut dikenal antara lain melalui produk Biosolar. Meski komposisinya dapat berbeda sesuai spesifikasi yang berlaku, istilah solar tetap digunakan untuk menyebut kategori bahan bakar tersebut.
Jadi, penyebutan solar di Indonesia merupakan kebiasaan bahasa yang sudah melekat dalam dunia otomotif. Istilah tersebut tidak menunjukkan bahwa bahan bakarnya berasal dari matahari, melainkan merujuk pada bahan bakar untuk mesin diesel. Sementara itu, istilah diesel berkaitan dengan nama penemu mesin sekaligus teknologi pembakaran yang digunakannya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















