Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Harga Mobil PHEV Lebih Mahal Dibandingkan Mobil Listrik?

ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)
ilustrasi mobil listrik (pexels.com/Philippe WEICKMANN)
Intinya sih...
  • PHEV memiliki dua sistem tenaga: mesin bensin dan motor listrik
  • Kompleksitas sistem dan perangkat lunak PHEV lebih tinggi
  • Produksi PHEV masih terbatas, komponen lebih mahal dibandingkan EV
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Mobil listrik kini semakin populer, terutama di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap energi ramah lingkungan. Namun, di antara berbagai jenis mobil listrik, ada satu hal menarik yang sering membuat orang bertanya-tanya: mengapa harga Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) justru lebih mahal dibandingkan Electric Vehicle (EV) yang sepenuhnya bertenaga listrik?

Padahal, secara logika, PHEV masih menggunakan mesin bensin sehingga dianggap “kurang murni” sebagai mobil listrik. Faktanya, harga mobil PHEV memang lebih tinggi karena teknologi yang digunakan di dalamnya jauh lebih kompleks. Berikut alasan kenapa mobil PHEV lebih mahal dibandingkan mobil EV.

1. PHEV punya dua sistem tenaga sekaligus

All New RAV4 GR Sport PHEV (Dok. Toyota)
All New RAV4 GR Sport PHEV (Dok. Toyota)

Perbedaan utama yang membuat PHEV lebih mahal adalah karena mobil ini memiliki dua sistem penggerak utama: mesin bensin konvensional dan motor listrik yang dilengkapi baterai besar. Kedua sistem ini bekerja secara bergantian atau bersamaan, tergantung kebutuhan daya dan kondisi jalan. Kombinasi tersebut memberikan keunggulan berupa efisiensi bahan bakar dan fleksibilitas—mobil bisa berjalan dengan listrik untuk jarak pendek, lalu beralih ke bensin saat baterai habis.

Namun, keunggulan ini juga membuat biaya produksi melonjak tajam. Pabrikan harus menyiapkan dua jenis sistem tenaga lengkap, mulai dari mesin, tangki bahan bakar, hingga motor listrik dan baterai. Artinya, jumlah komponen yang harus dibuat dan diintegrasikan menjadi dua kali lipat dibandingkan mobil EV biasa, yang hanya mengandalkan satu sistem listrik penuh.

2. Kompleksitas sistem dan perangkat lunak lebih tinggi

ilustrasi mengisi daya mobil PHEV (unsplash.com/JUICE)
ilustrasi mengisi daya mobil PHEV (unsplash.com/JUICE)

Salah satu alasan lain mengapa PHEV lebih mahal adalah kompleksitas pengaturan sistemnya. Mobil jenis ini dilengkapi software manajemen energi yang harus mengatur transisi halus antara motor listrik dan mesin bensin. Sistem tersebut memantau kecepatan, suhu, kapasitas baterai, hingga gaya berkendara pengemudi untuk menentukan kapan mobil harus menggunakan listrik atau bensin.

Selain itu, integrasi komponen seperti pendingin baterai, sistem regeneratif pada pengereman, dan transmisi hybrid menambah biaya pengembangan dan produksi. Karena PHEV juga harus memenuhi standar emisi dan efisiensi yang ketat, setiap pabrikan perlu melakukan pengujian tambahan agar performa mesin dan baterai tetap seimbang tanpa mengorbankan kenyamanan berkendara. Semua ini berimbas langsung pada harga jual yang lebih tinggi.

3. Produksi masih terbatas dan komponen lebih mahal

Ilustrasi pabrik mobil (freepik.com/usertrmk)
Ilustrasi pabrik mobil (freepik.com/usertrmk)

Produksi mobil PHEV masih tergolong terbatas dibandingkan EV murni. Banyak pabrikan kini lebih fokus mengembangkan teknologi mobil listrik penuh karena dianggap sebagai masa depan industri otomotif. Akibatnya, rantai pasokan komponen PHEV seperti sistem hybrid, baterai berkapasitas sedang, dan modul kontrol menjadi lebih mahal karena tidak diproduksi massal.

Selain itu, PHEV membutuhkan baterai dengan karakteristik unik: tidak sebesar EV, tapi harus tahan terhadap siklus pengisian dan pengosongan yang lebih sering. Biaya riset dan material untuk jenis baterai ini juga tidak murah. Jadi, meskipun EV terlihat lebih canggih, PHEV justru lebih kompleks dan mahal untuk diproduksi, sehingga wajar jika harga jualnya lebih tinggi. Namun, bagi sebagian pengemudi yang masih khawatir dengan jarak tempuh dan infrastruktur pengisian daya, PHEV tetap menjadi pilihan ideal di masa transisi menuju era mobil listrik sepenuhnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More

5 Tanda Kamu Harus Segera Jual Mobilmu, sebelum Bolak-balik Bengkel

20 Jan 2026, 22:12 WIBAutomotive