Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Mitos tentang Oli Mesin yang Masih Sering Dipercaya
ilustrasi ganti oli (pexels.com/Fatih Erden)
  • Banyak pemilik kendaraan masih percaya mitos seputar oli mesin, padahal beberapa anggapan keliru bisa membuat perawatan kendaraan jadi kurang tepat dan boros biaya.
  • Fakta menunjukkan bahwa penggantian oli, tingkat kekentalan, serta warna oli harus disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan dan kondisi pemakaian, bukan sekadar mengikuti mitos umum.
  • Pemilihan merek dan jenis oli perlu menyesuaikan spesifikasi mesin, sementara menambah oli tanpa mengganti sepenuhnya tidak dapat menjaga kualitas pelumasan secara optimal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Oli mesin menjadi salah satu komponen penting yang berperan menjaga performa dan usia pakai kendaraan. Namun, meski informasinya sudah semakin mudah ditemukan, masih banyak pemilik kendaraan yang percaya pada berbagai mitos soal oli mesin tanpa benar-benar memahami faktanya.

Masalahnya, beberapa anggapan keliru ini justru bisa membuat perawatan kendaraan jadi kurang tepat. Mulai dari waktu penggantian hingga jenis oli yang dipakai, berikut lima mitos tentang oli mesin yang masih sering dipercaya.

1. Semakin sering ganti oli, semakin bagus untuk mesin

ilustrasi isi oli (pexels.com/Daniel Andraski)

Banyak orang menganggap mengganti oli terlalu sering selalu baik untuk mesin. Padahal, penggantian oli idealnya tetap mengikuti rekomendasi pabrikan, kondisi pemakaian, serta spesifikasi oli yang digunakan.

Jika dilakukan terlalu cepat tanpa alasan tertentu, sebenarnya tidak selalu memberi manfaat besar selain membuat biaya perawatan meningkat. Karena itu, memahami interval servis biasanya lebih penting dibanding sekadar terlalu sering mengganti oli.

2. Oli yang lebih kental pasti lebih baik

ilustrasi isi oli mobil (pexels.com/Daniel Andraski)

Sebagian pemilik kendaraan percaya oli yang lebih kental akan membuat mesin lebih terlindungi. Padahal, tingkat kekentalan oli harus disesuaikan dengan spesifikasi mesin dan rekomendasi pabrikan kendaraan.

Jika terlalu kental, sirkulasi oli justru bisa kurang optimal terutama saat mesin dingin. Karena itu, memilih viskositas yang tepat biasanya lebih penting dibanding sekadar memilih oli paling tebal.

3. Oli hitam berarti harus langsung diganti

ilustrasi ganti oli (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tidak sedikit orang panik ketika melihat warna oli mulai menghitam lalu langsung menganggap oli sudah rusak. Padahal, oli yang berubah warna kadang menunjukkan bahwa zat aditif di dalamnya sedang bekerja membersihkan kotoran dari mesin.

Karena itu, warna bukan satu-satunya indikator kondisi oli. Jarak tempuh, performa mesin, dan rekomendasi penggantian tetap lebih relevan dijadikan acuan.

4. Semua merek oli sebenarnya sama saja

ilustrasi isi oli (pexels.com/deepblue4you)

Meski fungsi dasarnya sama, tiap oli bisa punya spesifikasi, sertifikasi, dan formulasi berbeda sesuai kebutuhan mesin tertentu. Ada oli yang dirancang untuk efisiensi bahan bakar, performa tinggi, atau kondisi kerja tertentu.

Karena itu, memilih oli sebaiknya tidak hanya berdasarkan harga atau merek populer. Menyesuaikan dengan spesifikasi kendaraan biasanya jauh lebih penting untuk menjaga performa mesin tetap optimal.

5. Menambah oli terus lebih baik daripada mengganti

ilustrasi isi oli (pexels.com/cihatatceken)

Sebagian orang merasa cukup menambah oli saat volumenya berkurang tanpa melakukan penggantian penuh. Padahal, oli lama tetap mengalami penurunan kualitas seiring waktu akibat panas, kontaminasi, dan usia pemakaian.

Karena itu, menambah oli tidak bisa sepenuhnya menggantikan fungsi ganti oli berkala. Sebab, kualitas pelumasan tetap bergantung pada kondisi oli secara keseluruhan, bukan hanya jumlahnya.

Mitos tentang oli mesin masih cukup sering dipercaya karena kebiasaan lama atau informasi yang kurang tepat. Padahal, memahami cara kerja oli dan mengikuti rekomendasi kendaraan biasanya membantu perawatan mesin terasa lebih aman dan efisien.

Pada akhirnya, menjaga mesin tetap sehat bukan soal mengikuti mitos yang terdengar meyakinkan. Namun, lebih pada memahami kebutuhan kendaraan dan melakukan perawatan sesuai kondisi sebenarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article