Sering Cas Mobil Listrik Sampai 100 Persen, Bikin Baterai Cepat Drop?

- Baterai bekerja paling stabil di kisaran 20-80 persen, mengisi sampai 100 persen bisa mempercepat degradasi dalam jangka panjang.
- Ngecas penuh sesekali wajar, tapi kebiasaan ngecas penuh setiap hari tanpa dibutuhkan bisa mempercepat penurunan kapasitas baterai.
- Sistem manajemen baterai mobil listrik sangat canggih dan dapat mengatur pengisian serta melindungi sel baterai dari stres berlebihan.
Mobil listrik makin sering terlihat di jalanan Indonesia, tapi bareng popularitasnya muncul juga banyak mitos soal perawatan baterai. Salah satu yang paling sering dibahas adalah kebiasaan mengecas sampai 100 persen setiap hari yang katanya bisa bikin baterai cepat rusak.
Sebagian orang jadi ragu penuh-penuhin baterai, sementara yang lain santai aja ngecas sampai penuh tanpa mikir panjang. Biar gak terus terjebak info simpang siur, yuk bedah mana yang benar-benar mitos dan mana yang faktanya soal baterai mobil listrik.
1. Baterai memang paling “nyaman” di kisaran tertentu

Baterai lithium-ion sebenarnya bekerja paling stabil di kisaran 20 sampai 80 persen. Di rentang ini, tekanan kimia di dalam sel baterai relatif lebih ringan dan usia pakainya bisa lebih panjang.
Kalau kamu sering mengisi sampai 100 persen, baterai memang berada di zona tegangan tinggi. Tapi ini bukan berarti langsung rusak, hanya saja dalam jangka panjang bisa mempercepat degradasi kalau dilakukan terus-menerus tanpa jeda.
2. Cas penuh sesekali bukan masalah besar

Banyak orang salah paham seolah-olah ngecas sampai 100 persen itu pantangan mutlak. Padahal produsen mobil listrik sudah merancang baterai dengan sistem proteksi agar tetap aman saat penuh.
Kalau kamu butuh jarak tempuh maksimal untuk perjalanan jauh, ngecas penuh justru sangat wajar. Yang jadi masalah adalah kalau setiap hari selalu penuh meski sebenarnya gak dibutuhkan.
3. Mobil listrik modern sudah pintar mengatur pengisian

Sistem manajemen baterai atau battery management system (BMS) di mobil listrik sekarang sangat canggih. Teknologi ini mengatur arus masuk, suhu, dan batas aman pengisian supaya baterai gak stres berlebihan.
Bahkan saat indikator menunjukkan 100 persen, biasanya masih ada buffer tersembunyi yang melindungi sel baterai. Jadi sebenarnya baterai tidak benar-benar dipaksa ke kapasitas mentah maksimalnya.
4. Kebiasaan lebih penting daripada sekali dua kali penuh

Yang bikin baterai lebih cepat drop bukan satu kali ngecas penuh, tapi pola jangka panjang yang ekstrem. Terlalu sering penuh 100 persen lalu langsung panas karena dipakai agresif bisa mempercepat penurunan kapasitas.
Kalau penggunaan harian kamu cuma butuh 60–70 persen daya, lebih sehat kalau cukup isi sampai sekitar 80–90 persen. Ini membantu menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang.
5. Suhu panas jauh lebih berbahaya dari sekadar penuh

Banyak orang fokus ke persentase baterai tapi lupa soal suhu. Panas berlebih adalah musuh utama baterai lithium-ion, bahkan lebih merusak daripada kebiasaan ngecas penuh.
Ngecas di tempat panas ekstrem atau langsung dipacu setelah pengisian cepat bisa mempercepat degradasi. Jadi selain mikirin persentase, kamu juga perlu perhatikan kondisi lingkungan saat ngecas.
Jadi, anggapan bahwa ngecas mobil listrik sampai 100 persen setiap hari langsung bikin baterai rusak sebenarnya lebih dekat ke mitos yang dibesar-besarkan. Faktanya, baterai modern sudah dirancang cukup aman untuk pengisian penuh.
Namun kalau kamu ingin umur baterai lebih panjang, kebiasaan ngecas di kisaran ideal dan menjaga suhu tetap stabil jauh lebih penting. Intinya bukan takut penuh, tapi pintar mengatur pola pengisian sesuai kebutuhan harian kamu.












![[QUIZ] Pilih Mobil LCGC Favorit, Kami Bisa Tebak Gaya Hidupmu](https://image.idntimes.com/post/20240222/oip-40-f3bcadc4b1a39af7191309eb7f658bc1.jpg)






