Mobil Hybrid dan EV Butuh Coolant Khusus, Ini Alasannya

- Kendaraan hybrid dan listrik butuh sistem pendingin khusus agar komponen seperti baterai, inverter, dan motor listrik tetap bekerja optimal tanpa risiko overheat.
- Baterai mobil listrik idealnya beroperasi pada suhu 20–40°C, sehingga radiator coolant berbasis cairan dengan transfer panas cepat penting untuk kondisi iklim tropis Indonesia.
- MASTER Radiator Coolant Gold 50/50 dari Autochem memakai teknologi OAT yang melindungi logam dari karat dan kerak, serta memiliki titik didih tinggi hingga 129°C.
Jakarta, IDN Times - Kendaraan elektrifikasi seperti mobil hybrid dan mobil listrik semakin diminati di Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan kendaraan hemat energi.
Namun di balik efisiensinya, kedua jenis kendaraan ini ternyata membutuhkan sistem pendingin khusus agar komponen elektrifikasi tetap bekerja optimal dan tidak mengalami overheat.
PT Autochem Industry menilai sistem pendingin pada kendaraan elektrifikasi kini memegang peran penting, terutama untuk menjaga temperatur baterai, inverter, hingga motor listrik. Karena itu, pemilihan radiator coolant tidak bisa lagi disamakan dengan mobil konvensional biasa.
1. Komponen mobil listrik sangat rentan panas

President Director PT Autochem Industry, Henry Sada menjelaskan bahwa seluruh komponen kendaraan membutuhkan suhu kerja ideal agar dapat beroperasi normal. Hal tersebut juga berlaku pada mobil listrik dan hybrid yang memiliki perangkat elektrifikasi dengan temperatur kerja cukup tinggi.
“Pada prinsipnya, semua komponen di kendaraan memerlukan suhu kerja ideal, tak terkecuali pada mobil listrik dan mobil hybrid. Jika pendinginan udara sudah tidak lagi mencukupi, maka diperlukan pendinginan berbasis air dengan radiator yang lebih mumpuni,” ujar Henry dalam keterangan resminya belum lama ini.
Ia menambahkan, inverter menjadi salah satu komponen yang paling membutuhkan pendinginan optimal.
Sebab perangkat ini bekerja mengubah arus DC dari baterai menjadi AC untuk menggerakkan motor listrik, sekaligus mengatur pengereman regeneratif dan efisiensi energi kendaraan.
Tak hanya inverter, motor listrik dan baterai tegangan tinggi juga memerlukan pengaturan suhu yang stabil. Jika temperatur terlalu tinggi, efisiensi baterai dapat turun drastis dan berpotensi memperpendek usia pakainya.
2. Suhu ideal baterai EV ada di 20-40 derajat celsius.

Autochem menyebut baterai mobil listrik idealnya bekerja pada temperatur 20-40 derajat Celcius. Karena itu, pendinginan berbasis cairan dinilai lebih efektif untuk menjaga stabilitas suhu saat kendaraan digunakan dalam kondisi lalu lintas padat maupun cuaca panas.
Menurut Henry, radiator coolant dengan kemampuan transfer panas cepat menjadi solusi penting agar performa kendaraan elektrifikasi tetap optimal di iklim tropis seperti Indonesia.
“Radiator coolant ini juga cocok untuk mobil listrik dan mobil hybrid karena kemampuannya dalam menjaga suhu kerja komponen elektrifikasi dalam skenario berkendara stop and go di perkotaan dan iklim tropis ekstrem yang panas dan lembap,” katanya.
Autochem menawarkan MASTER Radiator Coolant Gold 50/50 yang memakai kandungan glycol 50 persen untuk membantu menjaga stabilitas temperatur kerja sekaligus meningkatkan titik didih coolant agar tidak mudah menguap.
3. Teknologi OAT diklaim bikin radiator lebih awet

Selain menjaga suhu tetap stabil, radiator coolant modern juga dituntut mampu melindungi sistem pendingin dari karat dan kerak. Untuk itu, MASTER Radiator Coolant Gold 50/50 dibekali teknologi OAT (Organic Acid Technology) berbahan organik.
Teknologi tersebut diklaim mampu memberikan perlindungan hanya pada area logam yang membutuhkan tanpa meninggalkan endapan di saluran radiator. Selain itu, formula ini juga disebut bebas kandungan silikat, nitrit, nitrat, borat, amina, dan fosfat yang dapat memicu kerak maupun korosi.
Autochem mengklaim radiator coolant ini memiliki titik didih mencapai 129 derajat Celcius pada tekanan tutup radiator 1,1 bar, minim penguapan, serta mampu memberikan perlindungan terhadap seal water pump dan komponen pendingin lainnya.


















