Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Tak Cuma Hemat, Mobil BBG Punya Sejumlah Konsekuensi

Tak Cuma Hemat, Mobil BBG Punya Sejumlah Konsekuensi
Konversi mobil bensin ke BBG, biaya harian lebih murah (Dok. Komogas)
Intinya Sih
  • Penggunaan BBG pada mobil menawarkan efisiensi biaya, namun menuntut penyesuaian gaya berkendara dan bisa menurunkan performa mesin hingga 20 persen, terutama di kendaraan berkompresi rendah.
  • Infrastruktur SPBG masih terbatas dengan hanya beberapa titik aktif di Jakarta, menyebabkan antrean pengisian dan perlunya penyesuaian waktu bagi pengguna BBG.
  • Konversi ke BBG dapat membuat garansi kendaraan hangus sesuai kebijakan pabrikan, meski tetap dianggap pilihan menarik untuk menghemat biaya operasional jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Di balik tawaran efisiensi biaya bahan bakar, penggunaan BBG pada mobil ternyata juga memiliki sejumlah tantangan. Mulai dari penurunan performa hingga keterbatasan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah bagi pengguna kendaraan berbahan bakar gas.

Ketua Umum Komunitas Mobil Gas (Komogas), Andy Lala, mengatakan penggunaan BBG membutuhkan penyesuaian kebiasaan berkendara dan pola penggunaan kendaraan sehari-hari.

1. Performa mesin bisa tidak optimal

Ruang mesin mobil Toyota dengan kit konversi bahan bakar gas terpasang, menampilkan komponen sistem BBG di area mesin.
Konversi kit BBG ada yang versi China dan Eropa (Dok. Komogas)

Menurut Andy, salah satu kekurangan BBG terletak pada karakter pembakaran, terutama jika digunakan pada mesin dengan kompresi rendah.

“BBG itu paling cocok untuk unit kompresi tinggi. Kalau di mobil lama, pembakarannya kadang nggak maksimal,” ujar dia, Selasa (5/5/2026).

Ia menyebut kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan tenaga sekitar 10–20 persen, terutama saat kendaraan digunakan di tanjakan atau membawa beban berat.

Namun dia menambahkan, penurunan tenaga mesin tersebut tidak terlalu terasa oleh pengemudi, apa lagi yang penggunaannya harian untuk perkotaan.

2. Infrastruktur SPBG belum merata

Stasiun pengisian bahan bakar gas dengan dua dispenser CNG berwarna putih dan merah di bawah kanopi bertuliskan Envogas.
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) (Dok. Komogas)

Ketersediaan SPBG juga masih menjadi tantangan utama pengguna BBG. Saat ini, jumlah SPBG aktif di Jakarta disebut baru sekitar sembilan titik.

“Kalau mau pakai BBG memang harus menyesuaikan pola isi bahan bakar dan tahu jam-jam SPBG kosong,” kata Andy.

Menurut dia, antrean pengisian sering terjadi pada jam tertentu, terutama saat armada transportasi umum mulai mengisi bahan bakar.

3. Garansi kendaraan berpotensi hangus

Tiga orang mekanik sedang memeriksa mesin mobil dengan kap terbuka di area luar bengkel untuk konversi bahan bakar gas.
Semua mobil bensin bisa dikonversi ke BBG (Dok. Komogas)

Selain faktor teknis dan infrastruktur, pengguna juga perlu memperhatikan kebijakan pabrikan kendaraan terkait konversi BBG.

“Kadang ATPM tidak bersahabat. Begitu pakai BBG, langsung void atau hilang garansi mobilnya,” ujarnya.

Meski demikian, Andy menilai BBG tetap layak dipertimbangkan bagi pengguna yang ingin menekan biaya operasional kendaraan dalam jangka panjang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib
Follow Us

Related Articles

See More