Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Penetrasi Baterai Solid State Diprediksi Butuh hingga 10 Tahun

Penetrasi Baterai Solid State Diprediksi Butuh hingga 10 Tahun
Baterai mobil listrik Suzuki e Vitara (marutisuzuki.com)
Intinya Sih
  • Ouyang Minggao memprediksi baterai solid-state baru akan diuji pada kendaraan sekitar 2027, namun butuh 5–10 tahun lagi untuk mencapai penetrasi pasar signifikan.
  • Teknologi ini menawarkan kepadatan energi tinggi dan keamanan lebih baik, tetapi masih menghadapi hambatan teknis seperti antarmuka material padat dan risiko pembentukan dendrit lithium.
  • Tantangan utama adopsi massal terletak pada biaya produksi tinggi dan kebutuhan investasi besar untuk memperluas kapasitas manufaktur agar kompetitif dengan baterai lithium-ion konvensional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Teknologi baterai solid-state sering kali digadang-gadang sebagai pengubah permainan dalam industri kendaraan listrik global karena menjanjikan kepadatan energi yang lebih tinggi dan tingkat keamanan yang lebih baik. Namun, laporan terbaru dari akademisi terkemuka asal Tiongkok menunjukkan bahwa perjalanan menuju komersialisasi massal masih memerlukan waktu yang jauh lebih lama dari perkiraan optimis banyak pihak.

Ouyang Minggao, seorang profesor dari Universitas Tsinghua sekaligus anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok, memberikan pandangan realistis mengenai linimasa adopsi pasar teknologi ini. Meskipun pengujian pada kendaraan diprediksi akan dimulai dalam waktu dekat, penetrasi pasar yang signifikan masih menghadapi berbagai hambatan teknis dan skala ekonomi yang sangat kompleks.

1. Linimasa antara implementasi awal dan adopsi pasar

ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)
ilustrasi mengisi baterai mobil listrik (unsplash.com/chuttersnap)

Berdasarkan paparan Ouyang Minggao, terdapat perbedaan besar antara fase pemasangan awal pada kendaraan dengan adopsi pasar secara luas. Baterai all-solid-state diperkirakan akan mulai dipasang pada kendaraan uji coba sekitar tahun 2027. Namun, untuk mencapai pangsa pasar yang bahkan hanya sebesar 1%, teknologi ini diprediksi membutuhkan waktu antara 5 hingga 10 tahun ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran unit purwarupa tidak serta merta menandakan kesiapan industri untuk produksi massal dalam skala jutaan unit.

Beberapa pabrikan besar seperti Chery dan Geely telah mengumumkan target ambisius, di mana Chery menargetkan kepadatan energi hingga 600 Wh/kg dengan pengujian kendaraan pada 2027. Sementara itu, produsen asal Jepang seperti Toyota dan Nissan juga merencanakan produksi skala kecil di tahun 2026 hingga 2028. Meski aktivitas industri sangat masif, fase transisi dari laboratorium ke jalur produksi komersial tetap memerlukan validasi jangka panjang guna memastikan stabilitas performa baterai dalam penggunaan sehari-hari.

2. Keunggulan struktural dan hambatan teknis yang tersisa

Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)
Ilustrasi baterai mobil listrik (byd.com)

Secara struktural, baterai solid-state berbeda dari baterai lithium-ion konvensional karena mengganti elektrolit cair dan separator dengan material padat. Desain "bebas cairan" ini secara teoretis memungkinkan kepadatan energi yang jauh melampaui batas rata-rata baterai komersial saat ini yang berada di angka 300 Wh/kg. Kapasitas penyimpanan energi yang lebih besar ini diharapkan dapat menghilangkan kekhawatiran jarak tempuh bagi para pengguna kendaraan listrik di masa depan.

Namun, di balik potensi tersebut, masih terdapat tantangan teknis yang belum sepenuhnya teratasi. Masalah utama meliputi hambatan antarmuka yang tinggi pada pertemuan antar material padat, risiko pembentukan dendrit lithium yang dapat merusak sel, serta keterbatasan dalam siklus hidup baterai. Selain itu, aspek keamanan tetap menjadi perhatian serius karena teknologi ini belum bisa dianggap sepenuhnya aman secara absolut. Evaluasi mendalam masih diperlukan untuk memastikan baterai tidak mengalami kegagalan fungsi di bawah tekanan atau suhu ekstrem.

3. Skala ekonomi dan tantangan biaya produksi

Ilustrasi pabrik mobil (freepik.com/usertrmk)
Ilustrasi pabrik mobil (freepik.com/usertrmk)

Faktor utama yang akan menentukan kecepatan adopsi baterai solid-state adalah kemampuan industri untuk menekan biaya produksi. Saat ini, biaya manufaktur sel solid-state masih sangat tinggi karena proses produksinya yang rumit dan belum terstandarisasi seperti baterai lithium-ion cair. Pengurangan biaya unit hanya dapat dicapai melalui ekspansi kapasitas produksi secara masif, yang pada gilirannya membutuhkan investasi infrastruktur pabrik yang sangat besar.

Oleh karena itu, meskipun banyak pengumuman mengenai produk baterai baru dari pemasok seperti Eve Energy, skala pasar yang bermakna kemungkinan besar belum akan tercapai dalam jangka pendek. Prediksi bahwa teknologi ini memerlukan waktu hingga satu dekade untuk menguasai sebagian kecil pasar mencerminkan betapa sulitnya menggantikan dominasi teknologi baterai cair yang sudah mapan. Perjalanan menuju era solid-state adalah lari maraton teknis yang menuntut ketekunan dalam riset dan efisiensi manufaktur global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Latest in Automotive

See More