Penjualan Domestik BYD Lesu, Ekspor Global Melejit

- BYD mencatat penurunan penjualan domestik selama delapan bulan berturut-turut hingga April 2026, meski ekspor global melonjak dan kini menyumbang hampir setengah dari total volume penjualan bulanan.
- Lini produk BYD menunjukkan hasil beragam: seri Dynasty dan Ocean turun tajam, sementara merek Fang Cheng Bao serta Yangwang justru tumbuh pesat berkat peluncuran model baru di Beijing Auto Show 2026.
- Laba bersih BYD anjlok 55,4% pada kuartal pertama akibat perang harga dan kenaikan biaya produksi, memaksa perusahaan memperkuat ekspansi global demi menjaga stabilitas keuangan sepanjang tahun.
Raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD, tengah menghadapi tantangan berat setelah mencatatkan penurunan penjualan selama delapan bulan berturut-turut hingga April 2026. Meskipun angka pengiriman ke pasar internasional mencapai rekor tertinggi, performa di pasar domestik Tiongkok yang melemah terus menekan total volume penjualan perusahaan secara keseluruhan.
Data terbaru menunjukkan bahwa BYD menjual 314.100 kendaraan penumpang pada April, turun 15,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Walaupun terdapat pertumbuhan tipis sebesar 6,2 persen dibandingkan bulan Maret, tren penurunan tahunan yang dimulai sejak September 2025 ini mempertegas ketatnya persaingan dan jenuhnya permintaan di pasar lokal.
1. Rekor pengiriman luar negeri menjadi penyelamat

Di tengah kelesuan pasar domestik, strategi ekspansi global BYD justru menunjukkan hasil yang luar biasa dengan mencatatkan rekor baru. Penjualan di luar Tiongkok mencapai 134.542 unit kendaraan penumpang dan pikap pada bulan April, melonjak drastis sebesar 70,9% secara year-on-year. Kontribusi pasar internasional kini mencakup 42,8 persen dari total volume penjualan bulanan perusahaan, menandakan pergeseran ketergantungan BYD dari konsumen lokal ke pasar global.
Secara akumulatif dari Januari hingga April 2026, BYD telah menjual total 1.003.039 unit kendaraan penumpang, namun angka ini masih turun 26,4% dibanding tahun sebelumnya. Menariknya, porsi penjualan luar negeri dalam empat bulan pertama mencapai 455.707 unit, tumbuh hampir 60%. Pencapaian ini menjadi pijakan penting bagi perusahaan yang memasang target ambisius untuk menjual 1,5 juta kendaraan di pasar internasional sepanjang tahun 2026.
2. Performa kontras antar lini merek BYD

Lini produk BYD menunjukkan performa yang bervariasi di tengah tekanan pasar yang dilaporkan oleh carnewschina.com. Merek utama yang terdiri dari seri Dynasty dan Ocean mengalami penurunan penjualan sebesar 21,2% menjadi 273.448 unit. Nasib serupa menimpa merek premium Denza yang merosot 26,9% dengan total penjualan hanya 11.250 unit. Penurunan ini mencerminkan dampak perang harga yang sangat agresif di segmen kendaraan listrik Tiongkok.
Namun, tidak semua lini mengalami kelesuan; merek off-road Fang Cheng Bao justru tumbuh meroket 190,2% dengan penjualan mencapai 29.138 unit pada bulan April, didorong oleh peluncuran jajaran sedan terbarunya di Beijing Auto Show 2026. Merek mewah Yangwang juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 95,6%, meskipun secara volume masih sangat kecil yakni 264 unit. Diversifikasi merek ini menjadi upaya BYD untuk tetap kompetitif di berbagai segmen pasar yang berbeda.
3. Tekanan profitabilitas akibat perang harga

Selain tantangan pada volume penjualan, BYD juga melaporkan penurunan profitabilitas yang tajam pada kuartal pertama tahun ini. Laba bersih perusahaan anjlok hingga 55,4% secara tahunan menjadi 4,09 miliar yuan atau setara 599 juta USD. Penurunan margin keuntungan ini disebabkan oleh kombinasi dari perang harga yang berkepanjangan di Tiongkok serta kenaikan biaya perangkat keras yang membebani neraca keuangan perusahaan.
"Hasil bulan April menunjukkan pemulihan sekuensial setelah perlambatan Tahun Baru Imlek, namun kinerja tahun-ke-tahun BYD tetap berada di bawah tekanan," sebagaimana dikutip dari laporan analisis pasar otomotif tersebut. Dengan total penjualan April mencapai 321.123 unit jika menyertakan kendaraan komersial dan bus, BYD kini harus berakselerasi lebih cepat di pasar global untuk menutupi kesenjangan pertumbuhan yang hilang di rumah sendiri guna menjaga stabilitas keuangan hingga akhir tahun.















