Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Waspada! Kecepatan 80 Km/Jam Saat Hujan Bisa Memicu Hidroplaning

Waspada! Kecepatan 80 Km/Jam Saat Hujan Bisa Memicu Hidroplaning
ilustrasi pengendara ngebut (Pexels.com/Kaique Rocha)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Melaju 80 km/jam saat hujan bisa memicu hidroplaning karena ban kehilangan cengkeraman akibat lapisan air di permukaan jalan.
  • Baji air terbentuk di depan roda dan dapat mengangkat kendaraan, membuat mobil seolah mengapung tanpa kontak dengan aspal.
  • Saat hidroplaning terjadi, setir dan rem tidak berfungsi efektif sehingga pengemudi bisa kehilangan kendali total; menjaga kecepatan rendah jadi langkah utama keselamatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Mengemudi di tengah guyuran hujan deras membutuhkan tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat cuaca cerah. Banyak pengemudi yang merasa masih berada di batas aman ketika melaju pada kecepatan delapan puluh kilometer per jam di dalam jalur jalan tol yang basah.

Namun, ilmu fisika keselamatan berkendara menunjukkan bahwa angka kecepatan tersebut sudah lebih dari cukup untuk memicu kecelakaan fatal. Pada kecepatan itu, risiko ban mobil kehilangan cengkeraman sepenuhnya akibat lapisan air menjadi sangat tinggi dan tidak boleh diremehkan.

1. Kegagalan alur tapak ban dalam membuang genangan air secara instan

ilustrasi wiper mobil (freepik.com/pvproductions)
ilustrasi wiper mobil (freepik.com/pvproductions)

Fenomena hilangnya kontak antara karet roda dan permukaan jalan raya ini dikenal secara teknis dengan istilah aquaplaning atau hidroplaning. Saat mobil melaju di atas permukaan aspal yang tertutup air, alur atau kembangan pada tapak ban berfungsi layaknya saluran drainase mini. Tugas utamanya adalah membelah dan membuang volume air ke arah samping agar karet tetap bisa menyentuh permukaan jalan secara langsung.

Ketika kecepatan mobil menyentuh angka delapan puluh kilometer per jam, volume air yang harus dipindahkan oleh roda meningkat secara drastis dalam hitungan milidetik. Pada titik ini, kecepatan laju kendaraan sering kali melampaui kapasitas maksimum alur ban dalam menyalurkan air keluar dari area kontak. Akibat sumbatan cairan yang tidak sempat terbuang tersebut, air akan mulai menyusup ke bawah roda dan menciptakan lapisan tipis yang memisahkan karet dari aspal.

2. Terbentuknya baji air yang mengangkat sasis kendaraan dari jalan

ilustrasi genangan air (pexels.com/嘉洪 钟)
ilustrasi genangan air (pexels.com/嘉洪 钟)

Lapisan air yang gagal dibuang oleh alur ban lama-kelamaan akan menumpuk di area depan roda dan membentuk sebuah formasi tekanan yang disebut baji air. Seiring meningkatnya kecepatan mobil, tekanan hidrolik dari baji air ini akan menjadi sangat kuat hingga mampu mengangkat bobot kendaraan ke atas. Mobil secara harfiah tidak lagi berjalan di atas aspal padat, melainkan mengapung dan berseluncur bebas di atas lapisan cairan yang licin.

Kondisi mengapung ini membuat berat sasis kendaraan tidak lagi bertumpu pada daya cengkeram mekanis roda secara normal. Efeknya sama persis seperti saat sebuah perahu meluncur di atas permukaan danau, di mana tidak ada hambatan statis yang menahan posisi kendaraan. Situasi berbahaya ini sering kali terjadi tanpa disadari oleh pengemudi sampai akhirnya muncul kebutuhan mendadak untuk melakukan manuver menghindar atau pengereman darurat.

3. Hilangnya kendali kemudi secara total dan risiko kecelakaan fatal

ilustrasi genangan air (pexels.com/Lian Rodriguez)
ilustrasi genangan air (pexels.com/Lian Rodriguez)

Begitu mobil berada dalam fase hidroplaning sempurna pada kecepatan delapan puluh kilometer per jam, fungsi setir dan pedal rem akan lumpuh total. Memutar kemudi ke arah kiri atau kanan tidak akan mengubah arah laju mobil karena roda depan sudah tidak memiliki traksi sama sekali dengan aspal. Menginjak pedal rem secara mendalam dalam kondisi ini justru akan mengunci putaran roda dan membuat mobil berputar tak terkendali layaknya gasing.

Untuk meminimalkan risiko mengerikan ini, menurunkan kecepatan hingga di bawah batas kritis saat hujan lebat adalah sebuah kewajiban mutlak. Mempertahankan kondisi kedalaman alur ban agar tidak botak serta memastikan tekanan angin tidak kurang menjadi faktor penentu keselamatan yang sangat krusial. Menghindari area lajur jalan yang memiliki genangan air atau cekungan dalam juga menjadi langkah preventif terbaik agar roda tidak kehilangan kontak dengan jalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More