Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Faktor yang Membuat Helm Terasa Pengap meski Banyak Ventilasi

5 Faktor yang Membuat Helm Terasa Pengap meski Banyak Ventilasi
ilustrasi menggunakan helm (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Ventilasi helm bisa tersumbat debu atau tertutup sakelar, membuat udara sulit mengalir dan menyebabkan panas terperangkap di dalam helm.
  • Ukuran helm yang terlalu sempit serta busa lembap dapat menghambat sirkulasi udara, meningkatkan suhu, dan menurunkan kenyamanan saat berkendara.
  • Sirkulasi udara juga dipengaruhi kecepatan berkendara dan kualitas material helm; material berteknologi baik membantu menjaga suhu tetap sejuk lebih lama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Helm modern umumnya sudah dilengkapi banyak ventilasi yang dirancang untuk menjaga sirkulasi udara selama berkendara. Meski begitu, masih banyak pengendara yang merasa bagian dalam helm tetap panas, lembap, dan terasa sesak ketika digunakan dalam waktu lama. Kondisi tersebut sering menimbulkan rasa kurang nyaman, terutama saat cuaca sedang terik atau lalu lintas padat.

Rasa pengap pada helm ternyata gak selalu disebabkan jumlah ventilasi yang sedikit. Ada berbagai faktor lain yang justru lebih berpengaruh terhadap kelancaran aliran udara di dalam helm, mulai dari cara penggunaan hingga kondisi komponen helm itu sendiri. Supaya pengalaman berkendara terasa lebih nyaman, yuk pahami beberapa penyebabnya.

1. Ventilasi tertutup atau tersumbat debu

ilustrasi helm motor
ilustrasi helm motor (pexels.com/MIXU)

Banyak pengendara gak menyadari bahwa lubang ventilasi pada helm dapat tertutup oleh debu, kotoran, atau serangga kecil setelah digunakan dalam waktu lama. Meski jumlah ventilasinya cukup banyak, udara tetap sulit mengalir apabila jalur masuk dan keluarnya terhambat. Akibatnya, hawa panas akan terperangkap di dalam helm dan membuat kepala terasa gerah.

Selain itu, sebagian helm memiliki sakelar ventilasi yang dapat dibuka atau ditutup sesuai kebutuhan. Jika ventilasi masih berada pada posisi tertutup, sirkulasi udara tentu gak akan bekerja secara maksimal. Pemeriksaan sederhana sebelum berkendara dapat membantu memastikan seluruh jalur udara tetap berfungsi dengan baik.

2. Ukuran helm terlalu sempit

ilustrasi helm motor
ilustrasi helm motor (pexels.com/Fábio Lucas)

Helm yang terlalu sempit memang mampu memberikan rasa stabil saat digunakan, tetapi kondisi tersebut juga dapat mengurangi ruang bagi udara untuk bersirkulasi. Bagian dalam helm yang terlalu rapat membuat panas tubuh lebih mudah terperangkap di sekitar kepala dan wajah. Semakin lama digunakan, rasa gerah pun semakin terasa.

Selain memengaruhi kenyamanan, ukuran helm yang terlalu kecil juga dapat membuat tekanan pada kepala menjadi lebih besar. Keringat akan lebih cepat muncul karena suhu di dalam helm terus meningkat tanpa ruang sirkulasi yang memadai. Oleh sebab itu, memilih ukuran helm yang pas menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kenyamanan berkendara.

3. Kecepatan berkendara terlalu rendah

ilustrasi mengendarai motor matik
ilustrasi mengendarai motor matik (pexels.com/Tiwi Riders)

Sistem ventilasi pada sebagian besar helm bekerja lebih efektif ketika ada aliran udara dari arah depan. Saat sepeda motor melaju dengan kecepatan yang cukup, udara akan masuk melalui ventilasi depan lalu keluar melalui ventilasi belakang. Proses tersebut membantu mengurangi panas yang terjebak di dalam helm.

Sebaliknya, ketika kendaraan lebih sering berhenti atau melaju sangat pelan di tengah kemacetan, aliran udara menjadi jauh berkurang. Ventilasi yang jumlahnya banyak pun tetap sulit bekerja secara optimal karena minim dorongan angin dari luar. Akibatnya, bagian dalam helm terasa lebih pengap meski desainnya sudah modern.

4. Busa bagian dalam sudah terlalu lembap

ilustrasi helm motor
ilustrasi helm motor (pexels.com/payam yazdani)

Busa helm memiliki fungsi penting sebagai penyerap keringat sekaligus penunjang kenyamanan. Namun, busa yang terlalu sering terkena keringat tanpa dibersihkan dapat menyimpan kelembapan dalam waktu lama. Kondisi tersebut membuat bagian dalam helm terasa lebih panas dan kurang segar saat digunakan.

Selain itu, busa yang lembap juga menghambat proses pertukaran udara di dalam helm. Aroma kurang sedap sering muncul bersamaan dengan meningkatnya rasa pengap ketika helm dipakai berulang kali. Membersihkan dan mengeringkan busa secara berkala dapat membantu menjaga kenyamanan selama perjalanan.

5. Material helm kurang mendukung sirkulasi udara

ilustrasi helm motor
ilustrasi helm motor (pexels.com/Mehmet Can Danacı)

Desain ventilasi memang penting, tetapi material yang digunakan pada lapisan dalam helm juga memiliki peran besar terhadap kenyamanan. Beberapa material memiliki kemampuan menyerap dan melepaskan panas yang lebih baik dibanding material biasa. Jika kualitas lapisan dalam kurang baik, suhu di dalam helm akan lebih cepat meningkat.

Di sisi lain, teknologi pelapis bagian dalam terus berkembang dengan material yang lebih mudah mengalirkan udara dan mempercepat penguapan keringat. Helm dengan spesifikasi seperti itu biasanya terasa lebih nyaman meski digunakan dalam perjalanan yang cukup panjang. Karena itulah, kualitas material sebaiknya menjadi salah satu pertimbangan selain jumlah ventilasi saat memilih helm.

Rasa pengap pada helm ternyata gak selalu berkaitan dengan sedikitnya jumlah ventilasi yang tersedia. Kebersihan, ukuran helm, kondisi busa, kecepatan berkendara, hingga kualitas material sama-sama memengaruhi kelancaran sirkulasi udara di dalam helm. Dengan memahami berbagai faktor tersebut, kenyamanan berkendara dapat tetap terjaga tanpa harus terganggu oleh rasa gerah yang berlebihan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar

Related Articles

See More