Keselamatan berkendara sering kali dikaitkan dengan kelengkapan atribut fisik yang menempel pada tubuh. Helm full-face dengan kaca pelindung gelap menjadi salah satu peranti yang paling digemari karena menawarkan perlindungan benturan yang maksimal sekaligus memberikan kesan visual yang keren. Namun, di balik fungsi proteksinya yang sangat tangguh, penggunaan pelindung kepala yang tertutup rapat ini ternyata menyimpan sisi lain yang memengaruhi kondisi psikologis seseorang saat berada di tengah kemacetan lalu lintas.
Interaksi antar-pengguna jalan raya tidak hanya dibangun oleh aturan hukum tertulis, melainkan juga oleh kode etik sosial dan kontak visual yang terjadi secara instan. Ketika komponen interaksi sosial tersebut hilang akibat penggunaan atribut berkendara tertentu, dinamika perilaku seseorang dapat berubah secara drastis. Sebuah survei perilaku jalan raya berhasil mengungkap adanya korelasi unik antara jenis helm yang dikenakan dengan tingkat kepedulian sosial seseorang terhadap lingkungan sekitarnya.
