Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Motor Lebih Boros Saat Dipakai Perjalanan Pendek?
ilustrasi naik motor (pexels.com/Markus Winkler)
  • Motor yang sering dipakai untuk jarak pendek berulang kali cenderung boros karena mesin belum sempat mencapai suhu kerja ideal sebelum dimatikan.
  • Kemacetan, waktu berhenti, dan akselerasi berulang membuat bahan bakar tetap terpakai lebih banyak dibanding jarak tempuh yang minim.
  • Gaya berkendara agresif serta kondisi seperti tekanan ban rendah, filter kotor, atau komponen bermasalah turut menurunkan efisiensi bahan bakar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Motor yang dipakai dekat-dekat bisa lebih boros bensin. Saat mesin masih dingin, motor perlu bensin lebih banyak dulu. Kalau sering berhenti di lampu merah atau macet, bensin juga tetap terpakai. Gas yang ditarik kencang, ban kurang angin, dan motor kotor bisa membuat bensin makin cepat habis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Motor yang digunakan untuk perjalanan dekat sering dianggap lebih hemat bahan bakar karena jarak tempuhnya tidak jauh. Namun, dalam kondisi tertentu, pemakaian motor untuk perjalanan pendek justru bisa membuat konsumsi bahan bakar terasa lebih boros.

Hal ini terjadi karena mesin membutuhkan waktu untuk mencapai suhu kerja yang ideal. Jika motor baru digunakan sebentar lalu sudah dimatikan, proses pemanasan dan penggunaan bahan bakar pada awal perjalanan terjadi berulang kali.

1. Mesin belum mencapai suhu kerja yang ideal

ilustrasi naik motor sendirian (pexels.com/El gringo photo)

Saat mesin baru dinyalakan dalam kondisi dingin, sistem perlu bekerja untuk membawa suhu mesin menuju kondisi operasional. Pada fase awal ini, proses pembakaran dan pengelolaan bahan bakar belum tentu berada pada kondisi yang sama seperti ketika mesin sudah mencapai suhu kerja normal.

Jika motor hanya digunakan dalam jarak sangat pendek, mesin bisa saja sudah dimatikan sebelum suhunya stabil. Ketika perjalanan berikutnya dimulai, mesin kembali melalui fase awal yang sama. Kondisi ini dapat terjadi berulang kali apabila motor sering dipakai untuk perjalanan dekat dengan jeda cukup lama.

Pada motor injeksi, sistem manajemen mesin menggunakan berbagai informasi dari sensor untuk menyesuaikan suplai bahan bakar sesuai kondisi mesin. Saat mesin masih dingin, kebutuhan operasional bisa berbeda dibandingkan ketika suhu kerja sudah stabil, sehingga konsumsi bahan bakar pada perjalanan pendek tidak selalu seefisien perjalanan yang lebih panjang.

2. Waktu diam dan berhenti lebih banyak dibanding jarak tempuh

ilustrasi naik motor sendirian (pexels.com/Optical Chemist)

Perjalanan pendek sering dilakukan di lingkungan padat, seperti jalan perumahan, kawasan pertokoan, atau pusat kota. Dalam kondisi seperti ini, motor mungkin lebih sering berhenti di lampu merah, mengikuti antrean kendaraan, atau melaju sangat pelan.

Mesin tetap menggunakan bahan bakar selama hidup, termasuk ketika motor berhenti. Jika jarak yang ditempuh hanya sedikit tetapi waktu mesin menyala cukup lama, jumlah bahan bakar yang digunakan dibandingkan jarak tempuh bisa menjadi lebih besar.

Pola berhenti dan jalan kembali juga membutuhkan akselerasi berulang. Setiap kali motor mulai bergerak, mesin membutuhkan energi untuk membawa kendaraan kembali mencapai kecepatan tertentu. Semakin sering pola tersebut terjadi, konsumsi bahan bakar dapat menjadi kurang efisien dibandingkan motor yang melaju stabil.

3. Perjalanan pendek sering disertai pola penggunaan yang kurang efisien

ilustrasi naik motor (pexels.com/Visual Works)

Karena merasa tujuan sudah dekat, sebagian pengendara mungkin tidak terlalu memperhatikan cara berkendara. Bukaan gas yang terlalu agresif, akselerasi mendadak, atau sering memutar mesin pada putaran tinggi tetap dapat memengaruhi konsumsi bahan bakar, meski jarak perjalanan hanya beberapa kilometer.

Kondisi motor juga ikut menentukan. Tekanan ban yang kurang, filter udara yang kotor, atau komponen mesin yang tidak bekerja optimal dapat membuat motor membutuhkan lebih banyak energi. Dalam perjalanan pendek yang dilakukan berulang kali setiap hari, pengaruh kondisi tersebut bisa semakin terasa pada total konsumsi bahan bakar.

Karena itu, perjalanan dekat bukan berarti otomatis paling hemat. Motor yang sering digunakan untuk menempuh jarak pendek dapat mengalami kondisi mesin dingin berulang kali, menghadapi lebih banyak waktu berhenti, dan melakukan akselerasi lebih sering dibandingkan perjalanan jauh dengan kecepatan stabil.

Untuk menjaga efisiensi, lakukan perawatan rutin dan gunakan motor dengan pola berkendara yang halus. Pastikan juga tekanan ban sesuai rekomendasi karena ban yang kekurangan tekanan dapat menambah hambatan saat motor bergerak.

Jika konsumsi bahan bakar tiba-tiba jauh lebih boros dibandingkan biasanya, jangan hanya menyalahkan jarak perjalanan. Periksa juga apakah ada perubahan pada kondisi motor, tekanan ban, atau gejala lain seperti mesin terasa berat dan akselerasi tidak normal.

Pada akhirnya, konsumsi bahan bakar tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh motor melaju. Cara penggunaan, kondisi lalu lintas, suhu mesin, dan kondisi komponen turut menentukan seberapa efisien setiap tetes bahan bakar digunakan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article