Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Motor Gede Dimulai dari Berapa CC? Ini Aturannya di Indonesia

7 min read
Motor Gede Dimulai dari Berapa CC? Ini Aturannya di Indonesia
ilustrasi touring motor gede (pexels.com/Oleg Magni)
  • Istilah moge tidak memiliki batas cc universal; di Indonesia, motor di atas 250 cc masuk penggolongan khusus regulasi, sementara standar komunitas dan negara berbeda-beda.

  • Aturan SIM membagi motor hingga 250 cc untuk SIM C, di atas 250–500 cc SIM CI, serta di atas 500 cc SIM CII, dengan usia dan tahapan kepemilikan berjenjang.

  • PPnBM motor di atas 250–500 cc sebesar 60% dan di atas 500 cc sebesar 95%; kapasitas mesin turut memengaruhi harga, tetapi bukan satu-satunya penentu performa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Motor gede dimulai dari berapa cc? Pertanyaan ini cukup sering muncul di kalangan pencinta otomotif, terutama ketika membandingkan motor sport 250 cc, 400 cc, hingga 1.000 cc. Meski sama-sama terlihat gagah, ternyata tidak semua motor berkapasitas besar otomatis dianggap sebagai moge.

Di Indonesia, motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc sudah masuk kategori khusus dalam aturan SIM dan pajak barang mewah. Namun, penyebutan moge di kalangan pabrikan maupun komunitas otomotif bisa menggunakan standar yang berbeda.

Nah, supaya tidak salah membedakan motor biasa dan moge, yuk pahami pengertian, kategori kapasitas mesin, serta regulasi yang berlaku di Indonesia!

  1. 1. Pengertian motor gede

    Ilustrasi motor gede.(unsplash.com/Harley-Davidson)
    Ilustrasi motor gede.(unsplash.com/Harley-Davidson)

    Motor gede atau moge merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut sepeda motor dengan kapasitas mesin yang relatif lebih besar dibandingkan motor harian pada umumnya.

    Salah satu karakteristiknya adalah kapasitas mesin yang diukur menggunakan satuan cubic centimeter (cc). Angka tersebut menunjukkan volume langkah total silinder mesin, bukan ukuran fisik motor ataupun tenaga yang dihasilkan.

    Selain kapasitas mesin, moge biasanya menawarkan performa lebih tinggi, komponen berukuran besar, serta teknologi yang lebih kompleks. Meski begitu, karakteristik tersebut tidak selalu berlaku untuk setiap model.

    Namun, ada insight menarik di sini: moge merupakan istilah umum di dunia otomotif, bukan satu kategori kendaraan dengan batas cc tunggal yang ditetapkan secara universal.

    Sebagai contoh, sebuah motor sport 600 cc bisa memiliki dimensi fisik yang lebih ramping dan ringan dibandingkan motor cruiser atau touring berkapasitas 500 cc. Jadi, standar penyebutannya sangat fleksibel tergantung negara, produsen, dan komunitas.

  2. 2. Standar kapasitas mesin motor gede di Indonesia vs luar negeri

    ilustrasi moge (pexels.com/anastasia shuraeva)
    ilustrasi moge (pexels.com/anastasia shuraeva)

    Kalau membahas motor gede dimulai dari berapa cc, jawabannya bisa berbeda tergantung negara dan standar yang digunakan.

    Di Indonesia, kapasitas mesin di atas 250 cc sering dijadikan acuan awal, karena sudah masuk penggolongan khusus dalam regulasi perpajakan dan SIM.

    Namun, sebagian pelaku industri otomotif memiliki standar tersendiri. Misalnya, perwakilan KTM di Indonesia pernah menyebut motor dengan kapasitas minimal 400 cc sebagai kategori moge untuk merek tersebut.

    Sementara itu, sejumlah pasar luar negeri mempunyai pembagian kendaraan yang berbeda.

    Jepang, misalnya, menggolongkan sepeda motor dengan mesin di atas 400 cc sebagai large motorcycle dalam sistem perizinan berkendara. Motor hingga 400 cc masih masuk golongan sepeda motor biasa dalam klasifikasi tersebut.

    Berbeda lagi dengan Inggris, yang menggunakan kategori SIM A1, A2, dan A. Pembagiannya tidak hanya memperhatikan kapasitas mesin, tetapi juga tenaga dan rasio tenaga terhadap bobot kendaraan.

    Perbedaan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu angka cc yang berlaku secara global untuk menyebut sebuah motor sebagai moge.

    Dengan kata lain, motor 400 cc bisa dianggap sebagai moge oleh sebagian komunitas Indonesia, meskipun penyebutannya belum tentu sama di negara lain.

  3. 3. Aturan kapasitas mesin motor gede menurut Kepolisian Indonesi

    ilustrasi motor (unsplash.com/@harleydavidson)
    ilustrasi motor gede (unsplash.com/@harleydavidson)

    Di Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia memiliki aturan yang lebih jelas mengenai kapasitas mesin sepeda motor, khususnya dalam penggolongan Surat Izin Mengemudi (SIM).

    Ketentuan tersebut tercantum dalam Peraturan Polri Nomor 5 Tahun 2021, sebagaimana telah diubah melalui Peraturan Polri Nomor 2 Tahun 2023.

    Berdasarkan regulasi tersebut, SIM untuk pengendara sepeda motor terbagi menjadi tiga golongan:

    • SIM C: Untuk motor dengan kapasitas mesin sampai dengan 250 cc.
    • SIM CI (C1): Untuk motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc hingga 500 cc.
    • SIM CII (C2): Untuk motor dengan kapasitas mesin di atas 500 cc.

    Artinya, pengendara motor 250 cc masih termasuk golongan SIM C biasa. Namun, jika menggunakan motor 400 cc atau 500 cc, pengendara membutuhkan SIM CI.

    Sementara itu, motor 650 cc, 900 cc, hingga 1.000 cc masuk dalam golongan SIM CII.

    Ada pula persyaratan usia minimum yang harus dipenuhi, yakni 17 tahun untuk SIM C, 18 tahun untuk SIM CI, dan 19 tahun untuk SIM CII.

    Penggolongan ini juga menerapkan sistem berjenjang. Untuk mendapatkan SIM CI, pengendara harus sudah memiliki SIM C selama minimal 12 bulan. Begitu pula untuk memperoleh SIM CII, pemohon harus lebih dulu menggunakan SIM CI setidaknya 12 bulan.

    Perlu dicatat, pembagian SIM tersebut merupakan kategori legal untuk menentukan izin berkendara, bukan definisi resmi bahwa semua motor di atas 250 cc wajib disebut moge.

  4. 4. Pengaruh regulasi pajak barang mewah untuk motor gede

    ilustrasi moge (unslash.com/Harley-Davidson)
    ilustrasi moge (unslash.com/Harley-Davidson)

    Selain SIM, kapasitas mesin juga menentukan besarnya Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang dikenakan pada sepeda motor tertentu di Indonesia.

    Ketentuannya mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2019 yang telah diubah dengan PP Nomor 74 Tahun 2021, serta PMK Nomor 141/PMK.010/2021 sebagaimana diubah dengan PMK Nomor 42/PMK.010/2022.

    Dalam regulasi tersebut, kendaraan bermotor roda dua atau tiga dengan kapasitas mesin tertentu dikenakan tarif PPnBM sebagai berikut:

    • Sampai dengan 250 cc: Tidak dikenakan PPnBM untuk sepeda motor roda dua.
    • Di atas 250 cc hingga 500 cc: Dikenakan PPnBM sebesar 60%.
    • Di atas 500 cc: Dikenakan PPnBM sebesar 95%.

    Dari sini terlihat bahwa kenaikan kapasitas mesin dapat membawa konsekuensi pajak yang cukup besar.

    Sebagai gambaran, motor bermesin 471 cc berada dalam kelompok tarif PPnBM 60%. Namun, ketika kapasitas mesinnya mencapai 650 cc, kelompok tarifnya berubah menjadi 95%.

    Meski demikian, persentase tersebut merupakan tarif yang diterapkan terhadap dasar pengenaan pajak sesuai ketentuan, bukan berarti pembeli cukup menambahkan 60% atau 95% langsung pada harga jual di dealer.

    PPnBM juga berbeda dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang dibayarkan secara berkala oleh pemilik kendaraan. PPnBM pada dasarnya dikenakan pada tahap impor atau penyerahan pertama barang kena pajak tertentu, bukan setiap kali motor bekas berpindah tangan.

    Inilah salah satu alasan motor berkapasitas besar bisa memiliki harga yang jauh lebih tinggi di Indonesia, selain faktor spesifikasi, biaya impor, dan perlengkapan kendaraan.

  5. 5. Kategori motor gede berdasarkan kapasitas mesin

    ilustrasi mesin motor
    ilustrasi mesin motor (pexels.com/Maarten van den Heuvel)

    Setelah memahami aturan SIM dan pajak, kamu juga bisa membedakan motor berkapasitas besar berdasarkan kelas mesinnya.

    Untuk memudahkan pembahasan, berikut pengelompokan umum yang bisa digunakan sebagai gambaran. Pembagian ini bukan klasifikasi moge resmi yang ditetapkan pemerintah.

    1. Moge Entry-Level: Di Atas 250–500 cc

    Kelompok pertama mencakup motor dengan kapasitas mesin di atas 250 cc hingga 500 cc.

    Motor di kelas ini sering menjadi pilihan pengendara yang ingin naik kelas dari motor 150 cc atau 250 cc ke kendaraan dengan kapasitas mesin lebih besar.

    Contohnya adalah Royal Enfield Himalayan 450 yang menggunakan mesin 452 cc. Ada pula Honda Rebel 500 dengan kapasitas mesin sekitar 471 cc.

    Meski termasuk kelas awal motor berkapasitas besar, karakter performanya tetap bergantung pada jenis mesin, bobot kendaraan, dan tujuan penggunaannya.

    Menariknya, kategori inilah yang sering memunculkan perdebatan soal istilah moge. Sebab, sebagian pengendara menganggap motor 300–400 cc sudah layak disebut moge, sementara sebagian lainnya memilih batas yang lebih tinggi.

    2. Moge Middleweight: Di Atas 500–1.000 cc

    Naik satu tingkat, terdapat motor berkapasitas lebih dari 500 cc hingga 1.000 cc yang umumnya disebut kelas middleweight dalam pengelompokan otomotif.

    Kelas ini mencakup berbagai jenis motor, mulai dari naked bike, sportbike, adventure, hingga touring.

    Salah satu contohnya adalah Triumph Tiger Sport 660 dengan mesin tiga silinder berkapasitas 660 cc.

    Dibandingkan kelas sebelumnya, banyak motor di segmen ini menawarkan tenaga dan torsi lebih besar. Namun, bukan berarti semua model memiliki karakter berkendara yang sama.

    Motor adventure 650 cc, misalnya, dirancang dengan kebutuhan berbeda dari sportbike 600 cc yang lebih berorientasi pada performa putaran tinggi.

    Di Indonesia, motor dalam kelompok ini sudah memerlukan SIM CII dan termasuk kategori PPnBM 95%.

    3. Moge Heavyweight: Di Atas 1.000 cc

    Kategori berikutnya mencakup motor dengan kapasitas mesin di atas 1.000 cc.

    Motor di kelas ini banyak ditemukan pada segmen superbike, adventure premium, cruiser, hingga touring jarak jauh.

    Contohnya adalah BMW R 1300 GS dengan mesin 1.300 cc serta Triumph Rocket 3 Storm yang memiliki kapasitas mesin mencapai 2.458 cc.

    Meski sama-sama memiliki mesin besar, keduanya menawarkan pengalaman berkendara yang berbeda. BMW R 1300 GS dikembangkan sebagai motor adventure, sedangkan Rocket 3 menonjolkan karakter cruiser dengan torsi melimpah.

    Jadi kesimpulannya, kapasitas mesin bukan satu-satunya indikator performa. Desain mesin, bobot, transmisi, dan penyetelan tenaga tetap berpengaruh besar terhadap karakter berkendara.

    Jadi, apakah motor harus memiliki mesin 500 cc agar bisa disebut moge? Tidak selalu. Dalam konteks regulasi Indonesia, kapasitas di atas 250 cc sudah memiliki penggolongan tersendiri, sedangkan istilah moge tetap bergantung pada standar yang digunakan.

    Kalau menurutmu, motor 400 cc sudah pantas disebut moge, atau sebaiknya istilah tersebut hanya digunakan untuk motor 500 cc ke atas?

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More