Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Waspada! Bahaya Menggunakan Helm Terlalu Longgar

Waspada! Bahaya Menggunakan Helm Terlalu Longgar
Ilustrasi wanita memakai helm (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Helm yang terlalu longgar kehilangan fungsi pelindungnya karena kepala tidak menempel rapat pada lapisan styrofoam, meningkatkan risiko cedera serius saat benturan.
  • Ukuran helm yang tidak pas dapat bergeser atau bahkan terlepas saat kecepatan tinggi, membuat kepala rentan terkena benturan langsung tanpa perlindungan.
  • Celah udara pada helm longgar menimbulkan kebisingan dan getaran berlebih, menyebabkan kelelahan leher serta menurunkan fokus pengendara di jalan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Memilih perlengkapan berkendara sering kali didasari oleh faktor kenyamanan semata, termasuk dalam menentukan ukuran helm. Banyak pengendara yang sengaja memilih ukuran lebih besar agar tidak merasa sesak atau demi menjaga tatanan rambut, namun keputusan ini justru menyimpan ancaman keselamatan yang sangat serius di jalan raya.

Helm yang tidak mencengkeram kepala dengan sempurna akan kehilangan fungsi utamanya sebagai pelindung saat terjadi benturan. Alih-alih memberikan keamanan, penggunaan helm yang longgar justru dapat memperparah cedera akibat pergerakan yang tidak terkendali di dalam cangkang pelindung saat kecelakaan terjadi.

1. Penurunan efektivitas peredaman benturan pada styrofoam

ilustrasi helm motor (pexels.com/MIXU)
ilustrasi helm motor (pexels.com/MIXU)

Fungsi utama helm adalah menyerap energi kinetik melalui lapisan Expanded Polystyrene (EPS) atau styrofoam yang ada di bagian dalam. Agar penyerapan ini bekerja maksimal, kepala harus menempel rapat pada lapisan tersebut sehingga tidak ada ruang kosong yang memungkinkan kepala bergerak secara mandiri. Jika helm terlalu longgar, akan terdapat celah udara yang membuat kepala membentur bagian dalam helm terlebih dahulu sebelum styrofoam mulai bekerja menyerap beban.

Benturan ganda ini—yaitu kepala membentur bagian dalam helm dan kemudian helm membentur aspal—dapat meningkatkan risiko gegar otak secara signifikan. Ruang kosong tersebut memberikan momentum tambahan bagi tengkorak untuk berakselerasi di dalam helm, sehingga gaya hantam yang diterima otak menjadi berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan jika menggunakan helm dengan ukuran yang presisi atau snug fit.

2. Resiko helm terlepas atau bergeser saat kecepatan tinggi

ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Keamanan saat berkendara tidak hanya diukur saat terjadi kecelakaan, tetapi juga selama perjalanan berlangsung. Helm yang terlalu longgar cenderung tidak stabil dan mudah bergeser akibat terpaan angin kencang, terutama saat motor melaju pada kecepatan tinggi. Posisi helm yang mendongak ke belakang atau merosot ke depan dapat menutupi pandangan mata secara tiba-tiba, yang tentu saja sangat membahayakan stabilitas pengendalian motor.

Dalam skenario kecelakaan yang melibatkan gulingan atau benturan keras, helm yang tidak pas di kepala sangat rentan terlepas sepenuhnya meskipun tali pengikat sudah dikunci. Gaya sentrifugal yang dihasilkan saat tubuh terpental dapat dengan mudah menarik keluar kepala dari cangkang helm yang longgar. Jika helm terlepas sebelum kepala berhenti membentur benda keras, maka fungsi perlindungan akan hilang seketika, membiarkan organ vital terpapar langsung pada aspal atau trotoar tanpa pelindung sama sekali.

3. Gangguan konsentrasi akibat kebisingan dan getaran berlebih

ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)
ilustrasi helm (pexels.com/Anastasia Shuraeva)

Selain aspek keselamatan fisik, helm yang longgar juga berdampak buruk pada kenyamanan akustik dan fokus pengendara. Celah yang luas antara busa pipi dengan wajah menjadi jalan masuk bagi angin (wind noise) yang berlebihan ke dalam area telinga. Suara bising yang terus-menerus ini tidak hanya menyebabkan kelelahan pendengaran, tetapi juga dapat menutupi suara peringatan penting dari lingkungan sekitar, seperti klakson kendaraan lain atau suara sirine ambulans.

Getaran atau guncangan helm yang terus-menerus karena tertiup angin juga memaksa otot leher bekerja lebih keras untuk menstabilkan posisi kepala. Kelelahan pada otot leher ini secara tidak langsung akan menurunkan konsentrasi dan memperlambat waktu reaksi saat menghadapi situasi darurat di jalan. Oleh karena itu, memastikan busa helm menekan pipi dengan rapat namun tidak menyakitkan adalah standar mutlak yang harus dipenuhi agar setiap perjalanan tetap aman, tenang, dan terlindungi secara maksimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dwi Agustiar
EditorDwi Agustiar
Follow Us

Related Articles

See More