Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 BUMN Karya Masuk Agenda Merger Bulan Depan, Ini Profilnya
Kantor pusat Kementerian BUMN. (IDN Times/VadhiaLidyana)
  • BP BUMN dan Danantara Indonesia menjadwalkan merger empat BUMN karya pada penghujung tahun, dengan target penyelesaian November 2026 sehingga tersisa dua perusahaan.

  • PTPP akan digabung dengan Adhi Karya, sementara Nindya Karya akan dimerger dengan Brantas Abipraya dalam agenda konsolidasi BUMN konstruksi.

  • Keempat perusahaan bergerak di konstruksi dan infrastruktur, dengan portofolio mencakup gedung, jalan, jembatan, bendungan, transportasi, properti, energi, serta investasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) dan Danantara Indonesia akan melaksanakan merger empat BUMN karya di penghujung tahun ini.

Empat BUMN itu adalah PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) yang akan dimerger dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), serta PT Nindya Karya (Persero) yang akan dimerger dengan PT Brantas Abipraya (Persero).

Dengan demikian, dari empat perusahaan, hanya akan tersisa dua perusahaan. Aksi korporasi itu ditargetkan rampung pada November 2026.

Berikut profil empat BUMN karya tersebut.

1. PTPP

Kantor pusat PT PP (Persero) Tbk (PTPP). (dok. PTPP)

PT PP adalah perusahaan yang didirikan pada 26 Agustus 1953. Perusahaan bergerak di bidang konstruksi (gedung, sipil/ infrastruktur, EPC, spesialis, plant dan peralatan) dan investasi (infrastruktur, properti, dan energi).

Dari sisi kepemilikan saham, pemerintah mengantongi 51 persen saham PT PP, dan 49 persen dipegang oleh publik.

Saat ini, PT PP dipimpin oleh Novel Arsyad selaku Direktur Utama (Dirut). Novel mengatakan, pihaknya terus berupaya menjadikan PT PP menjadi perusahaan konstruksi dan investasi terbaik di Indonesia.

“PTPP akan terus memberikan trademark kualitas terbaik dengan optimalisasi inovasi dan teknologi terdepan untuk menghasilkan karya unggulan dari putra-putri bangsa demi pembangunan Indonesia,” tutur Novel dikutip dari situs resmi PT PP, Senin (12/10/2026).

2. Adhi Karya

Kantor pusat PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) di Cawang, Jakarta Timur. (dok. Adhi Karya)

Adhi Karya awalnya adalah perusahaan Belanda bernama Associatie NV. Perusahaan kemudian dinasionalisasi pada 1960. Nama perusahaan resmi berganti menjadi Adhi Karya pada 1961 melalui Peraturan Pemerintah nomor 65 tahun 1961.

Pada 2004, Adhi Karya ditetapkan menjadi BUMN konstruksi pertama yang tercatat sebagai perusahaan terbuka di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Kemudian pada 2015, Adhi Karya mendapatkan amanah besar, yakni membangun jalur LRT Jabodebek.

Di 2022, anak usaha Adhi Karya, yakni PT ADHI Commuter Properti melantai Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham ADCP. Saat ini, ADCP tengah disorot karena kasus mangkraknya proyek apartemen LRT City.

Adhi Karya masuk dalam bursa konsolidasi BUMN karya, dan disebut Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria akan dimerger dengan PTPP. Saat ini, Adhi Karya dipimpin oleh Moeharmein Zein Chaniago selaku Direktur Utama (Dirut).

3. Nindya Karya

Logo PT Nindya Karya (Persero). (dok. Danareksa)

Nindya Karya adalah BUMN karya yang bergerak di bidang General Contractor, Engineering, Procurement, and Construction (EPC), serta Investasi.

Awalnya, Nindya Karya didirikan sebagai perusahaan Belanda bernama N.V. Nederlands Aennemings Maastchappy (NEDAM) v/h Fa.H. Boersma pada 1877. Kemudian, perusahaan dinasionalisasi pada 1960, dan berganti nama menjadi Nindya Karya pada 1961.

Ada empat bisnis utama Nindya Karya, yaitu konstruksi, investasi, manufaktur, dan real estate management. Perusahaan memiliki portofolio mencakup berbagai proyek strategis nasional (PSN), mulai dari bendungan, irigasi, dermaga, bandara, jalan tol, dan jembatan, hingga fasilitas kesehatan, bangunan industri, kawasan komersial, apartemen, serta sarana pendidikan dan olahraga.

Saat ini, Nindya Karya dipimpin oleh Firmansyah selaku Direktur Utama, Sri Haryanto selaku Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Eduard Batubara selaku Direktur Pengembangan Bisnis & SDM, Fatchurrohman selaku Direktur Operasi 1, dan Arif Putranto selaku Direktur Operasi 2.

4. Brantas Abipraya

Kantor pusat PT Brantas Abipraya (Persero). (dok. Brantas Abipraya)

PT Brantas Abipraya (Persero) berdiri pada 12 November 1980 di Malang, Jawa Timur. Pendirian perusahaan ini berawal dari Proyek Perluasan Wilayah Sungai Brantas, diinisiasi oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Ketenagalistrikan, Ir. Sutami, ketika mengunjungi Karangates Selorejo pada 1970.

Sebagai kontraktor umum, perusahaan bergerak di bidang konstruksi, pabrikasi bahan bangunan, penyewaan peralatan, serta jasa konsultasi dan manajemen.

Selain itu, perusahaan juga mengembangkan bisnis di sektor investasi, perdagangan, dan teknologi informasi, dengan fokus pada pembangunan infrastruktur strategis, seperti jalan tol, sistem penyediaan air minum, dan pengelolaan limbah.

Seiring dengan perkembangan kapabilitas, Brantas Abipraya memperluas cakupan usahanya ke pembangunan jalan dan jembatan, transportasi darat, laut, dan udara, pelabuhan, bandara, penyediaan tenaga listrik, serta pengembangan properti.

Penguatan portofolio bisnis tersebut didukung oleh pembentukan anak perusahaan PT Brantas Energi pada tahun 2011 yang berfokus pada pengembangan energi baru terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Saat ini operasional perusahaan didukung oleh tiga divisi utama, yaitu Divisi Operasi 1 (Gedung, Bangunan, dan Properti), Divisi Operasi 2 (Sumber Daya Air dan Peralatan), serta Divisi Operasi 3 (Jalan, Jembatan, Beton, dan Precast).

Untuk mendukung kebutuhan proyek, perusahaan juga mengoperasikan fasilitas beton pracetak di OSP IKN dan Subang. Brantas Abipraya dipimpin oleh Agung Fajarwanto sebagai Direktur Utama (Dirut).

Curated For You

Editorial Team

Related Article