Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ada Drama Blokade Selat Hormuz, Rupiah Ogah Bangkit
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah ke Rp17.143 per dolar AS akibat tekanan global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
  • Blokade total pelabuhan Iran oleh militer AS memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz.
  • IMF dan Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, sementara ADB tetap optimis dengan dukungan permintaan domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah kembali loyo dan harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026). Rupiah sore ini parkir di level Rp17.143 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda melemah sebesar 16 poin dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp17.127 per dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bahkan sempat terperosok hingga 20 poin.

1. Ekonomi Iran tertekan oleh blokade total militer AS

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti blokade total pelabuhan Iran oleh militer AS demi menekan Teheran pascabuntunya perundingan damai kedua negara di Pakistan.

Meski menghentikan seluruh perdagangan laut Iran, langkah tersebut berisiko mengganggu Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan minyak dunia jika Teheran melakukan aksi balasan militer.

"Terlepas dari blokade tersebut, gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran tampaknya tetap bertahan, tanpa laporan serangan baru sejak akhir pekan lalu," kata Ibrahim.

2. Ramalan ekonomi Indonesia juga menghantui rupiah

Laju rupiah juga dipengaruhi oleh Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang memangkas proyeksi ekonomi Indonesia 2026 menjadi lima persen dan ekonomi global melambat ke 3,1 persen akibat perang di Timur Tengah.

World Bank (Bank Dunia) turut menurunkan ramalan pertumbuhan RI ke 4,7 persen. Sebaliknya, ADB tetap optimis ekonomi Indonesia tumbuh stabil 5,2 persen pada 2026-2027 karena kuatnya permintaan domestik.

"Perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global akibat perseturuan antara AS, Israel, dan Iran, yang berdampak terhadap blokade Selat Hormuz serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional," paparnya.

3. Rupiah masih dihantui tren pelemahan pada Kamis

Melihat dinamika global yang belum pasti, pergerakan rupiah untuk perdagangan Rabu (16/4/2026) diperkirakan masih akan naik-turun atau fluktuatif. Namun, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih memiliki kecenderungan untuk ditutup melemah.

Mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak dalam rentang antara Rp17.140 dan Rp17.180 per dolar AS.

Editorial Team