Jakarta, IDN Times – Percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) disebut bisa menjadi langkah strategis untuk meredam tekanan lonjakan harga minyak global terhadap APBN dengan menekan ketergantungan Indonesia pada impor minyak.
"Kendaraan listrik menjadi solusi jangka panjang karena mampu mengurangi konsumsi BBM secara signifikan. Selain menekan impor, peralihan ke listrik juga membantu mengurangi kebutuhan subsidi BBM yang selama ini sebagian besar dinikmati oleh sektor transportasi," ujar pengamat otomotif, Martinus Pasaribu dalam keterangan resminya, Minggu (29/3/2026).
Untuk diketahui, saat ini sekitar 60–70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari impor, sedangkan lifting minyak domestik terus menurun dan berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Kondisi ini membuat APBN sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, terutama di tengah eskalasi konflik geopolitik seperti di Selat Hormuz.
Adapun dalam asumsi makro APBN, kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga sekitar Rp8–Rp10 triliun.
Dengan realisasi harga minyak dunia yang dapat menembus 90–100 dolar AS per barel, total belanja subsidi energi berpotensi kembali membengkak mendekati atau bahkan melampaui Rp300 triliun per tahun, seperti yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
