ilustrasi perusahaan minyak, energi, BBM (pexels.com/Michael Pointner)
Faktor ketiga adalah meningkatnya penggunaan jaringan pipa. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk memiliki sejumlah jalur darat yang memungkinkan minyak dikirim tanpa harus melewati Selat Hormuz. Ketika jalur laut menjadi terlalu berisiko, kapasitas pipa yang sebelumnya gak digunakan secara maksimal bisa dimanfaatkan untuk menjaga ekspor tetap berjalan. Strategi ini menjadi salah satu alasan mengapa gangguan di Selat Hormuz gak langsung membuat seluruh ekspor minyak Timur Tengah berhenti.
Menurut data Kpler yang dikutip BBC, sekitar 40 persen minyak yang diekspor dari kawasan Timur Tengah pada September dikirim melalui jalur alternatif sehingga gak perlu melewati Selat Hormuz. Minyak tersebut dialirkan melalui jaringan pipa menuju pelabuhan di Laut Merah atau Teluk Oman, meningkat dari sekitar 17 persen sebelum perang. Hampir 20 persen minyak mentah dari kawasan tersebut bahkan kini keluar melalui pelabuhan Laut Merah yang terhubung dengan East-West Pipeline milik Arab Saudi. Jalur pipa tersebut mencatat pengiriman lebih dari 4 juta barel minyak per hari.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab segera mengaktifkan kapasitas pipa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan setelah Selat Hormuz terganggu. Arab Saudi mengalirkan minyak melalui East-West Pipeline menuju Yanbu di Laut Merah, sementara UEA menggunakan jaringan pipa menuju Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz. Langkah tersebut membuat sebagian minyak bisa mencapai pasar internasional tanpa harus melewati titik konflik utama.
Pemulihan ekspor Arab Saudi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan ekspor minyak kawasan pada September. Pengiriman minyak mentah Arab Saudi meningkat sekitar 4,2 juta barel per hari dari Agustus menjadi 6,6 juta barel per hari pada September. Peningkatan tersebut membantu mengimbangi penurunan ekspor dari beberapa negara lain di kawasan tersebut.
Namun, jalur pipa juga gak sepenuhnya kebal terhadap konflik. East-West Pipeline sempat mengalami gangguan setelah serangan drone pada September dan membuat aktivitas pemuatan minyak di Yanbu terhenti sementara. Arab Saudi kemudian kembali menggunakan jalur tersebut untuk menjaga ekspor tetap berjalan. Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi pengalihan rute memang efektif, tapi infrastruktur alternatif tetap bisa menjadi sasaran ketika konflik terus berlanjut.
Ada satu hal penting lain yang perlu diperhatikan. Pemulihan aliran minyak mentah bukan berarti seluruh produk energi dari Timur Tengah sudah kembali normal. Data Kpler yang dikutip BBC menunjukkan ekspor produk minyak olahan masih jauh di bawah level sebelum perang. Pada pekan terakhir September, kurang dari 1 juta barel produk minyak olahan per hari melewati Selat Hormuz, dibandingkan sekitar 3,5 juta barel per hari sebelum konflik.
Kondisi Iran juga sangat berbeda dibandingkan negara-negara penghasil minyak lainnya. Ekspor minyak Iran hampir berhenti setelah Amerika Serikat kembali menerapkan blokade laut pada pertengahan Juli. Sebelum perang, Iran masih mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, sedangkan data Kpler menunjukkan volumenya kemudian turun mendekati nol. Jadi, kenaikan kembali aliran minyak Timur Tengah sebenarnya lebih banyak didorong oleh kemampuan negara-negara Teluk lain dalam mengalihkan rute dan menyesuaikan sistem pengiriman.
Aliran minyak Timur Tengah yang kembali mendekati kondisi sebelum perang menunjukkan bahwa pasar energi mampu beradaptasi meski menghadapi gangguan geopolitik besar. Pengawalan militer AS, sistem transfer antarkapal, dan penggunaan jaringan pipa menjadi tiga strategi utama yang membantu negara-negara Teluk mempertahankan ekspor. Ekspor minyak mentah dari produsen utama kawasan mencapai 16,328 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak konflik dimulai.
Meski begitu, kondisi tersebut belum berarti rantai pasokan energi sudah sepenuhnya normal karena pengiriman produk olahan masih tertinggal dan biaya logistik meningkat. Selama risiko serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi masih ada, aliran minyak yang sekarang terlihat deras tetap memiliki potensi terganggu kembali.