Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Alasan Minyak Timur Tengah Kembali Deras Pascaperang Iran, Kok Bisa?
ilustrasi Shell, perusahaan energi, BBM, bensin, minyak bumi, karyawan SPBU (pexels.com/Photomandi PK)
  • Aliran minyak Timur Tengah mencapai sekitar 92% level praperang pada akhir September, dengan ekspor produsen utama naik menjadi 16,328 juta barel per hari.

  • Pengawalan militer AS dan transfer minyak antartanker di Teluk Oman menjaga pengiriman berjalan, meski ancaman serangan kapal serta biaya dan kerumitan logistik tetap tinggi.

  • Penggunaan pipa alternatif meningkatkan ekspor tanpa Selat Hormuz; namun produk olahan masih tertinggal, ekspor Iran mendekati nol, dan infrastruktur pipa juga rentan diserang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perang di Timur Tengah sempat membuat aliran minyak global berada dalam tekanan besar, terutama setelah Selat Hormuz terganggu akibat konflik Iran dan Amerika Serikat. Selat ini punya peran penting karena menjadi jalur yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk dengan pasar dunia.

Namun, beberapa bulan setelah konflik berlangsung, aliran minyak dari kawasan tersebut justru mulai mendekati level sebelum perang. Data Kpler yang dikutip BBC menunjukkan bahwa pada pekan terakhir September, aliran minyak harian dari Timur Tengah sudah mencapai sekitar 92 persen dari kondisi sebelum perang.

Kondisi ini terjadi karena negara-negara penghasil minyak dan perusahaan pelayaran menemukan sejumlah cara untuk tetap mengirimkan minyak meski jalur utama masih berisiko. Lantas, apa yang membuat aliran minyak Timur Tengah bisa kembali deras?

1. Kapal mendapat bantuan militer AS

ilustrasi bendera Amerika Serikat (vecteezy.com/Chaikrit Sutthi)

Salah satu faktor penting adalah bantuan militer Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dukungan ini sudah berlangsung setidaknya sejak pertengahan Juni dan dilakukan untuk membantu kapal menghadapi ancaman dari drone, rudal, maupun kapal yang berpotensi melakukan serangan. Data Angkatan Laut AS menunjukkan jumlah kapal yang mendapat bantuan dari pasukan Amerika meningkat sekitar sepertiga pada September dibandingkan Agustus. Strategi ini membuat sebagian aktivitas pelayaran tetap berjalan meski risiko keamanan di sekitar selat belum hilang.

Menurut Martin Kelly, analis intelijen senior dari EOS Risk Group, bentuk bantuan AS terutama berupa dukungan udara kepada kapal. Bantuan tersebut mencakup pemberian peringatan serta upaya mencegat ancaman yang datang selama kapal melintas. Amerika Serikat membantu menciptakan koridor pelayaran di dekat Oman sehingga kapal-kapal dapat menggunakan jalur yang dianggap lebih aman. Dalam beberapa bulan, jalur tersebut menjadi salah satu cara penting untuk menjaga sebagian arus minyak tetap bergerak.

Pemulihan ekspor minyak Timur Tengah mulai terlihat jelas pada September. Ekspor minyak mentah dari produsen utama kawasan tersebut mencapai sekitar 16,328 juta barel per hari, menjadi level tertinggi sejak konflik dimulai pada Februari. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa dukungan keamanan dan penyesuaian rute pelayaran ikut membantu negara-negara Teluk mengembalikan sebagian volume ekspornya.

Meski begitu, situasinya belum bisa disebut aman sepenuhnya. Kapal yang menggunakan rute bagian selatan Selat Hormuz dekat Oman masih menghadapi ancaman serangan. Menurut Armed Conflict Location and Event Data yang dikutip BBC, September mencatat jumlah serangan Iran yang berhasil mengenai kapal komersial pada level tertinggi sejak Maret. Artinya, pengawalan militer memang membantu, tapi tetap menyisakan risiko besar bagi pelaku industri minyak.

2. Kapal tanker memakai sistem transfer di tengah laut

ilustrasi kapal tanker, kapal laut, perairan (pexels.com/Edu Raw)

Cara kedua adalah menggunakan sistem pemindahan minyak dari satu kapal tanker ke kapal lainnya. Kpler mencatat lebih dari 60 kapal tanker besar digunakan dalam sistem shuttle yang bergerak bolak-balik melewati kawasan Selat Hormuz. Setelah membawa minyak, kapal-kapal tersebut dapat memindahkannya ke kapal lain di perairan Teluk Oman. Pola ini membuat pengiriman minyak tetap bisa berlangsung meski pelayaran langsung dari terminal minyak menuju pasar tujuan menghadapi risiko lebih tinggi.

Data Kpler menunjukkan lebih dari 70 persen minyak mentah yang melewati Selat Hormuz pada Agustus dipindahkan dari shuttle tanker ke kapal lain di Teluk Oman. BBC Verify juga menganalisis citra satelit yang memperlihatkan aktivitas transfer antarkapal di sekitar Sohar, Oman. Salah satu citra pada 24 September menunjukkan beberapa pasangan kapal berada dalam posisi berdekatan di sekitar pelabuhan tersebut. Aktivitas seperti ini memungkinkan minyak terus bergerak sambil mengurangi waktu kapal tertentu berada di area yang dianggap lebih berbahaya.

AP menjelaskan bahwa sistem shuttle tersebut menjadi bagian dari berbagai strategi alternatif yang digunakan negara-negara Teluk setelah Selat Hormuz terganggu. Kapal dapat membawa minyak menuju titik transfer, kemudian muatannya dipindahkan ke tanker lain untuk melanjutkan perjalanan. Cara tersebut memang membantu mengembalikan sebagian pasokan, tapi membutuhkan lebih banyak kapal, waktu, dan biaya. Kondisi ini pada akhirnya membuat proses pengiriman minyak menjadi jauh lebih rumit dibandingkan sebelum perang.

Risikonya juga belum hilang. Martin Kelly menilai masih ada pertanyaan mengenai berapa lama sistem tersebut bisa bertahan jika kapal tanker yang melakukan transfer terus menjadi sasaran serangan. Kpler mencatat rata-rata lebih dari 4 juta barel minyak per hari dipindahkan dari satu kapal ke kapal lain di Teluk Oman pada pekan hingga 30 September. Secara keseluruhan, sekitar 12 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada periode tersebut, masih lebih rendah dibandingkan sekitar 17 juta barel per hari sebelum perang.

3. Jalur pipa menghindari Selat Hormuz

ilustrasi perusahaan minyak, energi, BBM (pexels.com/Michael Pointner)

Faktor ketiga adalah meningkatnya penggunaan jaringan pipa. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk memiliki sejumlah jalur darat yang memungkinkan minyak dikirim tanpa harus melewati Selat Hormuz. Ketika jalur laut menjadi terlalu berisiko, kapasitas pipa yang sebelumnya gak digunakan secara maksimal bisa dimanfaatkan untuk menjaga ekspor tetap berjalan. Strategi ini menjadi salah satu alasan mengapa gangguan di Selat Hormuz gak langsung membuat seluruh ekspor minyak Timur Tengah berhenti.

Menurut data Kpler yang dikutip BBC, sekitar 40 persen minyak yang diekspor dari kawasan Timur Tengah pada September dikirim melalui jalur alternatif sehingga gak perlu melewati Selat Hormuz. Minyak tersebut dialirkan melalui jaringan pipa menuju pelabuhan di Laut Merah atau Teluk Oman, meningkat dari sekitar 17 persen sebelum perang. Hampir 20 persen minyak mentah dari kawasan tersebut bahkan kini keluar melalui pelabuhan Laut Merah yang terhubung dengan East-West Pipeline milik Arab Saudi. Jalur pipa tersebut mencatat pengiriman lebih dari 4 juta barel minyak per hari.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab segera mengaktifkan kapasitas pipa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan setelah Selat Hormuz terganggu. Arab Saudi mengalirkan minyak melalui East-West Pipeline menuju Yanbu di Laut Merah, sementara UEA menggunakan jaringan pipa menuju Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz. Langkah tersebut membuat sebagian minyak bisa mencapai pasar internasional tanpa harus melewati titik konflik utama.

Pemulihan ekspor Arab Saudi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan ekspor minyak kawasan pada September. Pengiriman minyak mentah Arab Saudi meningkat sekitar 4,2 juta barel per hari dari Agustus menjadi 6,6 juta barel per hari pada September. Peningkatan tersebut membantu mengimbangi penurunan ekspor dari beberapa negara lain di kawasan tersebut.

Namun, jalur pipa juga gak sepenuhnya kebal terhadap konflik. East-West Pipeline sempat mengalami gangguan setelah serangan drone pada September dan membuat aktivitas pemuatan minyak di Yanbu terhenti sementara. Arab Saudi kemudian kembali menggunakan jalur tersebut untuk menjaga ekspor tetap berjalan. Kondisi ini menunjukkan bahwa strategi pengalihan rute memang efektif, tapi infrastruktur alternatif tetap bisa menjadi sasaran ketika konflik terus berlanjut.

Ada satu hal penting lain yang perlu diperhatikan. Pemulihan aliran minyak mentah bukan berarti seluruh produk energi dari Timur Tengah sudah kembali normal. Data Kpler yang dikutip BBC menunjukkan ekspor produk minyak olahan masih jauh di bawah level sebelum perang. Pada pekan terakhir September, kurang dari 1 juta barel produk minyak olahan per hari melewati Selat Hormuz, dibandingkan sekitar 3,5 juta barel per hari sebelum konflik.

Kondisi Iran juga sangat berbeda dibandingkan negara-negara penghasil minyak lainnya. Ekspor minyak Iran hampir berhenti setelah Amerika Serikat kembali menerapkan blokade laut pada pertengahan Juli. Sebelum perang, Iran masih mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, sedangkan data Kpler menunjukkan volumenya kemudian turun mendekati nol. Jadi, kenaikan kembali aliran minyak Timur Tengah sebenarnya lebih banyak didorong oleh kemampuan negara-negara Teluk lain dalam mengalihkan rute dan menyesuaikan sistem pengiriman.

Aliran minyak Timur Tengah yang kembali mendekati kondisi sebelum perang menunjukkan bahwa pasar energi mampu beradaptasi meski menghadapi gangguan geopolitik besar. Pengawalan militer AS, sistem transfer antarkapal, dan penggunaan jaringan pipa menjadi tiga strategi utama yang membantu negara-negara Teluk mempertahankan ekspor. Ekspor minyak mentah dari produsen utama kawasan mencapai 16,328 juta barel per hari pada September, level tertinggi sejak konflik dimulai.

Meski begitu, kondisi tersebut belum berarti rantai pasokan energi sudah sepenuhnya normal karena pengiriman produk olahan masih tertinggal dan biaya logistik meningkat. Selama risiko serangan terhadap kapal dan infrastruktur energi masih ada, aliran minyak yang sekarang terlihat deras tetap memiliki potensi terganggu kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article