Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ukraina Tuduh Korsel Bantu Pasok 176 Ribu Ton Minyak ke Rusia

2 min read
Ukraina Tuduh Korsel Bantu Pasok 176 Ribu Ton Minyak ke Rusia
potret bendera Ukraina (pexels.com/Freek Wolsink)
  • Ukraina menuduh Korea Selatan memasok 176 ribu ton minyak ke Rusia saat serangan Kyiv terhadap kilang Rusia mengganggu produksi, ekspor, dan memicu kenaikan harga bahan bakar.
  • Menurut Komisaris Ukraina Vladyslav Vlasiuk, Rusia mengimpor sekitar 31 persen cadangan minyaknya dari Korea Selatan pada Agustus menggunakan kapal Rusia yang terkena sanksi Uni Eropa.
  • Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan pengawasan pasokan minyak ke Rusia dilakukan ketat agar tidak dipakai untuk perang, seraya menegaskan dukungan bagi perdamaian Ukraina.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Ukraina menuduh Korea Selatan (Korsel) telah memberikan bantuan ke Rusia berupa pasokan minyak sebanyak 176 ribu ton. Sebab, Moskow saat ini sedang mengalami krisis minyak untuk berperang dengan Kyiv sehingga mereka butuh impor minyak dari pihak asing, termasuk dari Korsel.

Dalam keterangannya pada Selasa (6/10/2026), Komisaris Kepresidenan untuk Kebijakan Sanksi Ukraina, Vladyslav Vlasiuk, mengatakan, krisis minyak di Rusia disebabkan oleh serangan Ukraina. Sebab, dalam beberapa pekan terakhir, Kyiv sering menyerang kilang minyak milik Moskow. Serangan ini lantas membuat produksi minyak Rusia menjadi terganggu.

  1. 1. Harga bahan bakar di Rusia naik

    Pom bensin yang menyediakan bahan bakar.
    ilustrasi bahan bakar (pexels.com/Gustavo Fring)

    Akibatnya, ekspor minyak dan solar Rusia juga harus terhenti. Hal ini membuat pendapatan Moskow dari sektor minyak kian tergerus. Selain itu, Vlasiuk mengatakan, serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia juga telah membuat harga minyak di sana meroket tajam.

    "Pada intinya, impor dari Korea Selatan membantu Rusia mengimbangi dampak hilangnya kapasitas penyulingan minyaknya sendiri. Hal ini sangat kontras dengan kebijakan sanksi yang diadopsi Korea Selatan setelah dimulainya invasi skala penuh," tulis Vlasiuk dalam sebuah unggahan di Facebook, seperti dikutip Jerusalem Post.

  2. 2. Sebanyak 31 persen cadangan minyak Rusia diimpor dari Korsel

    Tanki penyimpanan minyak.
    ilustrasi minyak per barel (unsplash.com/Atik sulianami)

    Vlasiuk menambahkan, pada Agustus lalu, Rusia mengimpor sekitar 31 persen cadangan minyaknya dari Korsel. Minyak tersebut diambil dari Negeri Ginseng menggunakan kapal Rusia yang sudah diberi sanksi oleh Uni Eropa.

    "Pengiriman ini dimulai tepat ketika serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia mengurangi volume pengolahan dan menciptakan kekurangan bahan bakar di Rusia," lanjut Vlasiuk.

  3. 3. Korsel merespons tuduhan Ukraina

    Bendera Korea Selatan sedang berkibar.
    potret bendera Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard)

    Tuduhan Ukraina ini lantas langsung direspons oleh Korsel. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Korsel mengatakan, pihaknya selalu melakukan kontrol ketat ketika memasok minyak ke Rusia. Langkah ini dikakukan agar minyak-minyak tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan perang. Sebab, Seoul berkomitmen untuk mendorong penyelesaian perang antara Rusia dan Ukraina.

    "Pemerintah Korea (Sealatan) mendukung dan secara aktif berpartisipasi dalam upaya global untuk mengakhiri perang di Ukraina dan mencapai pemulihan damai," demikian bunyi pernyataan resmi Kemlu Korsel dilansir The Guardian.

    Sebagai informasi, hubungan antara Ukraina dan Korsel saat ini sedang memanas. Sebab, beberapa waktu lalu, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, tiba-tiba membeberkan informasi bahwa Korsel telah membantu pengiriman tahanan perang Korea Utara dari Ukraina ke wilayahnya. Padahal, kedua negara sudah sepakat akan merahasiakan hal tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More