Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Alasan Supermarket Menaruh Permen dan Cokelat di Dekat Meja Kasir
ilustrasi wanita belanja di supermarket (pexels.com/Gera Cejas)
  • Supermarket menempatkan permen dan cokelat dekat kasir untuk memicu pembelian impulsif, karena produk murah dan mudah diambil tepat sebelum pembayaran.
  • Waktu menunggu dalam antrean memberi konsumen paparan berulang terhadap camilan kecil, sementara ukurannya membuat tambahan belanja terasa tidak terlalu membebani total pengeluaran.
  • Produk manis juga menawarkan kesenangan kecil setelah berbelanja; dengan arus pembeli tinggi di kasir, tambahan sederhana ini membantu meningkatkan nilai transaksi supermarket.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah sadar kalau area dekat meja kasir supermarket hampir selalu dipenuhi permen, cokelat, atau camilan berukuran kecil? Penempatan tersebut bukan sekadar karena rak lain sudah penuh, melainkan bagian dari strategi penjualan yang memanfaatkan perilaku konsumen ketika menunggu giliran membayar. Barang yang awalnya gak masuk daftar belanja pun akhirnya terasa menarik untuk ikut masuk keranjang.

Strategi tersebut terlihat sederhana, tetapi cukup efektif karena konsumen berada pada tahap terakhir dari perjalanan belanja. Setelah berkeliling mencari berbagai kebutuhan, perhatian terhadap anggaran dan daftar belanja bisa mulai berkurang sehingga keputusan spontan lebih mudah muncul. Nah, supaya gak terus penasaran setiap kali melihat deretan cokelat di depan kasir, yuk pahami alasan supermarket memilih lokasi tersebut.

1. Mendorong terjadinya pembelian impulsif

ilustrasi wanita belanja di supermarket (pexels.com/Gera Cejas)

Permen dan cokelat termasuk produk yang mudah dibeli secara spontan karena harganya relatif terjangkau dan gak membutuhkan banyak pertimbangan. Ketika produk tersebut terlihat saat mengantre, konsumen memiliki cukup waktu untuk memperhatikan kemasan, varian rasa, sampai promosi yang tersedia. Kondisi ini membuka peluang munculnya keputusan membeli meski barang tersebut sebelumnya gak masuk daftar belanja.

Penempatan di dekat kasir juga membuat jarak antara munculnya keinginan dan proses pembayaran menjadi sangat pendek. Konsumen cukup mengambil produk dari rak, meletakkannya bersama belanjaan lain, lalu membayarnya beberapa saat kemudian. Mekanisme sederhana tersebut membuat permen dan cokelat cocok menjadi produk untuk mendorong pembelian impulsif pada tahap terakhir perjalanan belanja.

2. Memanfaatkan waktu tunggu konsumen

ilustrasi bisnis toko (pexels.com/Caio)

Antrean kasir menciptakan waktu tunggu yang membuat perhatian konsumen gak lagi sepenuhnya tertuju pada kebutuhan utama. Saat keranjang sudah terisi dan aktivitas mencari barang selesai, pandangan cenderung beralih menuju benda yang berada di sekitar antrean. Rak berisi permen dan cokelat kemudian menjadi objek yang mudah memperoleh perhatian karena ditempatkan tepat dalam jangkauan pandangan.

Semakin lama antrean bergerak, semakin besar pula kesempatan konsumen melihat berbagai produk kecil tersebut berulang kali. Paparan yang terjadi selama beberapa menit dapat memunculkan rasa tertarik terhadap camilan yang sebelumnya gak terpikir untuk dibeli. Supermarket akhirnya dapat mengubah waktu tunggu yang pasif menjadi kesempatan tambahan untuk meningkatkan transaksi.

3. Mengandalkan daya tarik produk berukuran kecil

ilustrasi produk camilan (pexels.com/Cemrecan Yurtman)

Ukuran permen dan cokelat yang relatif kecil membuat keduanya praktis ditempatkan pada ruang terbatas di sekitar kasir. Supermarket dapat memajang cukup banyak jenis produk tanpa membutuhkan rak sebesar area kebutuhan rumah tangga atau bahan makanan pokok. Konsumen pun dapat mengambilnya dengan mudah tanpa harus meninggalkan antrean.

Ukuran kecil juga membuat tambahan barang tersebut terasa gak terlalu signifikan dibanding keseluruhan isi keranjang belanja. Seseorang yang sudah membeli banyak kebutuhan mungkin menganggap satu batang cokelat sebagai tambahan sederhana yang gak terlalu memengaruhi total pengeluaran. Persepsi tersebut dapat mengurangi pertimbangan panjang sebelum konsumen memutuskan untuk memasukkannya ke dalam belanjaan.

4. Menawarkan hadiah kecil setelah berbelanja

ilustrasi produk makanan (pexels.com/Laura James)

Aktivitas belanja kebutuhan rumah tangga dapat terasa melelahkan karena melibatkan banyak keputusan dalam satu waktu. Setelah membandingkan harga, memilih produk, dan berkeliling dari satu lorong ke lorong lainnya, konsumen bisa tertarik memberikan hadiah kecil kepada diri sendiri. Permen atau cokelat menjadi pilihan yang mudah karena dapat langsung dinikmati tanpa persiapan rumit.

Keinginan memperoleh kesenangan sederhana tersebut semakin relevan ketika produk manis muncul tepat menjelang proses pembayaran. Konsumen dapat memandang satu cokelat sebagai bentuk penghargaan kecil setelah menyelesaikan urusan belanja yang panjang. Karena itulah, karakter produk yang identik dengan kesenangan sesaat cocok dengan kondisi psikologis konsumen saat berada di ujung perjalanan belanja.

5. Meningkatkan nilai transaksi dengan tambahan sederhana

ilustrasi transaksi digital (pexels.com/iMin Technology)

Supermarket gak selalu harus membuat konsumen membeli barang mahal untuk meningkatkan nilai setiap transaksi. Produk berharga relatif rendah yang dibeli sebagai tambahan juga dapat memberi kontribusi ketika pembelian serupa terjadi pada banyak konsumen setiap hari. Area kasir pun menjadi titik strategis untuk menawarkan satu atau dua barang tambahan sebelum transaksi benar-benar selesai.

Strategi ini juga memungkinkan supermarket memanfaatkan ruang kecil yang memiliki arus konsumen sangat tinggi. Hampir setiap pembeli yang melakukan pembayaran harus melewati area kasir sehingga produk di sana memperoleh paparan besar dibanding sejumlah sudut lain di toko. Permen dan cokelat akhirnya bukan sekadar camilan pelengkap, tetapi bagian dari strategi penjualan untuk mengoptimalkan nilai transaksi.

Penempatan permen dan cokelat dekat meja kasir menunjukkan bahwa tata letak supermarket dapat dirancang berdasarkan kebiasaan konsumen saat berbelanja. Mulai dari pembelian impulsif, waktu menunggu, sampai keinginan memberi hadiah kecil kepada diri sendiri dapat dimanfaatkan untuk mendorong tambahan transaksi. Jadi, saat tangan tiba-tiba tertarik mengambil cokelat ketika mengantre, bisa jadi keputusan tersebut memang sudah diperhitungkan melalui strategi penempatan produk.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article