TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Surplus Perdagangan Indonesia ke Swiss Mencapai Rp16,1 Triliun

Berikut 10 komoditas andalan yang diekspor ke Swiss

Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein bersama dengan Ketua Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid dan Ketua Kadin Indonesia Komitee Swiss dan Liechtenstein, Francis Wanandi, saat kunjungan kerja ke Swiss dalam rangka implementasi Indonesia-EFTA CEPA dan kerja sama pendidikan vokasi dan inovasi antara Swiss - Indonesia (5-12 November 2021) (Dok. KBRI Bern)

Jakarta, IDN Times – Surplus neraca perdagangan Indonesia-Swiss untuk periode Januari-September 2021 mencapai 1,13 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp16,1 triliun. Adapun total nilai ekspor Januari-September 2021 sebesar 1,41 miliar dolar AS sekitar Rp19,99 triliun dan impornya untuk periode yang sama mencapai 273,89 juta dolar AS atau sekitar Rp3,89 triliun.

Dikutip dari keterangan pers KBRI Bern, nilai ekspor Indonesia ke Swiss pada triwulan III (Juli-September 2021) mencapai 432,72 juta dolar AS atau sekitar Rp6,2 triliun dan impor dari Swiss sebesar 86,94 juta dolar AS atau sekitar Rp1,2 triliun.

Sebelumnya, pada triwulan II (April-Juni 2021), nilai ekspor Indonesia ke Swiss mencapai 711 juta dolar AS atau sekitar Rp10,2 triliun dan impor dari Swiss sebesar 90,88 juta dolar AS atau sekitar Rp1,3 triliun.

Baca Juga: Dipaksa Vaksinasi, 3 Pengawal Swiss di Vatikan Resign

1. Ini 10 komoditas andalan yang diekspor Indonesia

Data 10 Komoditas utama Triwulan I, II dan III 2021 (dalam US$ juta) (Dok. KBRI Bern)

Surplus neraca perdagangan Indonesia utamanya dipengaruhi oleh kontribusi dari ekspor 10 komoditas, yakni logam mulia, perhiasan/permata, alas kaki, produk tekstil bukan rajutan, produk tekstil rajutan, perlengkapan elektrik, furnitur, kopi, mesin turbin/suku cadang, minyak atsiri, dan kimia organik.

Surplus diperkirakan akan terus berlanjut seiring pertumbuhan ekonomi Swiss yang cukup kuat pada 2021. Swiss State Secretariat for Economic Affairs memperkirakan, ekonomi dalam negeri akan tumbuh sebesar 3,2 persen pada 2021 dan diprediksi akan tumbuh hingga 3,6 persen pada 2022.

Kendati demikian, Swiss Economic Institute ETH Zurich (KOF) memprediksi bahwa ekonomi Swiss baru akan sepenuhnya normal pada 2023. Dalam hal ini, tingkat inflasi dan masalah global supply chain diprediksi berpotensi akan memperlambat ekonomi Swiss.

2. Inflasi Swiss bisa mempengaruhi neraca perdagangan

Ilustrasi Inflasi. IDN Times/Arief Rahmat

KOF juga melaporkan, inflasi di Swiss naik sebesar 0,5 persen dalam beberapa bulan terakhir, diperkirakan akan naik 0,8 persen pada 2022 dan 0,4 persen pada 2023. Pendorong utama inflasi di Swiss adalah anjloknya harga perjalanan udara, paket liburan dan akomodasi hotel akibat pandemik COVID-19, serta kenaikan harga pada sektor energi.

Supply chain bottlenecks yang terjadi saat ini berpotensi mempengaruhi arus perdagangan kita ke Swiss, utamanya dapat mempengaruhi harga barang dan terlambatnya pengiriman, sehingga memunculkan kekhawatiran adanya pengalihan jalur produsen. Yang perlu diantisipasi adalah produk mesin turbin dan suku cadang, dan perlengkapan elektronik“, ujar Dubes RI untuk Swiss dan Liechtenstein, Muliaman Hadad.

Produk mesin turbin dan suku cadang  pada triwulan III 2021 naik sebesar 10 persen dibanding triwulan II. Demikian juga dengan produk perlengkapan elektronik dan tekstil rajutan, masing-masing naik sebesar 9,8 persen dan 6,4 persen.

Baca Juga: Referendum Swiss: Mayoritas Dukung Pernikahan Sesama Jenis

Verified Writer

Andi IR

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya