Apa Itu Flipping? Strategi Cepat Untung tapi Penuh Risiko

- Flipping adalah strategi investasi jangka pendek dengan membeli aset lalu menjualnya kembali untuk meraih keuntungan.
- Flipping properti dilakukan dengan dua pola: tanpa perbaikan fisik dan quick fix flip. Risiko terjadi jika pasar berubah tiba-tiba.
- Wholesaling juga masuk dalam skema flipping, tidak hanya pada properti tetapi juga di pasar saham melalui IPO flipping.
Jakarta, IDN Times - Flipping disebut sebagai strategi investasi jangka pendek yang dilakukan dengan membeli aset lalu menjualnya kembali dalam waktu singkat untuk meraih keuntungan. Strategi ini kerap dikaitkan dengan sektor properti dan saham penawaran umum perdana (IPO).
Meski begitu, flipping juga dapat diterapkan pada aset lain seperti kendaraan hingga aset digital. Keberhasilan flipping ditentukan oleh kondisi pasar, ketepatan waktu, dan strategi yang digunakan, dengan risiko penurunan nilai jika aset belum sempat dijual.
1. Flipping properti dan dua pola yang umum dilakukan

Dilansir Investopedia, dalam praktiknya, flipping paling sering terjadi di sektor properti. Skema ini dilakukan dengan membeli properti dan menjualnya kembali dalam jangka waktu relatif singkat, umumnya kurang dari satu tahun, untuk memperoleh selisih harga.
Terdapat dua pola flipping properti yang umum dikenal. Pertama, investor membeli properti di wilayah dengan pertumbuhan pasar yang cepat lalu menjualnya kembali tanpa melakukan perbaikan fisik. Pola ini lebih mengandalkan momentum dan kondisi pasar dibandingkan peningkatan nilai properti itu sendiri.
Pola kedua dikenal sebagai quick fix flip atau reno flip. Pada skema ini, investor melakukan renovasi atau perbaikan kosmetik pada properti yang dinilai masih undervalued, dengan tujuan menaikkan harga jual sesuai preferensi pasar.
2. Risiko flipping di pasar yang berubah cepat

Flipping juga dikenal memiliki risiko yang tidak kecil. Flipping di pasar yang sedang panas dinilai lebih berisiko karena kondisi tersebut bisa berubah secara tiba-tiba. Jika pasar melemah sebelum properti terjual, investor berpotensi menahan aset yang nilainya terus menurun.
Sementara itu, flipping melalui renovasi cenderung tidak sepenuhnya bergantung pada timing pasar, meski tetap dipengaruhi kondisi ekonomi.
Dalam praktik reno flip, investor harus memastikan nilai jual properti setelah renovasi mampu menutup biaya pembelian, perbaikan, serta biaya transaksi. Strategi ini menuntut pemahaman pasar properti yang memadai agar tetap menghasilkan keuntungan.
3. Wholesaling ikut masuk dalam skema flipping

Flipping properti juga kerap dikaitkan dengan praktik wholesaling. Dalam skema ini, seseorang mengikat properti undervalued melalui kontrak pembelian dengan masa inspeksi, lalu mengalihkan hak kontrak tersebut kepada investor lain dengan imbalan tertentu.
Peran wholesaler tidak selalu berujung pada proses flipping langsung oleh pembeli akhir. Selain mencari properti yang berpotensi di-flip, wholesaler juga membidik properti penghasil pendapatan maupun peluang apresiasi jangka panjang bagi investor.
4. IPO flipping dan fenomena lonjakan harga awal

Selain properti, flipping juga dikenal di pasar saham melalui IPO flipping. Praktik ini dilakukan dengan menjual saham dalam hitungan hari atau minggu setelah perusahaan melantai di bursa.
Investor memanfaatkan lonjakan harga awal atau IPO pop yang kerap terjadi pada saham-saham yang diminati pasar. Meski praktik ini dibatasi melalui aturan lock-up dan pedoman bagi investor pemula, keberadaan flipper tetap dibutuhkan untuk menciptakan likuiditas dan aktivitas perdagangan pasca-IPO.
Secara historis, sejumlah saham tercatat mencapai harga tertinggi pada fase awal setelah IPO sebelum kembali bergerak lebih terbatas dalam jangka menengah hingga panjang.

















