Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Beri Sanksi Baru ke Iran, Sasar 17 Kapal Tanker Minyak Ilegal
Ilustrasi kapal tanker yang berlayar di laut terbuka (pexels.com/Luis Morales Torres)
  • AS menetapkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran pada 8 Oktober 2026, menyasar 17 kapal tanker, perantara logistik, perusahaan, dan individu yang terkait perdagangan energi.
  • Departemen Keuangan AS memblokir armada bayangan Iran yang mengangkut minyak dan petrokimia, termasuk kapal yang mematikan pelacak otomatis; sekitar 20 juta barel minyak tertahan.
  • Sanksi ini bagian dari Operation Economic Outcast sejak Agustus 2026 untuk membatasi pendanaan IRGC; pelaku usaha diberi waktu hingga 23 Oktober menghentikan transaksi terlarang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump resmi menetapkan paket sanksi ekonomi baru terhadap Iran pada Kamis (8/10/2026). Aturan perdagangan dan moneter ini menyasar belasan kapal tanker, perantara logistik, serta sejumlah individu asing.

Langkah Washington ini membatasi ekspor energi cair yang menopang pendapatan utama Teheran di pasar global. Regulasi ketat ini menjadi instrumen terbaru AS dalam memperluas perang ekonomi terhadap Iran.

1. AS sita 17 kapal tanker Iran untuk hentikan penyelundupan minyak

ilustrasi kapal tanker, kapal laut, perairan (pexels.com/Edu Raw)

Departemen Keuangan AS menyita dan memblokir 17 kapal tanker yang mengangkut minyak mentah, produk olahan minyak bumi, serta petrokimia milik Iran. Armada ini beroperasi menggunakan izin dari berbagai negara agar rute pelayarannya sulit dilacak.

Kapal-kapal tua tersebut termasuk dalam "armada bayangan" yang kerap mematikan alat pelacak posisi otomatis demi menghindari pengawasan internasional. Langkah ini berhasil menahan sekitar 20 juta barel minyak mentah di luar area pelabuhan muat.

"Tindakan ini menjadi pukulan telak bagi sarana laut ilegal Iran karena melumpuhkan sebagian besar armada bayangan," kata pejabat Departemen Keuangan AS, dilansir Arab News.

2. Sanksi baru AS menyasar jaringan bisnis dan perantara minyak Iran

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Shaah Shahidh)

Penegakan hukum ini turut membidik perusahaan cangkang dan individu yang mengelola transaksi komoditas. Sanksi dijatuhkan kepada dua perusahaan pengapalan di Mumbai beserta para eksekutifnya yang terlibat dalam rantai logistik petrokimia.

Secara terpisah, sanksi juga menjerat sepuluh badan usaha dan enam perorangan yang menyalurkan jutaan dolar ke Iran. AS memberi batas waktu hingga 23 Oktober 2026 bagi para pelaku bisnis internasional untuk menyelesaikan transaksi dan menghentikan kerja sama terlarang tersebut. Kebijakan ini bertujuan menutup celah pemalsuan dokumen pengiriman dan pencucian uang Teheran.

"AS memutus dana Teheran yang dipakai membiayai perang kawasan, dan kami terus membongkar pihak yang memfasilitasi penjualan minyak rezim," ujar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

3. AS luncurkan Operation Economic Outcast untuk putus pendanaan militer Iran

ilustrasi bendera Amerika Serikat (vecteezy.com/Chaikrit Sutthi)

Sanksi energi ini merupakan bagian dari strategi Operation Economic Outcast yang telah berjalan sejak Agustus 2026. Kampanye terpadu ini bertujuan membendung aliran modal bagi entitas militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Pembekuan aset tersebut difokuskan untuk memotong jalur pendanaan konflik regional, perakitan rudal balistik, serta serangan siber.

Operasi ini juga memperbesar risiko sanksi lanjutan bagi para mitra dagang Teheran di berbagai negara. Korporasi dunia yang nekat membantu transaksi terlarang kini terancam kehilangan akses sepenuhnya dari sistem perbankan internasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article